Sabtu, 14 DESEMBER 2024 • 10:15 WIB

Joe Biden Luncurkan Strategi Lawan Kebencian terhadap Muslim dan Arab

Author

Presiden AS Joe Biden menjamu para penerima penghargaan Kennedy Center di Ruang Timur di Gedung Putih di Washington, pada 8 Desember 2024. (Foto: REUTERS/Ken Cedeno)

INDOZONE.ID - Presiden Amerika Serikat Joe Biden pada Kamis (12/12/2024), merilis strategi yang telah lama dinantikan untuk mengatasi kebencian terhadap Muslim dan Arab, yang meningkat tajam sejak dimulainya perang Israel-Gaza.

Strategi ini menyerukan tindakan mendesak dan berkelanjutan untuk mengurangi diskriminasi dan bias.

Dokumen sepanjang 64 halaman ini memuat lebih dari 100 langkah yang akan diambil oleh cabang eksekutif pemerintah.

Strategi ini dirilis beberapa minggu sebelum pelantikan mantan Presiden Donald Trump, yang sebelumnya memberlakukan larangan perjalanan bagi warga dari beberapa negara mayoritas Muslim. Kebijakan tersebut telah dicabut oleh Biden pada hari pertama masa jabatannya.

Baca Juga: 5 Fakta Menarik Joe Biden Memberi Grasi untuk Anaknya, Apa Dampaknya?

Langkah ini mencerminkan strategi serupa untuk melawan antisemitisme yang dirilis Gedung Putih pada September 2023.

Strategi ini juga muncul lebih dari setahun setelah insiden tragis yang menewaskan seorang anak laki-laki berusia enam tahun, Wadea Al-Fayoume, yang ditikam oleh seseorang karena ia dan ibunya adalah warga keturunan Palestina-Amerika.

Dalam kata pengantar strategi tersebut, Biden menyebut serangan terhadap anak laki-laki itu dan ibunya sebagai "tindakan keji." Ia juga mencatat lonjakan kejahatan kebencian, diskriminasi, dan perundungan terhadap Muslim dan Arab yang disebutnya tidak dapat diterima.

"Muslim dan Arab berhak hidup dengan martabat dan menikmati hak-hak mereka sepenuhnya seperti semua warga Amerika lainnya. Kebijakan yang menyebabkan diskriminasi terhadap komunitas tertentu adalah salah dan tidak membuat kita lebih aman," tulis Biden, seperti dilansir Channe News Asia, Sabtu (14/12/2024).

Namun, strategi ini mendapat kritik dari kelompok advokasi. Dewan Hubungan Islam-Amerika (CAIR), sebuah organisasi hak-hak sipil Muslim, menyebut strategi ini "terlambat dan kurang memadai."

Mereka mengkritik Gedung Putih karena tidak menjanjikan perubahan pada daftar pengawasan federal dan daftar larangan terbang, yang mencakup banyak warga Arab dan Muslim-Amerika. Mereka juga mengecam kegagalan pemerintah untuk menghentikan perang di Gaza yang dianggap memicu Islamofobia.

Baca Juga: Biden dan Harris Sebut Kematian Pemimpin Hamas Yahya Sinwar Berpotensi Akhiri Perang di Gaza

Sementara itu, Jim Zogby, pendiri Institut Arab Amerika, memprediksi bahwa pemerintahan Trump mendatang akan mengabaikan strategi ini. Meski demikian, ia menyambut baik upaya Gedung Putih untuk memasukkan kebencian terhadap Arab, bukan hanya terhadap Muslim.

Tim transisi Trump belum memberikan komentar terkait strategi ini atau apakah mereka akan mendukungnya.

Trump, yang mendapatkan dukungan dari beberapa pemilih Muslim yang kecewa dengan sikap Biden terhadap perang di Gaza, telah menyatakan akan melarang masuknya siapa pun ke AS yang mempertanyakan hak Israel untuk eksis. Ia juga berencana mencabut visa mahasiswa asing yang dianggap "antisemit."

Ketegangan antara kelompok pro-Israel dan pro-Palestina meningkat di beberapa kampus AS setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 di Israel. Para pembela hak asasi manusia memperingatkan lonjakan antisemitisme, Islamofobia, dan kebencian terhadap Arab yang semakin memburuk.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Channelnewsasia.com

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU