Rabu, 23 JULI 2025 • 15:35 WIB

Donald Trump Pertimbangkan Kunjungan ke China untuk Bertemu Presiden Xi Jinping

Author

Presiden Amerika Serikat Donald Trump berbincang dengan Presiden China Xi Jinping saat Xi tiba untuk makan malam di awal pertemuan puncak mereka di kediaman Trump, Mar-a-Lago, di West Palm Beach, Florida, 6 April 2017. (Reuters/Carlos Barria)

INDOZONE.ID -  Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengisyaratkan bahwa dirinya tengah mempertimbangkan kunjungan ke China dalam waktu dekat untuk bertemu langsung dengan Presiden Xi Jinping. 

Rencana ini menjadi indikasi adanya pergeseran arah dalam hubungan dua kekuatan besar dunia yang selama ini diwarnai ketegangan dagang dan geopolitik.

"Presiden Xi telah mengundang saya ke China, dan kemungkinan besar kami akan mengatur pertemuan itu dalam waktu yang tidak terlalu lama," ujar Trump kepada awak media di Gedung Putih saat menerima kunjungan Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr.

Baca juga: Trump Umumkan Kesepakatan Dagang Besar dengan Jepang, Termasuk Tarif Balasan 15 Persen

Lebih lanjut, Trump menyatakan bahwa hubungan AS-China saat ini berjalan “sangat baik,” dan menegaskan bahwa hubungan pribadi antara dirinya dan Xi tetap “sehat”. 

Kunjungan Trump ke Beijing ini, jika terwujud, akan menjadi pertemuan puncak AS-China pertama sejak Trump menjabat kembali sebagai presiden untuk periode keduanya pada Januari lalu.

Meski belum ada jadwal resmi yang diumumkan, beberapa sumber menyebutkan bahwa para pejabat dari kedua negara tengah membahas rencana kunjungan sebagai bagian dari rangkaian perjalanan Trump ke Asia akhir tahun ini. 

Baca juga: Donald Trump Klaim Lokasi Nuklir Iran Hancur, Laporan Intelijen Sebut Masih Bisa Dipulihkan

Salah satu opsi adalah menggelar pertemuan di sela-sela KTT APEC di Korea Selatan pada 30 Oktober hingga 1 November. 

Alternatif lainnya adalah kunjungan Trump ke Beijing pada 3 September untuk menghadiri peringatan 80 tahun berakhirnya Perang Dunia II, sebuah acara penting yang juga diperkirakan dihadiri Presiden Rusia Vladimir Putin.

Pertemuan itu juga bisa menjadi momen penting bagi Trump dan Xi untuk memperbarui komunikasi strategis mereka secara langsung, terutama setelah sekian lama hanya berinteraksi melalui jalur diplomatik formal.

Pernyataan Trump ini juga muncul bersamaan dengan klaimnya bahwa pemerintahannya berhasil “menjauhkan Filipina dari pengaruh China”. 

Meski begitu, ia menyampaikan bahwa tidak masalah jika negara lain tetap menjalin hubungan baik dengan Beijing, selama hal itu tidak mengganggu kepentingan AS.

"Filipina sempat condong ke China, tapi kami berhasil membalikkan keadaan dengan sangat cepat," ujarnya. 

"Saya tidak masalah jika dia (Marcos Jr.) menjaga hubungan dengan China, karena kami juga sedang menjalin relasi yang baik dengan mereka."

Trump juga menyebutkan bahwa ia ingin memastikan hubungan Trump dan Xi Jinping tetap terjaga dengan baik sebagai bagian dari strategi diplomasi pribadi yang ia jalankan. 

Dalam beberapa pekan terakhir, Trump diketahui melunak terhadap China, termasuk dengan menghentikan rencana pemberlakuan tarif baru. Langkah ini diambil sebagai upaya untuk menstabilkan hubungan bilateral yang sempat memanas.

Namun, AS tetap mendorong penyelesaian sejumlah isu yang menjadi sumber ketegangan, termasuk kapasitas produksi industri China yang berlebihan, keamanan kawasan, serta ekspor zat fentanyl.

Trump juga mengusulkan tarif dasar universal sebesar 10 persen untuk semua barang impor dan tarif sebesar 55 persen khusus bagi produk dari China. Ia menetapkan tenggat waktu hingga 12 Agustus untuk mencapai kesepakatan dagang yang lebih permanen antara kedua negara.

Selain urusan perdagangan, pertemuan puncak AS-China yang dipertimbangkan ini juga diharapkan membahas berbagai isu sensitif lainnya, mulai dari dukungan Beijing terhadap Rusia, larangan keluar bagi warga AS di China, hingga meningkatnya kehadiran militer China di kawasan Indo-Pasifik. 

Masalah seperti tekanan terhadap Taiwan dan perdagangan opioid ilegal juga masih menjadi perhatian serius.

Meski sejumlah ketegangan tetap ada, Trump menunjukkan itikad baik untuk terus berdialog dan mencari solusi bersama dengan Xi. Hubungan Trump dan Xi Jinping yang disebutnya "tetap sehat" menjadi modal penting dalam menjembatani berbagai perbedaan yang ada.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Reuters

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU