Jumat, 08 AGUSTUS 2025 • 15:44 WIB

Kabinet Israel Setujui Pengambilalihan Gaza, Warga Sipil Terancam Diungsikan Paksa di Tengah Kelaparan

Author

Warga Palestina membawa pasokan bantuan yang masuk ke Gaza melalui Israel, di Beit Lahia di Jalur Gaza utara. (REUTERS/Dawoud Abu Alkas)

INDOZONE.ID - Kabinet Keamanan Israel secara resmi menyetujui keputusan pengambilalihan Gaza yang diusulkan oleh Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, pada Jumat (08/08/2025) dini hari waktu setempat. 

Israel mengakui keputusan ini sebagai bagian dari strategi militer untuk mengalahkan Hamas dan menciptakan zona aman. 

Walaupun begitu, pendudukan militer Israel di Gaza menandai eskalasi besar dalam perang Israel terhadap Palestina.

Hal tersebut diperkirakan akan memicu pengungsian paksa ribuan warga sipil di tengah krisis kelaparan yang melanda akibat blokade militer Israel dan kelelahan akibat perang.

Baca juga: Jembatan Gantung Putus di Cina, Lima Orang Tewas dan Puluhan Terluka

Keputusan yang disetujui Kabinet Keamanan Israel ini mencakup rencana pengambilalihan Gaza dalam dua tahap: pengerahan pasukan darat ke wilayah Gaza yang belum sepenuhnya hancur, kemudian mengungsikan sebagian besar penduduknya. 

Jurnalis Axios, Ravid, yang pertama kali melaporkan berita tersebut, Barak Ravid, mengutip seorang pejabat yang tidak disebutkan namanya, juga mengatakan hal yang sama. 

“Pengepungan akan diperlakukan terhadap militan Hamas yang tersisa di Gaza, dan secara bersamaan, serangan darat akan diluncurkan di kota tersebut,” tulis Ravid di akun X miliknya. 

Baca juga: Trump Berpotensi Bertemu Putin Pekan Depan, Bahas Rencana Perdamaian Ukraina

Ia melaporkan bahwa operasi ini akan mencakup pengungsian paksa seluruh warga sipil Palestina dari wilayah utara Gaza ke kamp-kamp pusat di Gaza Tengah sebelum tanggal 7 Oktober. 

Dalam rapat kabinet keamanan yang digelar pada hari Kamis (07/08/2025) malam, Netanyahu mengatakan pada awak media bahwa Israel memang sudah berencana untuk mengambil alih seluruh Gaza.

Tujuannya, kata dia, memastikan keamanan mereka dengan menghapus Hamas dari Gaza, bukan untuk memerintah disana. 

Ia menegaskan bahwa setelah operasi militer dijalankan, Gaza akan diserahkan pada pasukan negara Arab. 

Baca juga: Jasad Pria yang Hilang Selama 28 Tahun Sudah Ditemukan Dalam Kondisi Utuh di Gletser, Kok Bisa?

“Kami memang sudah berniat (menguasai seluruh Gaza), dengan tujuan untuk menjamin keamanan kami, menyingkirkan Hamas dari sana, dan memungkinkan penduduknya terbebas dari Gaza.” ujar Benjamin Netanyahu, dalam wawancaranya dengan Fox news.  

Merespons pernyataan ini, Osama Haden, ketua Hamas, menangkal balik pernyataan ini dengan mengatakan bahwa tidak ada satupun pemerintahan Arab yang akan bekerja sama dengan Israel dalam menguasai Gaza.

Keputusan militer terbaru ini, yang mengancam pengungsian paksa ribuan warga sipil Palestina di Gaza, akan semakin memperburuk krisis kemanusiaan yang telah lama berlangsung. 

Warga yang masih bertahan dilaporkan mengalami kelelahan ekstrim akibat perang, kelaparan parah, dan malnutrisi akut akibat blokade bantuan kemanusiaan yang diberlakukan Israel. 

Baca juga: 23 Tersangka Didakwa atas Runtuhnya Gedung Pencakar Langit di Bangkok Usai Gempa

WHO mencatat setidaknya 99 laporan kematian akibat malnutrisi dalam krisis pangan Gaza, walaupun angka sesungguhnya bisa jadi lebih besar.  

Sementara itu, menurut laporan rumah sakit setempat, serangan udara dan penembakan oleh militer Israel di Gaza Selatan pada kamis (07/08/2025) mengakibatkan setidaknya 42 warga tewas. 

Diantara jumlah itu, 13 warga yang sedang berusaha mengakses bantuan di zona militer Israel. 

Keputusan pengambilalihan Gaza City oleh Israel ini menimbulkan respon yang beragam dari berbagai pihak. Diantaranya adalah Letnan Jenderal Eyal Zamir, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel (IDF) yang meragukan keputusan ini. 

Baca juga: 23 Tersangka Didakwa atas Runtuhnya Gedung Pencakar Langit di Bangkok Usai Gempa

Dalam laporan Associated Press, ia memperingatkan bahwa keputusan ini dapat beresiko menyeret Israel ke dalam ‘lubang hitam’ pemberontakan berkepanjangan, tanggung jawab kemanusiaaan besar, dan membahayakan 20 sandera yang masih hidup. 

Sebagian besar menteri dalam kabinet Benjamin Netanyahu juga menilai rencana menguasai Gaza tidak akan membantu mencapai tujuan utama mereka: mengalahkan Hamas dan mengembalikan para sandera yang masih ditahan di Gaza. 

Mengutip dari laporan Al Jazeera, banyak keluarga sandera yang juga menentang rencana ini. Mereka khawatir eskalasi lebih lanjut akan membahayakan nyawa orang-orang yang mereka cintai. 

Baca juga: Perancis Dilanda Kebakaran Hebat, Api Lahap Area Seluas Kota Paris

Menteri Muda Energi Inggris, Miatta Fahnbulleh, menyatakan harapannya agar Israel mau mempertimbangkan kembali keputusannya menguasai Gaza. Di waktu yang sama, Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, juga turut memberikan respons. 

Ia menyebut keputusan mengambil alih Gaza ini sebagai langkah yang ‘keliru’. Ia juga mendesak Israel agar mempertimbangkan kembali keputusan tersebut. 

“Tindakan ini tidak akan membawa akhir bagi konflik, maupun membantu membebaskan para sandera. Justru, ini hanya akan membawa pertumpahan darah yang lebih besar,” ujar Starmer. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Al Jazeera, The Guardian

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU