INDOZONE.ID - Insiden memilukan ini terjadi di tambang Liushenyu yang berada di Kabupaten Qinyuan, Provinsi Shanxi, pada Jumat, (22/5/2026).
Saat ledakan terjadi, sebanyak 247 pekerja diketahui sedang berada di bawah tanah.
Menurut laporan otoritas setempat, ledakan diduga dipicu oleh gas di dalam tambang. Pemerintah China pun langsung mengerahkan ratusan personel penyelamat ,untuk melakukan evakuasi dan pencarian korban.
Keluarga Korban Menunggu Kabar dengan Cemas
Suasana haru menyelimuti area sekitar tambang pada Minggu, (24/5/2026). Sejumlah keluarga korban tampak berkumpul di pos pemeriksaan yang menutup akses menuju lokasi tambang, sambil menunggu kabar anggota keluarga mereka.
Salah satu pria yang berada di lokasi mengaku, belum bisa menghubungi sang kakak sejak ledakan terjadi. Ia mengatakan, kakaknya merupakan ayah dari tiga anak.
“Teleponnya tidak bisa dihubungi sejak kejadian,” ujarnya sambil menahan kecemasan.
Pria tersebut juga mengaku, belum mengetahui penyebab pasti ledakan. Bahkan, kedua orang tuanya masih belum diberi tahu bahwa putra mereka termasuk dalam daftar korban hilang.
Baca juga: Putin dan Xi Tegaskan Hubungan China-Rusia Tetap Solid Usai Kunjungan Trump
Ditemukan Banyak Pelanggaran Keselamatan
Pemerintah China langsung membuka penyelidikan terkait tragedi tersebut. Hasil investigasi awal menunjukkan, adanya dugaan pelanggaran serius terhadap standar keselamatan kerja oleh perusahaan pengelola tambang, Tongzhou Group.
Dalam konferensi pers yang disiarkan televisi pemerintah CCTV, pejabat setempat menegaskan, pihak yang bertanggung jawab akan mendapat hukuman berat sesuai hukum yang berlaku.
Media pemerintah juga mengungkap, lebih dari setengah pekerja yang turun ke dalam tambang pada hari kejadian tidak tercatat secara resmi.
Padahal, para pekerja seharusnya menjalani pemeriksaan pengenalan wajah, atau membawa kartu pelacak lokasi sebelum memasuki area tambang bawah tanah.
Seorang pejabat perusahaan bahkan disebut telah diamankan pihak berwenang, untuk menjalani proses hukum lebih lanjut.
Baca juga: Korban Tewas Akibat Hujan Lebat di China Naik Jadi 22 Orang, 20 Lainnya Masih Hilang
Ratusan Petugas Dikerahkan ke Lokasi
Operasi penyelamatan dilakukan besar-besaran sejak ledakan terjadi. Tim medis dan petugas penyelamat bekerja tanpa henti untuk mengevakuasi korban.
Hingga Sabtu (23/5/2026) malam, sebanyak 128 orang dilaporkan dilarikan ke rumah sakit menggunakan ambulans dan tandu.
Para penyelamat bergantian turun ke dalam tambang, untuk mencari dua pekerja yang masih belum ditemukan.
Tidak hanya itu, tim juga menurunkan robot khusus untuk memeriksa kondisi di dalam tambang demi mengurangi risiko bagi petugas penyelamat.
“Selama masih ada harapan, kami akan melakukan segala upaya yang memungkinkan,” ujar salah satu anggota tim penyelamat kepada media pemerintah China.
Korban Selamat Ceritakan Detik-detik Ledakan
Salah satu korban selamat bernama Wang Yong menceritakan pengalaman mengerikan yang ia alami saat ledakan terjadi.
Ia mengaku, tidak mendengar suara ledakan keras, namun tiba-tiba muncul asap pekat berbau belerang yang memenuhi area tambang.
“Saya tidak mendengar suara apa pun, tetapi tiba-tiba asap muncul,” katanya kepada CCTV.
Menurut Wang, bau asap tersebut mirip seperti aroma petasan yang baru meledak. Saat asap mulai menyebar, ia langsung berteriak meminta para pekerja lain untuk melarikan diri.
Ia juga melihat beberapa pekerja kesulitan bernapas akibat asap tebal sebelum akhirnya dirinya pingsan.
“Setelah lebih dari satu jam, saya sadar sendiri. Lalu saya membangunkan orang di sebelah saya dan kami keluar dari tambang,” ungkapnya.
Jadi Kecelakaan Tambang Terburuk dalam Hampir 20 Tahun
Ledakan di tambang Liushenyu disebut sebagai kecelakaan tambang paling mematikan di China sejak tahun 2009. Saat itu, ledakan tambang di Provinsi Heilongjiang menewaskan 108 orang.
Pasca-tragedi terbaru ini, Dewan Negara China memerintahkan pengawasan ketat terhadap seluruh aktivitas pertambangan di berbagai wilayah.
Pemerintah juga meminta tindakan tegas terhadap praktik ilegal, termasuk manipulasi data keselamatan, pendataan pekerja yang tidak jelas, hingga kontrak kerja ilegal.
Industri Tambang China Masih Rawan Kecelakaan
Provinsi Shanxi dikenal sebagai pusat industri batu bara terbesar di China. Meski standar keselamatan tambang di negara tersebut diklaim terus membaik dalam beberapa tahun terakhir, kecelakaan fatal masih kerap terjadi.
Banyak pihak menilai, lemahnya penerapan prosedur keselamatan dan aturan yang kurang ketat menjadi penyebab utama tingginya risiko di sektor pertambangan.
Pada tahun 2023 lalu, kecelakaan tambang terbuka di wilayah Mongolia Dalam juga menewaskan 53 orang.
China masih menjadi konsumen batu bara terbesar di dunia sekaligus salah satu penghasil emisi gas rumah kaca terbesar, meski negara itu terus mempercepat pembangunan energi terbarukan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Reuters