Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Rabu, 07 JANUARI 2026 • 17:30 WIB

Mengurai Peta Baru Konservasi Jawa Timur, Strategi Senyap Menjaga Alam Tetap Hidup

Mengurai Peta Baru Konservasi Jawa Timur, Strategi Senyap Menjaga Alam Tetap HidupPeta Baru Konservasi Jawa Timur, Tantangan Besar, Harapan Lebih Besar. (Sumber: bbksdajatim.org)

INDOZONE.ID - Alam Jawa Timur selama ini bekerja dalam diam. Hutan menyimpan air, mangrove meredam abrasi, dan satwa liar menjaga keseimbangan rantai kehidupan. Namun, tekanan terhadap lingkungan tidak pernah berhenti, mulai dari aktivitas perburuan, alih fungsi lahan, hingga perubahan iklim yang semakin ekstrem.

Kondisi tersebut mendorong perlunya langkah terukur agar konservasi tidak tertinggal oleh laju kerusakan. Sidoarjo, Minggu (5/1/2025).

Balai Besar KSDA Jawa Timur menjawab tantangan itu dengan menyusun ulang peta konservasi wilayah. Penataan struktur organisasi dilakukan untuk memperkuat koordinasi dan mempercepat pengambilan keputusan, dengan menempatkan Resort Konservasi Wilayah (RKW) sebagai garda terdepan pengelolaan sumber daya alam.

Penyesuaian ini membawa perubahan jumlah RKW dari 19 menjadi 18 pada 2026. Perubahan tersebut didasarkan pada pertimbangan bentang alam, jalur pergerakan satwa, sistem aliran sungai, serta keterhubungan sosial masyarakat, sehingga efektivitas pengelolaan dapat ditingkatkan.

“Kekuatan konservasi ada pada ketepatan membaca lapangan,” ujar Nur Patria Kurniawan, Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur.

Baca juga: Cegah Kematian Gajah Sumatera akibat EEHV, Kemenhut Gandeng Pusat Konservasi India

Menurut Nur Patria Kurniawan, penataan ini memperpendek jalur koordinasi sehingga respons terhadap ancaman di lapangan dapat dilakukan lebih cepat dan sesuai dengan kondisi nyata ekosistem.

Aktivitas konservasi di tingkat resort berlangsung dalam berbagai bentuk, mulai dari patroli habitat, pencatatan populasi satwa, dialog dengan masyarakat sekitar kawasan, hingga penyelamatan satwa dilindungi. Meski sering luput dari perhatian publik, aktivitas ini menjadi fondasi utama keberhasilan konservasi jangka panjang.

Dengan pola kerja baru, RKW tidak lagi sekadar memadamkan persoalan, tetapi juga menganalisis pola ancaman. Pencegahan dilakukan lebih dini dengan pendekatan lanskap, bukan batas administratif.

“Konservasi tidak berhenti di batas wilayah, namun mengikuti lanskap. Kita sesungguhnya mengikuti hukum alam,” tegas Nur Patria.

Di kawasan Gunung Kelud, RKW 1 Kediri–Nganjuk memainkan peran penting dalam menjaga hutan pegunungan. Patroli rutin dilakukan untuk mencegah perburuan dan perambahan, sekaligus mendukung penelitian akademik terkait flora, fauna, dan dinamika ekosistem pegunungan.

Wilayah ini berfungsi sebagai laboratorium alam yang menyediakan data ilmiah berharga. Penelitian mengenai kualitas air, regenerasi vegetasi, serta interaksi satwa menjadi dasar penyusunan kebijakan konservasi yang berbasis data.

Transformasi lainnya terlihat pada penggabungan RKW 10 Bawean menjadi RKW 09 Gresik–Bawean. Integrasi ini memperkuat pengelolaan ekosistem Pulau Bawean agar lebih terpadu dengan wilayah administratif Gresik.

Baca juga: Kesepakatan Bersejarah, AS dan Indonesia Alihkan Utang Rp566 Miliar untuk Konservasi Terumbu Karang

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Bbksdajatim.org

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Mengurai Peta Baru Konservasi Jawa Timur, Strategi Senyap Menjaga Alam Tetap Hidup

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!