INDOZONE.ID - Sedekah pribadi Presiden RI Prabowo Subianto untuk tradisi Meugang, menghadirkan kebahagiaan bagi masyarakat Aceh yang tengah dalam masa pemulihan pascabencana November 2025 lalu. Bantuan tersebut memungkinkan warga tetap menjalankan tradisi memasak daging menjelang Ramadhan.
Di Desa Geudumbak, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara, warga tampak antusias mengolah daging sapi menjadi Kuah Beulangong, gulai khas Aceh yang identik dengan perayaan Meugang. Sapi tersebut diantarkan oleh relawan Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom RI) bersama kelompok relawan lainnya.
Kuah Beulangong dimasak dalam wajan besar menggunakan kayu bakar, sementara nasi disiapkan dalam porsi besar untuk disantap bersama. Daging sapi yang berasal dari sedekah Presiden disembelih dan diolah sebagai bagian dari tradisi menyambut Ramadhan.
“Sedekah dari Presiden Prabowo sangat menyenangkan hati karena (kami) sedang dalam keadaan musibah kayak ini. Hari Meugang kami sangat meriah seperti-seperti yang dulu,” ujar seorang warga setempat, dikutip Rabu (18/2/2026).
Ia menyebut Kuah Beulangong sebagai tradisi yang paling diutamakan di Aceh saat Meugang. Meski dalam suasana bencana, masyarakat tetap merayakannya dengan penuh kebersamaan.
Baca juga: Tradisi Meugang Pasca Bencana di Aceh, Mahasiswa Sekolah Kepolisian Kirim 70 Sapi
“Sangat menyenangkan hati. Kami tidak sanggup membalas kekasihannya. Hanya kami serahkan kepada Allah SWT,” katanya.
Selain bantuan langsung di desa-desa, Presiden juga menyalurkan bantuan kemasyarakatan senilai Rp72,5 miliar untuk sapi Meugang bagi masyarakat terdampak bencana di Aceh.
Sebanyak 1.455 sapi diserahkan secara simbolis kepada 19 pemerintah kabupaten/kota pada 10 Februari lalu, oleh Ketua Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera, Muhammad Tito Karnavian.
Bantuan serupa juga diterima Pondok Pesantren Darul Mukhlisin di Aceh Tamiang. Dua sapi berukuran besar diantar menggunakan mobil bak ke halaman pesantren, kemudian disembelih dan dagingnya dibagikan kepada para santri dan pengurus.
Pimpinan Pondok Pesantren Darul Mukhlisin, Ustad Mulkana, mengaku bersyukur atas sedekah tersebut. Ia menyebut pihaknya sempat memikirkan bagaimana pelaksanaan Meugang di tengah keterbatasan akibat banjir yang melanda wilayah tersebut pada November lalu.
"Ketika mengajak santri ke pondok ini, kami sempat berpikir. Nanti seperti apa kami melaksanakan Meugang? Apakah anak-anak akan melewati Meugang? Jadi alhamdulillah, ini pengalaman pertama buat kami," ujarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Press Release