INDOZONE.ID - Kebijakan tarif impor dari Amerika Serikat mulai berdampak terhadap sektor perikanan Indonesia, khususnya petambak udang.
Salah satunya dirasakan oleh Denny Leonardo, seorang petambak asal Jawa Barat yang harus menunda rencana ekspansi bisnisnya.
Denny awalnya berencana menambah 100 kolam baru di peternakannya yang sudah memiliki 150 kolam.
Namun, sejak munculnya ancaman tarif dari Presiden AS Donald Trump pada April lalu, pesanan dari AS mulai menyusut. Hal ini memaksanya untuk meninjau ulang rencana pengembangan usahanya.
Meski tarif terbaru yang akan berlaku minggu ini hanya sebesar 19% lebih rendah dibanding tarif awal sebesar 32% kerugian tetap tak terelakkan bagi para pelaku usaha udang.
“Karena AS mulai menekan ekspor dari Indonesia, kini banyak pelaku usaha mencari pasar baru untuk mengurangi ketergantungan,” ujar Leonardo, petani udang berusia 30 tahun.
Baca juga: Menelisik Potensi Udang Vaname di Desa Tedunan Kabupaten Demak
Ekspor Udang Tertekan
Amerika Serikat selama ini menjadi pasar ekspor utama udang Indonesia. Sekitar 60% dari total ekspor udang nasional senilai USD 1,68 miliar (sekitar Rp27 triliun) tahun lalu dikirim ke Negeri Paman Sam.
Artinya, perubahan kebijakan dari AS berpotensi mengganggu stabilitas industri perikanan tanah air.
Ketua Asosiasi Petambak Udang Indonesia, Andi Tamsil, menyebutkan bahwa tarif impor sebesar 19% bisa menyebabkan penurunan ekspor hingga 30 persen jika dibandingkan dengan tahun lalu.
Kondisi ini juga mengancam penghidupan lebih dari satu juta pekerja yang menggantungkan hidup dari sektor udang.
Baca juga: China Tanggapi Kritik AS soal Ekspor: Kami Fokus Bangun Ekonomi Berkelanjutan
Situasi makin rumit karena meski sudah tercapai kesepakatan tarif baru pada Juli lalu, sebagian besar pembeli dari AS masih belum kembali melakukan pemesanan.
Hal ini disampaikan oleh Budhi Wibowo, Ketua Asosiasi Bisnis Perikanan Indonesia. Budhi juga menambahkan, bahwa Indonesia kini kalah saing dengan Ekuador yang hanya dikenai tarif impor sebesar 15%.
Ekuador saat ini merupakan produsen udang budidaya terbesar di dunia dan menjadi pesaing Indonesia di pasar global.
China Jadi Tujuan Ekspor Udang Indonesia
Di tengah tekanan tersebut, China mulai dilirik sebagai pasar alternatif. Meski selama ini eksportir Indonesia lebih mengandalkan pasar AS karena nilai jual yang lebih tinggi, kini China dinilai punya potensi besar.
China sendiri merupakan pengimpor udang terbesar di dunia berdasarkan volume. Sebelum adanya tarif impor dari AS, kontribusi China terhadap ekspor seafood Indonesia sangat kecil, hanya sekitar 2 persen.
Namun kini, pelaku industri mulai serius menjajaki peluang pasar di Negeri Tirai Bambu.
Baca juga: Fenomena Unik di China: Anak Muda Banyak yang Ngemut Empeng untuk Redakan Stres!
Pada bulan Juni lalu, Andi Tamsil bersama delegasi perwakilan industri udang melakukan kunjungan ke Guangzhou, China Selatan.
Dalam kunjungan tersebut, mereka bertemu dengan importir, pemilik restoran besar, hingga platform agri-komersial untuk memperkenalkan produk udang Indonesia.
Rencana kunjungan lanjutan ke China juga sedang dipersiapkan. Upaya ini diharapkan dapat membuka jalan bagi kelangsungan industri udang nasional di tengah tekanan tarif yang masih berlangsung dari pasar Amerika Serikat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Reuters