Serangan drone rusia hantam kota Kiev, Ukraina. (Gleb Garanich)
INDOZONE.ID - Berawal dari invasi besar-besaran yang dilancarkan Rusia ke Ukraina pada Februari 2022– sebagai bentuk eskalasi dari konflik yang telah berlangsung sejak aneksasi Krimea tahun 2014, perang antara kedua negara ini belum juga menunjukkan tanda-tanda mereda.
Hingga tanggal 19 Juli 2025, tercatat konflik tersebut sudah berlangsung selama 1241 hari, membawa dampak besar tak hanya bagi Rusia dan Ukraina, tetapi juga dinamika geopolitik internasional.
Pada tanggal 18 Juli waktu setempat, mengutip dari al Jazeera, drone dan bom luncur diluncurkan Rusia ke Ukraina di beberapa titik krusial Ukraina.
Serangan ini mengakibatkan beberapa sipil menjadi korban jiwa, beberapa diantaranya adalah masinis kereta api (52 tahun) di wilayah Dnipropetrovsk, wanita lansia (66 tahun) yang terbunuh di dalam rumahnya di Kostiantynivka, dan pria lansia (64 tahun) yang terkena bom luncur yang menyasar gedung di wilayah Zaporizhia, lapor pihak berwenang setempat.
Baca juga: Polda Metro Sebut 6 Hari Lagi Hasil Labfor Diplomat Kemlu Tewas Terungkap
Tak berhenti sampai disitu, Rusia meluncurkan serangan drone masif ke pelabuhan Laut Hitam (Black Sea) milik Ukraina di Odesa. Serangan ini mengakibatkan kebakaran di satu gedung apartemen, lapor Walikota Odesa, Gennadiy Trukhanov ke al Jazeera.
Sebagai balasan, Ukraina meluncurkan serangan balik berupa 10 drone mengarah ke Moskow pada hari Jumat. Serangan ini dapat ditepis oleh pasukan udara Rusia, lapor Walikota Sergei Sobyanin.
Merespon serangan drone Ukraina, otoritas di wilayah Krimea yang dikuasai Rusia mengumumkan pemadaman listrik dan memberlakukan dekrit larangan pada media massa dan pengguna media sosial untuk mempost foto, video atau konten lainnya yang beresiko membocorkan lokasi pasukan Rusia atau detail penyerangan Rusia ke semenanjung Laut Hitam.
Dalam konflik yang terus memanas ini, berbagai negara terus mengerahkan bantuan militer untuk mendukung ukraina menghadapi agresi Rusia. Diantaranya adalah pemerintah Australia yang mengirimkan tank M1A1 Abrams senilai 245 milyar Dollar Australia (Rp. 2,6 Kuadriliun).
Baca juga: Guru Madin di Demak Didenda Rp25 Juta, Wagub Jateng Beri Perlindungan
Sementara itu, Amerika Serikat telah memprioritaskan Jerman daripada Swis dalam urutan pengiriman sistem Patriot pertahanan udara. Hal ini membuat Jerman dapat mengirim 2 baterai Patriot ke Ukraina pada saat ini.
Di sisi lain, para pemimpin Ukraina dan Washington sedang berdiskusi mengenai gabungnya investasi Amerika Serikat ke produksi drone domestik Kyiv’s. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy juga mengabarkan kepada media bahwa ia sedang berdiskusi dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron soal bantuan rudal dan drone pencegah serangan Rusia.
Dalam pembicaraan itu, Macron menyatakan bahwa Prancis siap melatih lebih banyak pilot menggunakan pesawat tempur Mirage. Invasi yang dilakukan Rusia memicu gelombang sanksi internasional yang harus ditanggung negara tersebut.
Pada 19 Juli waktu setempat, Uni Eropa menjatuhkan paket sanksi ke -18 pada Rusia, memfokuskan pada sektor minyak dan energi. Tujuan dari sanksi ini adalah memberikan tekanan ekonomi lanjutan atas perang Rusia di Ukraina.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Al Jazeera