Kamis, 03 APRIL 2025 • 15:04 WIB

5 Hari Terkubur, Seorang Pria Ditemukan Selamat di Reruntuhan Gempa Myanmar

Author

Korban gempa Myanmar ditemukan selamat usai terkubur selama lima hari.

INDOZONE.ID - Lima hari setelah gempa dahsyat mengguncang Myanmar, secercah harapan muncul di tengah puing-puing. Pada Rabu, 3 Maret 2025, tim penyelamat berhasil mengeluarkan seorang pria yang masih hidup dari reruntuhan sebuah hotel di Naypyidaw.

Pria berusia 26 tahun yang bekerja di hotel tersebut dievakuasi oleh tim gabungan Myanmar-Turki tak lama setelah tengah malam.

Meski tampak bingung dan berdebu, ia masih sadar saat ditarik keluar melalui celah di reruntuhan.

Dalam video yang diunggah oleh Departemen Pemadam Kebakaran Myanmar di Facebook, pria itu terlihat diletakkan di atas tandu sebelum dibawa ke tempat aman.

Baca Juga: Operasi Kemanusiaan di Myanmar, Anjing Pelacak Polri Temukan 1 Korban

Harapan yang Mulai Memudar

Sementara itu, ratusan kilometer dari lokasi penyelamatan, tim pencari di Bangkok, Thailand, masih berusaha menemukan korban selamat di antara puing-puing gedung pencakar langit yang ambruk akibat gempa. 

Bangunan setinggi 30 lantai yang masih dalam tahap konstruksi itu runtuh pada Jumat (29/3/2025), mengubur puluhan pekerja. Sayangnya, hanya sedikit yang ditemukan selamat.

Korban gempa Myanmar ditemukan selamat usai terkubur selama lima hari.

Hingga kini, jumlah korban tewas di lokasi tersebut telah mencapai 22 orang, sementara lebih dari 70 orang masih dinyatakan hilang.

Tim penyelamat terus berjuang, berpacu dengan waktu untuk mencari kemungkinan adanya korban yang masih bertahan.

Baca Juga: Korban Gempa Myanmar Tidur di Jalanan, Kekurangan Makanan dan Air

Gempa Terbesar

Gempa berkekuatan 7,7 skala Richter yang terjadi pada Jumat lalu meratakan banyak bangunan di berbagai wilayah Myanmar.

Data terbaru menunjukkan lebih dari 2.700 orang meninggal dunia, sementara ribuan lainnya kehilangan tempat tinggal.

Di tengah krisis kemanusiaan ini, beberapa kelompok bersenjata yang selama ini berkonflik dengan militer Myanmar telah sepakat untuk menghentikan pertempuran sementara demi fokus pada pemulihan pascagempa.

Namun, pemimpin junta Min Aung Hlaing tetap menegaskan akan melanjutkan "kegiatan defensif" terhadap kelompok yang ia sebut sebagai "teroris."

Seruan untuk Gencatan Senjata

PBB, organisasi hak asasi manusia, serta beberapa pemerintah asing mendesak semua pihak yang bertikai untuk mengutamakan keselamatan warga dan menghentikan konflik.

Seruan ini bertujuan agar seluruh bantuan dan upaya penyelamatan bisa berjalan tanpa hambatan, mengingat gempa kali ini adalah yang terbesar yang melanda Myanmar dalam beberapa dekade terakhir.

Di tengah duka yang mendalam, kisah penyelamatan pria dari reruntuhan menjadi secercah harapan bahwa masih ada kemungkinan menemukan lebih banyak korban selamat.

Namun, waktu terus berjalan, dan tantangan semakin besar bagi tim penyelamat di lapangan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: The Guardian

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU