Rabu, 14 MEI 2025 • 18:24 WIB

AS dan China Sepakat Pangkas Tarif Selama 90 Hari, Perang Dagang Mereda Sementara

Author

Uang kertas dolar AS bergambar Benjamin Franklin dan yuan China bergambar Mao Zedong terlihat di antara bendera AS dan China dalam sebuah ilustrasi pada 20 Mei 2019.

INDOZONE.ID - Amerika Serikat dan China akhirnya mencapai kesepakatan tarif terbaru dengan memangkas tarif perdagangan secara signifikan selama 90 hari.

Langkah ini menjadi sinyal positif setelah ketegangan panjang dalam perang dagang antara kedua negara yang selama ini mengguncang pasar global dan mengacaukan rantai pasok internasional.

Kesepakatan tersebut lahir dari pertemuan penting antara kedua negara pada akhir pekan lalu di Jenewa. Dalam perundingan tersebut, Washington dan Beijing sepakat untuk menurunkan tarif tinggi yang selama ini menjadi sumber konflik dagang.

Baca Juga: Strategi di Tengah Perang Tarif Global, China Perkuat Yuan Geser Dominasi Dolar AS

Ini menjadi bagian dari gencatan senjata tarif AS-China selama 90 hari yang memberikan jeda sementara bagi dunia usaha dan investor.

Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa kesepakatan ini akan membuka peluang besar bagi pelaku usaha Amerika untuk memasuki pasar China.

“Kita memiliki dasar dari sebuah perjanjian dagang yang sangat kuat,” ujarnya dalam wawancara dengan Fox News. “Yang paling menarik adalah terbukanya China untuk bisnis AS.”

Baca Juga: Taiwan Kecam Rusia dan China karena Memutarbalikkan Sejarah Perang Dunia II

Sebelumnya, kebijakan tarif yang diberlakukan Trump telah memicu ketegangan dagang global, dan China menjadi salah satu pihak yang paling terdampak.

China pun tidak tinggal diam, melawan dengan tarif balasan yang menyebabkan beban tarif dari kedua negara meningkat lebih dari 100 persen.

Namun, setelah melihat dampak pemangkasan tarif AS-China yang mulai terasa terutama pada pasar saham dan sektor bisnis kedua negara sepakat duduk bersama mencari jalan keluar.

Berdasarkan hasil kesepakatan tersebut, Amerika Serikat akan memangkas tarif impor barang dari China menjadi 30 persen, sementara China menurunkannya menjadi 10 persen.

Ini menjadi kabar baik, mengingat sebelumnya tarif bisa mencapai 245 persen untuk produk tertentu.

Langkah pemangkasan tarif ini mulai berlaku sejak tengah malam waktu Washington pada Rabu (14 Mei), dan segera mendapat respons positif dari pelaku pasar.

Bursa saham pun menguat, menandai optimisme investor terhadap perang dagang AS-China yang kini mulai mereda dengan pemangkasan tarif sementara.

Di sisi lain, pemerintah China tetap berhati-hati dalam menyampaikan pesan. Dalam pertemuan dengan para pemimpin Amerika Latin di Beijing, Presiden Xi Jinping mengatakan bahwa tidak ada pemenang dalam perang dagang.

Ia menegaskan bahwa China tetap menjadi mitra dagang yang stabil dan mendukung globalisasi.

Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, juga menyampaikan kritik terhadap pihak yang dianggap mengedepankan kekuatan dalam menyelesaikan masalah internasional yang menjadi sebuah sindiran halus terhadap kebijakan dagang Amerika.

Meski pemangkasan tarif ini disambut positif, sejumlah isu sensitif masih menyisakan ketegangan. Salah satunya adalah tarif tambahan dari pihak AS sebesar 20 persen, yang berkaitan dengan ekspor bahan kimia dari China untuk produksi fentanyl.

Amerika menuding China membiarkan perdagangan zat tersebut tanpa pengawasan, tuduhan yang dibantah oleh Beijing.

Pemerintah China bahkan memperingatkan AS agar berhenti menyalahkan pihaknya dan tidak terus-menerus mencari kambing hitam atas krisis yang terjadi di dalam negeri.

Analis juga mengingatkan bahwa masa berlaku 90 hari dari kesepakatan tarif AS-China terbaru ini menambah ketidakpastian baru di tengah iklim perdagangan global yang belum stabil.

“Penurunan tarif lebih lanjut akan sulit dilakukan, dan risiko terjadinya eskalasi ulang tetap tinggi,” kata Yue Su, Ekonom dari The Economist Intelligence Unit.

Dampaknya, perusahaan-perusahaan AS yang bergantung pada manufaktur dari China harus tetap waspada.

Di sisi lain, pemerintah China mengakui bahwa perekonomiannya juga terdampak oleh ketidakpastian yang ditimbulkan perang dagang, terutama di tengah krisis properti dan konsumsi masyarakat yang melambat.

“Baik China maupun AS sudah menanggung beban ekonomi yang berat akibat ketegangan dagang ini, meski keduanya masih bisa bertahan lebih lama,” ujar Dylan Loh, dosen dari Universitas Teknologi Nanyang di Singapura.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Nypost.com

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU