INDOZONE.ID - Ada peluang serangan baru dari Amerika Serikat (AS) ke wilayah Iran, menurut laporan sejumlah media. Militer AS membuka opsi serangan baru terhadap Iran, termasuk di kawasan Selat Hormuz.
Serangan baru itu dapat terjadi jika kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran berakhir tanpa kesepakatan damai.
Militer AS tidak cuma mengincar Selat Hormuz jika skenario serangan ke Iran jadi kenyataan, tapi fasilitas dwiguna seperti pembangkit listrik dan jembatan.
Bahkan, ada opsi lain yaitu peluang penargetan komandan militer Iran dan tokoh kepemimpinan pihak Teheran. Dengan kata lain, AS turut mengincar komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran, Ahmad Vahidi.
Baca juga: Kenapa AS dan Iran Sama-Sama Klaim Menang? Ini Analisis Perang Modern
Perang Berujung Damai?
Perang yang dimulai sejak 28 Februari lalu, telah merugikan banyak pihak, terutama Iran. Bahkan, Iran kehilangan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei pada serangan pertama AS-Israel kepada pihak Teheran.
Posisi Ali Khamenei pun digantikan oleh putra keduanya, Ayatollah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei.
Iran tidak tinggal diam saja dengan serangan AS-Israel. Pihak Teheran menyerang balik wilayah Israel dan sejumlah pangkalan militer AS di Timur Tengah.
Perang antara AS-Israel dengan Iran membuat situasi di Timur Tengah makin panas, setelah sebelumnya sudah ada konflik lain.
Perang AS-Israel dengan Iran pun berdampak global. Sebab, aksi Iran menutup Selat Hormuz, jalur maritim paling aktif dengan 20 persen pasokan minyak dan gas dunia melaluinya, membuat harga energi melonjak.
Gencatan senjata dua pekan telah diberlakukan sejak 7 April lalu, tapi itu tidak akan berarti tanpa ada perdamaian.
Baca juga: Peringatan untuk Iran, Donald Trump Klaim AS Perkuat Persenjataan Selama Gencatan Senjata
Pertemuan wakil AS dan Iran di Islamabad, Pakistan, pada 11 dan 12 April lalu, tidak berujung kesepakatan damai.
Pada Selasa 21 April 2026, waktu setempat, Presiden AS Donald Trump bilang akan memperpanjang gencatan senjata seraya tetap memblokade pelabuhan-pelabuhan Iran di Selat Hormuz.
Ia menjelaskan, bahwa peluang pembicaraan damai kedua dengan Iran mungkin terjadi dalam 36 hingga 72 jam ke depan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Antara