Minggu, 13 JULI 2025 • 09:45 WIB

Rusia Peringatkan AS, Korea Selatan, dan Jepang agar Tak Bentuk Aliansi Keamanan Anti Korut

Author

Lavrov berjabat tangan dengan pejabat Korea Utara setibanya di bandara Pyongyang pada Jumat, 11 Juli 2025. (Russian News Agency)

INDOZONE.ID - Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, secara terbuka memperingatkan Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Jepang untuk tidak membentuk aliansi keamanan anti-Korut yang dianggap bisa memperburuk ketegangan di Semenanjung Korea. 

Peringatan ini disampaikan saat kunjungan resminya ke Korea Utara untuk memperkuat hubungan bilateral, terutama dalam bidang militer dan ekonomi.

Dalam pertemuannya dengan Menlu Korea Utara, Choe Son Hui, Lavrov menyoroti peningkatan kerja sama militer antara AS, Korea Selatan, dan Jepang.

Baca juga: Korea Selatan Hentikan Siaran Propaganda Lewat Pengeras Suara ke Korea Utara

Ia menuduh ketiga negara tersebut tengah melakukan pembangunan kekuatan militer secara besar-besaran yang mengarah pada pembentukan aliansi keamanan anti-Korut.

"Kami memperingatkan agar hubungan trilateral ini tidak berubah menjadi aliansi militer yang ditujukan terhadap pihak mana pun, termasuk Korea Utara dan tentu saja Rusia," kata Lavrov kepada media, sebagaimana dilansir kantor berita Rusia, Tass.

Pernyataan Lavrov ini menjadi bagian dari sikap tegas Moskow dalam menjaga kepentingan strategisnya di Asia Timur, sebagai bagian dari kebijakan luar negeri Rusia di kawasan Asia Pasifik.

Baca juga: Rusia Gempur Ukraina dengan 700 Drone usai Trump Janji Kirim Senjata Tambahan

Lavrov tiba di kota pelabuhan Wonsan pada 11 Juli 2025. Hubungan antara Rusia dan Korea Utara semakin erat dalam beberapa tahun terakhir.

Korea Utara dilaporkan telah mengirim amunisi dan personel untuk membantu Rusia dalam perang di Ukraina. Sebagai imbalan, Moskow memberikan bantuan militer dan ekonomi.

Kerja sama ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan negara-negara tetangga, terutama mengenai kemungkinan transfer teknologi militer sensitif yang dapat memperkuat program nuklir dan misil Pyongyang.

Lavrov menyatakan bahwa Rusia memahami alasan Korea Utara dalam mengembangkan senjata nuklir sebagai bentuk pertahanan terhadap ancaman eksternal, khususnya dari AS.

"Teknologi yang digunakan Korea Utara merupakan hasil kerja ilmuwan mereka sendiri. Kami menghormati keputusan mereka dan memahami alasan mengapa mereka mengembangkan kemampuan nuklir," ujar Lavrov.

Dari sisi Korea Utara, Menlu Choe menyatakan dukungan total terhadap upaya Rusia dalam menghadapi Ukraina. Ia menyebut hubungan antara Pyongyang dan Moskow sebagai “aliansi tak terkalahkan”.

Kehadiran Lavrov di Korea Utara menandakan peran aktif Rusia dalam dinamika keamanan regional Asia. 

Dalam pandangan Moskow, kestabilan kawasan tidak boleh didikte oleh satu blok kekuatan militer semata, apalagi jika diarahkan untuk melawan negara-negara tertentu seperti Korea Utara atau bahkan Rusia sendiri.

Langkah Rusia ini juga bisa dilihat sebagai bagian dari strategi lebih luas untuk mengimbangi pengaruh AS dan sekutunya di kawasan Asia Timur, khususnya setelah sejumlah latihan militer besar-besaran dilakukan di wilayah tersebut.

Pertemuan Lavrov dan Choe berlangsung di Wonsan, kota yang kini menjadi pusat pengembangan wisata di Korea Utara. Kim Jong Un disebut tengah gencar mendorong sektor pariwisata untuk mendongkrak ekonomi domestik.

Lavrov mengatakan, "Saya yakin turis Rusia akan semakin tertarik datang ke sini. Kami akan mendukung hal ini dan menciptakan kondisi yang memungkinkan, termasuk dari segi penerbangan," ujarnya.

Namun demikian, masa depan kawasan wisata Wonsan-Kalma masih belum pasti, mengingat Korea Utara belum membuka kembali perbatasannya secara penuh kepada wisatawan asing.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Russian News Agency

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU