DPRD DIY bersama generasi ketiga penghuni Rumah Rengasdengklok, Karawang
INDOZONE.ID - Jajaran Komisi A DPRD DIY menyambangi Rumah Sejarah Djiauw Kie Siong yang terletak di Dusun Kalijaya I, Desa Rengasdengklok Utara, Kecamatan Rengasdengklok, Karawang.
Diketahui, rumah tersebut yakni saksi bisu dari peristiwa Rengasdengklok yang merupakan aksi desakan terhadap Soekarno dan Mohammad Hatta yang dilakukan oleh sekelompok pemuda antara lain Sukarni, Wikana, dan Chaerul Saleh untuk segera memproklamasikan Kemerdekaan Republik Indonesia.
Menariknya, mulai dari lantai hingga bilik kamar, semua masih asli dan berusia lebih dari 100 tahun
Saat memasuki rumah itu, terdapat dua kamar yang masih tertata rapi. Satu kamar digunakan Soekarno dan Fatmawati beserta anak bayinya, dan satu lagi digunakan Mohammad Hatta
Ditemui dilokasi langsung, generasi ketiga dari keluarga Djiauw Kie Siong, Janto Joewari, mengatakan, meski bukan rumah sebenarnya tempat Soekarno dan Hatta beristirahat saat dibawa para pemuda, namun kondisi rumah dibuat persis seperti pada masa dahulu.
"Sebenarnya, rumah yang terlihat hanya biasa-biasa saja, itu milik Djiauw yang pada saat itu terkena erosi Sungai Citarum dan akhirnya dipindahkan ke lokasi yang saat ini," katanya belum lama ini.
Kemudian, di rumah inilah, naskah teks proklamasi disiapkan dan bersama bendera Merah Putih juga siap dikibarkan para pejuang Rengasdengklok pada Rabu tanggal 15 Agustus 1945.
Namun 16 Agustus 1945, tiba-tiba datanglah Ahmad Subardjo dan kawan-kawan yang meminta Bung Karno berangkat ke Jakarta untuk membacakan Proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta.
"Ternyata, sebelum bertolak ke Jakarta, Soekarno dan Hatta sempat melakukan penghormatan pertama kali bendera Merah Putih yang pada saat itu dikibarkan di pos tentara PETA, yang tidak jauh dari rumah ini," tuturnya.
Mengetahui cerita peristiwa Rengasdengklok, Ketua Komisi A DPRD DIY, Eko Suwanto menegaskan, peristiwa tersebut sangat penting bagi sejarah Bangsa Indonesia. Karena dari sinilah, dapat belajar tentang bagaimana dedikasi, pengorbanan serta semangat juang pendiri bangsa.
"Mereka rela hati tanpa mempertimbangkan keselamatan diri berjuang untuk bangsa. Bagaimana kehendak merdeka memperkuat kehendak didukung anak-anak muda, menunjukkan bagaimana kepahlawanan lahir dari niat dan kehendak memerdekakan Indonesia, tanpa mempertimbangkan keselamatan diri dan keluarga. Bagaimana menjaga Indonesia, itu juga sangat penting," ucap Eko.
Eko mengingatkan kepada generasi muda untuk ke depannya, agar menjadi pemimpin itu tidak bisa secara instan dan harus dengan hati bersih.
BACA JUGA Peristiwa 16 Agustus: Penculikan Soekarno - Hatta ke Rengasdengklok
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung