Seorang pelanggan memeriksa kualitas beras di pasar grosir di Jakarta. (REUTERS/Willy Kurniawan)
INDOZONE.ID - Harga beras di Indonesia kembali menembus rekor tertinggi, meski panen padi melimpah dan stok nasional berlimpah.
Kenaikan ini terjadi setelah pemerintah menaikkan harga pembelian gabah serta menurunkan standar kualitas beras yang dibeli Bulog.
Kebijakan tersebut memicu persaingan ketat di pasar beras dan menimbulkan keluhan dari masyarakat karena harga semakin mahal.
Baca juga: Demi Ketahanan Pangan, Bulog Merauke Berhasil Serap Beras Petani dengan Angka Fantastis
Pada Agustus lalu, harga acuan beras medium naik menjadi Rp15.950 per kilogram.
Angka ini hampir 5% lebih tinggi dibanding awal tahun, sekaligus menyamai rekor Maret 2024, ketika fenomena El Nino menekan produksi beras dalam negeri.
Meski pada September harga sedikit terkoreksi, nilainya tetap 24% lebih mahal dibanding awal 2023.
Baca juga: Anggota DPRD Parepare Temukan Masalah Penyaluran Beras Sejahtera Hingga Rumitnya Akses Solar Subsidi
Lonjakan harga membuat sejumlah pengecer membatasi jumlah pembelian beras oleh konsumen.
Padahal, data menunjukkan produksi beras nasional justru meningkat hampir 16% dalam tujuh bulan pertama tahun ini.
Situasi ini tak lepas dari kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang ingin meningkatkan pendapatan petani dan mengurangi ketergantungan pada impor.
Pada Januari 2025, pemerintah menaikkan harga pembelian gabah kering dari Rp6.000 menjadi Rp6.500 per kilogram.
Bulog juga ditargetkan membeli 3 juta ton beras dalam negeri, atau hampir tiga kali lipat dari tahun sebelumnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Reuters