Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Sabtu, 27 APRIL 2024 • 17:20 WIB

Profil Joko Pinurbo, Sastrawan Kebanggaan Indonesia yang Karyanya Mendunia

Profil Joko Pinurbo, Sastrawan Kebanggaan Indonesia yang Karyanya MenduniaSastrawan Indonesia, Joko Pinurbo

INDOZONE.ID - Berita duka dunia sastra Indonesia dengan berpulangnya Joko Pinurbo, yang sering dikenal dengan nama Jokpin, pada hari Sabtu, 27 April 2024. Penyair terkenal tersebut dikabarkan telah meninggal di rumahnya yang terletak di Yogyakarta. 

Philipus Joko Pinurbo, dikenal luas sebagai Joko Pinurbo, adalah penyair terkemuka Indonesia yang lahir di Sukabumi pada tanggal 11 Mei 1962. Bersama istrinya Nurnaeni Amperawati Firmina, mereka memiliki dua anak: Paska Wahyu Wibisono dan Maria Azalea Anggraeni. Joko, putra dari Sumardi dan Ngasilah, telah menunjukkan ketertarikan dalam menulis sejak usia dini.

Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya di SD Mardi Yuana Warung Kiara, Sukabumi pada tahun 1973, Joko melanjutkan studinya di SMP Sanjaya Babadan, Sleman, dan lulus pada tahun 1976.

Baca Juga: Masalah Pribadi Diduga Jadi Penyebab Polisi Tembak Kepala Sendiri di Jaksel

Dia kemudian menempuh pendidikan tinggi di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan, yang sekarang dikenal sebagai Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Joko memulai keterlibatannya dalam sastra dengan berkontribusi pada antologi bersama yang berjudul ‘Tugu’ pada tahun 1986.

Meskipun sudah mengamati puisi sejak lebih 2 dekade, Joko baru menulis puisi pada tahun 1999, dengan karya pertamanya yang berjudul “Celana,” sebuah tema yang belum pernah dijelajahi oleh penyair lain sebelumnya.

Sejak itu, dia telah menerbitkan berbagai kumpulan puisi yang terkenal, termasuk ‘Celana’ (1999), ‘Telepon Genggam’ (2003), ‘Kekasihku’ (2004), ‘Pacar Senja-Seratus Puisi Pilihan’ (2005), ‘Di Bawah Kibaran Sarung’ (2001), dan ‘Pacar Kecilku’ (2002), di antara banyak karya lainnya.

Baca Juga: Viral Aksi Preman Bercelurit di Jaktim, Rusak Gerobak Bubur Usai Diminta Membayar

Joko juga sering berpartisipasi dalam antologi bersama yang diterbitkan di tahun-tahun berikutnya, dengan karya-karya seperti ‘Tonggak’ (1987), ‘Sembilu’ (1991), ‘Ambang’ (1992), ‘Mimbar Penyair Abad 21’ (1996), dan ‘Utan Kayu Tafsir dalam Permainan’ (1998).

Puisi-puisinya yang menggabungkan humor, narasi, dan ironi, serta keahliannya dalam menggunakan dan mengolah citraan yang mengacu pada peristiwa sehari-hari, telah membuat karyanya disukai dan dihargai oleh para pecinta sastra di Indonesia.

Selain menerbitkan buku puisi, Joko juga aktif menulis esai untuk majalah dan surat kabar terkemuka seperti Kompas, Horison, dan Suara Pembaharuan. Prestasinya diakui melalui berbagai penghargaan, termasuk Khatulistiwa Literary Award untuk ‘Di Bawah Kibaran Sarung’ (2011) dan ‘Pacar Kecilku’ (2012), serta undangan ke festival puisi internasional di Inggris, Belanda, dan Jerman.

Baca Juga: Polresta Yogyakarta Beberkan 10 Lokasi Modus Ganjal ATM, Paling Banyak di Minimarket

Penghargaan lainnya termasuk Penghargaan Buku Puisi Dewan Kesenian Jakarta (2001), Hadiah Sastra Lontar (2001), Tokoh Sastra Pilihan Tempo (2001, 2012), Penghargaan Sastra Badan Bahasa (2002, 2014), Kusala Sastra Khatulistiwa (2005, 2015), dan SEA Write Award (2014). Joko juga menerima Anugerah Kebudayaan dari Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Karya Joko Pinurbo telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan diadaptasi ke dalam musikalisasi puisi, menunjukkan jangkauan dan pengaruhnya yang luas di luar Indonesia. Prestasi dan kontribusinya pada sastra Indonesia menjadikan Joko Pinurbo salah satu tokoh sastra paling berpengaruh di era modern.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Fa Bahasa

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Profil Joko Pinurbo, Sastrawan Kebanggaan Indonesia yang Karyanya Mendunia

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!