INDOZONE.ID - Tradisi budaya Indonesia kembali jadi sorotan global! Kali ini giliran lomba perahu Pacu Jalur, tradisi khas dari Kuantan Singingi (Kuansing), Riau, yang mencuri perhatian dunia setelah viral di media sosial. Sayangnya, viralnya tradisi ini justru dibarengi dengan kontroversi yang bikin netizen panas dingin.
Dikira Malaysia, Ternyata Bikinan Sendiri?
Dalam video yang beredar luas, beberapa akun mengklaim bahwa Pacu Jalur merupakan budaya asal Malaysia. Komentar-komentar ini sontak menyulut emosi netizen Indonesia yang merasa warisan budayanya diklaim sepihak.
Namun, drama ini punya twist tak terduga. Sebuah akun TikTok bernama @siprandi2 melakukan investigasi mini dan membongkar fakta mengejutkan: akun-akun yang menyebarkan klaim tersebut ternyata dibuat di Indonesia sendiri!Bukan akun dari negeri jiran.
"This is INDonesIA sendiri hoax sendiri balas.. MENYALA STANDARD 78 KUUU video sepi?? this is fakta boss!!" tulis akun @siprandi2 dalam caption-nya yang langsung dibanjiri komentar.
Netizen pun makin geregetan, bukan hanya karena klaim ngawur tadi, tapi juga karena ternyata penyebarnya justru dari dalam negeri sendiri.
Baca juga: Selamat, UNESCO Tetapkan Pantun asal Riau sebagai Warisan Budaya tak Benda Dunia
Pacu Jalur Asli Riau, Bukan Klaim!
Menanggapi kehebohan ini, Roni Rakhmat, Kepala Dinas Pariwisata Riau, angkat bicara. Ia menegaskan bahwa Pacu Jalur merupakan warisan budaya otentik Indonesia yang berasal dari masyarakat Kuansing, Riau.
"Pacu Jalur bukan hanya perlombaan perahu, tapi juga representasi budaya yang kaya akan sejarah, nilai kebersamaan, dan semangat masyarakat Riau," ungkap Roni.
Ia juga mendorong agar Pacu Jalur segera diajukan sebagai warisan budaya tak benda UNESCO, agar pengakuan internasional dapat menguatkan posisi budaya lokal ini di tengah dunia global yang makin saling klaim.
Baca juga: Indonesia Usulkan Reog Ponorogo, Kolintang, dan Kebaya, Jadi Warisan Budaya UNESCO
Lebih dari Sekadar Balapan Perahu
Bagi masyarakat Kuansing, Pacu Jalur adalah lebih dari sekadar ajang olahraga tradisional. Perahu yang digunakan bisa mencapai panjang 25-40 meter dan didayung oleh 40 hingga 60 orang. Momen ini menjadi simbol kekompakan, kekuatan, dan tradisi nenek moyang yang terus dijaga turun-temurun.
Setiap tahun, ajang ini menjadi festival besar yang ditunggu-tunggu warga dan wisatawan. Nggak cuma lombanya, tapi juga atmosfer meriah, tarian adat, dan pakaian tradisional yang ikut memeriahkan suasana.
Di era media sosial seperti sekarang, validasi fakta itu penting banget. Apalagi kalau menyangkut identitas budaya. Jangan sampai kita sendiri yang malah meragukan atau bahkan menyebarkan disinformasi tentang budaya kita.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: TikTok/@siprandi2