Senin, 13 MEI 2024 • 12:40 WIB

Gawat! Eks Marinir AS Dituding Latih Pilot China Daratkan Pesawat di Kapal Induk, Picu Kekhawatiran Spionase

Author

Daniel Duggan: Daughter of a former US Marine

INDOZONE.ID - Daniel Edmund Duggan, seorang eks-pilot Marinir AS, dihadapkan pada tuduhan konspirasi dan pelanggaran hukum.

Hal itu berkaitan dengan kendali senjata, karena diduga melatih pilot militer China untuk melakukan pendaratan pesawat di kapal induk.

Tindakan ini menimbulkan kekhawatiran tentang kemungkinan spionase dan transfer informasi teknologi militer yang sensitif.

"Pengacara menyatakan bahwa Daniel Duggan, yang berusia 55 tahun dan menjadi warga negara Australia melalui naturalisasi, mengkhawatirkan bahwa permintaan informasi sensitif dari badan intelijen Barat akan mengancam keselamatan keluarganya," demikian permohonan hukum yang dilihat oleh Reuters, dikutip Senin (13/5/2024).

Pengajuan pengacara memberikan dukungan terhadap laporan Reuters yang menghubungkan Duggan dengan Su Bin, seorang terpidana peretas pertahanan China.

Duggan menyangkal tuduhan bahwa ia melanggar undang-undang pengendalian senjata AS.

Sejak penangkapannya pada 2022 usai kembali dari enam tahun bekerja di Beijing, dia telah ditahan di penjara dengan keamanan maksimum di Australia.

Baca Juga: Tiongkok Kembali Jadi Sorotan Dunia, Ciptakan Virus dengan Campuran Ebola!

"Dalam pengajuannya pada bulan Maret kepada Jaksa Agung Australia Mark Dreyfus, pengacara Duggan, Bernard Collaery, menyatakan bahwa pihak berwenang AS menemukan korespondensi dengan Duggan pada perangkat elektronik yang disita dari Su Bin," ucapnya.

"Keputusan apakah akan menyerahkan Duggan ke AS, akan ditentukan setelah hakim mendengarkan kasus ekstradisi Duggan," sambungnya.

Kasus ini akan diadili di Pengadilan Sydney bulan ini, dua tahun setelah penangkapannya di pedesaan Australia.

Saat itu, Inggris telah memberi peringatan kepada mantan pilot militernya agar tidak bekerja di China.

Su Bin, yang ditangkap di Kanada pada tahun 2014, mengakui bahwa pada tahun 2016 ia telah melakukan pencurian desain pesawat militer AS dengan meretas kontraktor pertahanan besar AS.

Dia disebut sebagai salah satu dari tujuh konspirator bersama Duggan, dalam permohonan ekstradisi.

Menurut pengacara Collaery, Duggan mengenal Su Bin sebagai perantara pekerjaan untuk AVIC, perusahaan penerbangan negara China.

Ia menegaskan bahwa kasus peretasan tersebut "benar-benar tidak ada kaitannya dengan klien kami".

Menurut pengacaranya, Organisasi Intelijen Keamanan Australia (ASIO) dan penyelidik kriminal Angkatan Laut AS mengetahui bahwa Duggan sedang melatih pilot untuk AVIC.

Selain itu juga bertemu dengannya di negara bagian Tasmania, Australia pada bulan Desember 2012 dan Februari 2013.

Baca Juga: Ekstremis Israel Tutup Jalan dengan Bebatuan Untuk Cegah Masuknya Bantuan Kemanusiaan ke Jalur Gaza

Pada tahun 2013, Duggan pindah ke China dan kemudian dilarang meninggalkan negara tersebut pada tahun 2014.

Profil LinkedIn Duggan serta sumber-sumber industri penerbangan yang mengenalnya, menyatakan bahwa dia bekerja di China sebagai konsultan penerbangan pada tahun 2013 dan 2014.

Pemerintah Amerika Serikat berpendapat bahwa Duggan baru kehilangan kewarganegaraan AS pada tahun 2016.

Kasus ini masih berlangsung, dan belum ada keputusan yang diambil.

Penting untuk dicatat bahwa ini hanya tuduhan, dan Duggan berhak atas praduga tak bersalah.

Namun, kasus ini menyoroti potensi risiko spionase dan transfer teknologi militer sensitif, dan merupakan pengingat penting akan pentingnya keamanan nasional.

Penulis: Nadya Mayangsari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Reuters

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU