Kasus Group 'Fantasi Sedarah': Penyimpangan Seksual yang Kembali Jadikan Anak-anak sebagai Korban!
INDOZONE.ID - Belum lama ini masyarakat Indonesia dihebohkan dengan viralnya berita seorang driver ojol mengantar paket ke salah satu masjid di Medan, Sumatera Utara. Ternyata, paket tersebut adalah jasad bayi hasil dari hubungan sedarah antara pasangan kakak-beradik.
Tidak berselang lama, netizen Tanah Air Kembali dikagetkan dengan adanya grup di platform Facebook 'Fantasi Sedarah', di mana para anggotanya memposting mengenai hubungan incest.
Aparat kepolisian pun bergerak cepat menindaklanjuti kasus ini, dengan menetapkan 5 tersangka yang berstatus sebagai admin grup 'Fantasi Sedarah'.
Kasus inses atau hubungan sedarah yang viral di social media, 'Fantasi Sedarah', yang menyita perhatian masyarakat pun mendapatkan tanggapan dari seorang Psikolog, Sani Budiantini.
Baca Juga: Kader PSI Dian Sandi Kembali Dipersiksa Poda Metro Jaya Terkait Laporan Jokowi
Ia sangat menyoroti fenomena penyimpangan seksual, khususnya hubungan antar saudara atau incest, yang belakangan ini viral. Menurutnya, perilaku buruk ini kerap berakar dari paparan pornografi yang terjadi sejak usia dini.
Kebiasaan mengakses konten pornografi secara berulang dapat mendorong seseorang untuk mengeksplorasi bentuk-bentuk fantasi seksual yang lebih ekstrem, termasuk ketertarikan terhadap anggota keluarga sendiri.
"Orang yang melakukan hubungan saudara biasanya ada masalah penyimpangan seksual. Jadi dari kepapar adiksi pornografi, kemudian dia eksplorasi lagi dan menimbulkan fantasi incest," ujarnya saat dihubungi Indozone.
Di sisi lain, tegas Sani, hubungan sedarah itu termasuk penyimpangan seksual. Selain itu, faktor lain yang kerap menjadi pemicu adalah trauma masa lalu, seperti pengalaman menjadi korban pelecehan seksual.
Baca Juga: Ketua Lama, Semangat Baru! Incumbent Kembali Terpilih di Konfercab PWI Jember
Anak Lagi-lagi Jadi Korban Kekerasan Seksual
Viralnya kasus grup Facebook 'Fantasi Sedarah' semakin membuat netizen geram, lantaran banyak anak-anak yang menjadi korbannya. Menanggapi hal tersebut, Dokter Spesialis Anak, yakni dr. Claudy Bunga Saing M.Ked(Ped), Sp.A, merasa prihatin.
"Prihatin sih, sebagai orang dewasa. Apalagi satu keluarga malah memiliki maksud untuk (seks) dengan anaknya sendiri atau keluarganya sendiri. Apalagi korbannya di sini anak anak," ucap dr. Claudy.
"Padahal anak-anak itu kan, selain tumbuh kembangnya ada juga kesehatan mental yang bisa menyebabkan trauma ke depannya buat anak kita sendiri, kehilangan jati diri kedepannya secara psikologis. Itu sangat memprihatinkan sih apalagi keluarga, yang bukannya melindungi malah merusak yang sedarahnya," lanjutnya.
Selain dr. Claudy, Pakar anak sekaligus dosen PGSD dari Universitas Muhammadiyah Surabaya, Holy Ichda Wahyuni, juga mengutarakan pendapatnya.
Ia berpandangan bahwa adanya kasus ini jadi bukti kuat bahwa sudah tak ada lagi ruang aman untuk anak-anak.
"Orang tua dan pendidik perlu sadar, rumah yang kita anggap paling aman bisa jadi tempat paling rentan bagi anak. Banyak kasus kekerasan seksual justru pelakunya adalah orang terdekat," ujar Holy Ichda Wahyuni seperti dilansir dari UM Surabaya, Jumat (16/5/2025).
Nasib Masa Depan Korban, Jadi Pelaku?
Psikolog, Sani Budiantini membeberkan dampak mengerikan yang akan dialami oleh seorang anak yang mendapatkan kekerasan seksual dari keluarganya sendiri.
Sani pun tak memungkiri jika anak korban kekerasan seksual dari keluarganya sendiri bisa saja menjadi pelaku di masa mendatang.
"Ketika anak itu menjadi korban nanti stres dan depresi, bisa jadi malah ke arah yang lebih parah. Tapi kalau kejiwaannya mengalami kelainan, bisa jadi malah calon pelaku seksual," ungkapnya.
Sinyal Anak-anak yang Menjadi Korban Kekerasan Seksual
Pakar anak sekaligus dosen PGSD dari Universitas Muhammadiyah Surabaya, Holy Ichda Wahyuni, membeberkan beberapa sinyal dari seorang anak yang menjadi korban kekerasan seksual.
Anak korban kekerasan seksual biasanya menunjukkan beberapa sinyal, misalnya:
- Jadi pendiam atau murung.
- Tiba-tiba takut ketemu orang tertentu.
- Susah tidur.
- Atau tiba-tiba menolak disentuh.
Pentingnya Pendidikan Seksual Diajarkan Anak Sejak Dini
Dengan maraknya kasus kekerasan seksual terhadap anak-anak membuat Dokter Spesialis Anak, yakni dr. Claudy Bunga Saing M.Ked(Ped), Sp.A, pun berkomentar.
Ia menjelaskan bahwa pentingnya pendidikan seksual diajarkan kepada anak-anak sejak dini agar terhindar dari predator seksual.
"Selain itu juga harus mengajari pada anak usia dini, mungkin yang baru pubertas, untuk mengenal pendidikan seks. Bagaimana mengetahui lingkup supaya laki-laki bersikap kepada perempuan. Diajarkan pendidikan seks sejak dini," jelas dr. Claudy.
"Walaupun itu sebenarnya hal yang tabu, tapi tetap harus diajarkan kepada anak sejak dini. Supaya anak juga paham, oh ini ada orang dewasa yang mau pegang saya jadi tidak boleh," sambungnya.
Pendapat yang sama juga diutarakan oleh Psikolog, Sani Budiantini. Selain itu, ia juga meminta adanya pengawasan ketat terhadap anak-anak dari media digital yang saat ini berkembang dengan sangat cepat.
"Inilah pentingnya edukasi seksual sejak dini serta pengawasan terhadap akses anak-anak terhadap media digital. Pencegahan dan kesadaran kolektif masyarakat dianggap kunci untuk memutus rantai penyimpangan ini sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih kompleks," pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Wawancara Langsung