Minggu, 23 FEBRUARI 2025 • 17:05 WIB

Kronologi Tewasnya Muhsin Hendricks, Imam Masjid Penyuka Sesama Jenis: Mati Ditembak di Afrika Selatan

Author

Ilustrasi LGBT. (freepik)

INDOZONE.ID - Muhsin Hendricks, imam penyuka sesama jenis pertama di dunia, tewas ditembak, Sabtu 15 Februri 2025, siang waktu setempat.

Kejadian nahas yang menimpa Hendricks, terjadi di Kota Gqeberha, Afrika Selatan. Berdasarkan keterangan yang ada, Hendircks ditembak oleh dua pria saat menaiki truck pick up.

Dari rekaman CCTV, terlihat salah satu pelaku keluar dari kendaraan lalu berlari menuju mobil yang dinaiki Hendircks. Dia langsung melepaskan beberapa tembakan melalui jendela ke arah Hendricks.

Kepolisian setempat belum menetapkan motif penembakan ini. Pihak berwajib pun masih akan mendalami kasus.

Sementara itu, kedua pelaku masih dalam penyelidikan. Polisi belum tahu identitas mereka karena mengenakan tutup kepala saat beraksi.

Baca Juga: Wamendagri Beberkan Tujuan Retret di Magelang: Tingkatkan Kapasitas Kepemimpinan, hingga Bonding dan Team Building

Diduga Jadi Korban Pembunuhan Berencana

Partai politik dan organisasi LGBTQ+ mengatakan, bahwa Hendricks kemungkinan besar menjadi target pembunuhan karena mendirikan masjid di Cape Town untuk muslim gay.

Dia pun kerap menyerukan agar komunitas LGBTQ+ diterima dalam Islam. Padahal, dalam ajaran Islam, dijelaskan homoseksual adalah tindakan yang dilarang.

Kementerian Kehakiman Afrika Selatan juga sedang menyelidiki dugaan bahwa Hendricks memang menjadi target pembunuhan berencana.

Selama ini, Hendricks dikenal secara internasional dan kerap berbicara dalam  konferensi Asosiasi Lesbian, Gay, Biseksual, Trans, dan Interseks Internasional (ILGA) di Afrika Selatan.

"Keluarga ILGA sangat terkejut dengan berita pembunuhan Muhsin Hendricks dan menyerukan kepada pihak berwenang untuk menyelidiki secara menyeluruh apa yang kami khawatirkan sebagai kejahatan kebencian," kata Julia Ehrt, direktur eksekutif ILGA, mengutip dari AP News.

ILGA mengatakan, bahwa Hendricks pernah berbicara tentang bagaimana beberapa orang menyerukan agar masjidnya ditutup dan menjulukinya sebagai "kuil gay".

Dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Afrika Selatan pada 2022, Hendricks mengaku, menjadi target serangkaian fatwa (putusan dalam hukum Islam) yang dikeluarkan oleh Dewan Yudisial Muslim Afrika Selatan pada tahun itu.

Fatwa tersebut mengingatkan umat muslim di negara tersebut, bahwa hubungan sesama jenis dilarang.

Namun, dewan tersebut mengatakan, bahwa muslim gay yang menjauhi "tindakan sesama jenis" harus diterima di masjid.

Partai Aliansi Demokratik, partai politik terbesar kedua di Afrika Selatan, juga angkat bicara terkait kasus ini.

Partai Aliansi Demokratik mengatakan, bahwa sifat pembunuhan ini sangat menunjukkan sebagai suatu perencanaan yang dilakukan secara profesional.

Profil Muhsin Hendricks

Muhsin Hendricks lahir pada Juni 1967 di Cape Town (kota dengan komunitas muslim terbesar) di Afrika Selatan.

Sang ibu merupakan seorang guru di masjid. ayahnya adalah seorang penyembuh spiritual. Hendircks diketahui cucu dari seorang imam.

Dibesarkan dalam lingkungan yang ketat dengan disiplin tinggi, ia harus menghadapi ceramah keras dari kakeknya.

Kemudian, ia melanjutkan studi agama di sebuah universitas di Pakistan. Akan tetapi, dia hampir dikeluarkan karena kesulitan memahami ajaran yang diajarkan.

Setelah kembali ke Afrika Selatan, ia menikahi seorang wanita asal Cape Town pada 1991.

Namun, ternyata selama itu, ia menyembunyikan fakta mengenai orientasi seksualnya.

Baca Juga: Hamas Bebaskan 6 Warga Israel dalam Pertukaran Sandera di Bawah Gencatan Senjata

"Saya bercerai pada usia 29 tahun setelah enam tahun menikah. Itulah titik di mana saya merasa tidak ada lagi kehidupan ganda. Saya harus jujur pada diri sendiri, dan bagian dari proses itu adalah mengakui siapa saya sebenarnya" katanya kepada AFP pada 2016.

Hendricks pun kemudian mendirikan masjid pertama di Afrika Selatan yang ramah terhadap LGBTQ+.

Masjid ini menjadi tempat perlindungan dan pusat pelatihan hak asasi manusia bagi para jamaah dari berbagai gender dan orientasi seksual.

Sekadar informasi, Afrika Selatan merupakan negara pertama di dunia yang secara resmi melarang diskriminasi berdasarkan orientasi seksual dalam konstitusinya.

Negara ini juga menjadi satu-satunya di Afrika yang melegalkan pernikahan sesama jenis sejak 2006. Akan tetapi, dalam kenyataannya, diskriminasi dan kekerasan masih marak terjadi.

Selama menjadi sosok imam masjid gay di Afrika Selatan, Hendricks mengaku selalu menjadi target ancaman.

Sebagai ayah dari tiga anak, ia sering menyatakan kekhawatirannya tentang keselamatannya.

Ia menyatakan, bahwa kerap menghadapi berbagai ancaman, baik secara daring maupun langsung karena pemaparannya mengenai LGBTQ+.

Penulis: Sekar Andini Wibisono Putri

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: AP News, France24.com

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU