Rabu, 25 MARET 2026 • 19:45 WIB

Iran Tolak Klaim Negosiasi Trump di Tengah Saling Serang dengan Israel

Author

Petugas darurat merespons di lokasi setelah rentetan serangan rudal Iran di wilayah Israel tengah, di tengah konflik AS-Israel dengan Iran, di Tel Aviv, Israel, pada 24 Maret 2026. (Reuters/Tomer Appelbaum)

INDOZONE.ID - Konflik antara Iran dan Israel kembali memanas setelah kedua negara saling melancarkan serangan udara pada Rabu (25 Maret 2026). 

Di tengah situasi yang semakin tegang, pemerintah Iran secara tegas membantah klaim Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang menyebut bahwa Washington sedang melakukan negosiasi dengan Teheran untuk mengakhiri perang.

Pihak militer Iran bahkan menyindir pernyataan tersebut. Juru bicara utama komando militer gabungan Iran, Ebrahim Zolfaqari, mengatakan bahwa Amerika Serikat seolah “bernegosiasi dengan dirinya sendiri.

Ia menyampaikan kritik tajam melalui televisi nasional Iran, menegaskan bahwa pihaknya tidak akan pernah mencapai kesepakatan dengan pemerintahan AS, baik sekarang maupun di masa depan.

Baca juga: Iran Ancam Serang Infrastruktur Energi Teluk Usai Ultimatum Trump

Trauma Negosiasi Masa Lalu Jadi Alasan Penolakan

Penolakan Iran terhadap perundingan bukan tanpa alasan. Kepemimpinan negara tersebut mengungkapkan bahwa dalam dua tahun terakhir, Amerika Serikat justru melakukan serangan militer saat proses negosiasi tingkat tinggi masih berlangsung.

Hal ini membuat kepercayaan Iran terhadap niat diplomasi AS semakin menurun. Mereka menilai pembicaraan damai tidak lagi relevan dalam kondisi saat ini.

Baca juga: Iran Buka Peluang Kapal Jepang Melintas di Selat Hormuz

Serangan Udara Terus Berlanjut

Memasuki minggu keempat konflik, intensitas serangan dari kedua pihak belum menunjukkan tanda mereda. Ribuan korban jiwa dilaporkan, sementara dampaknya meluas hingga ke sektor energi global.

Militer Israel menyatakan telah meluncurkan serangan besar-besaran yang menargetkan infrastruktur penting di Teheran. 

Sementara itu, media Iran melaporkan bahwa serangan tersebut juga menghantam kawasan permukiman warga, dengan tim penyelamat masih berupaya mengevakuasi korban dari reruntuhan.

Di sisi lain, Iran mengklaim telah melancarkan gelombang serangan baru ke berbagai wilayah di Israel, termasuk Tel Aviv dan Kiryat Shmona. Tak hanya itu, target juga mencakup pangkalan militer AS di beberapa negara seperti Kuwait, Yordania, dan Bahrain.

Dampak Meluas ke Negara-negara Teluk

Konflik ini juga merembet ke kawasan Teluk. Kuwait dan Arab Saudi melaporkan berhasil menggagalkan serangan drone, meskipun tidak disebutkan secara jelas asal serangan tersebut.

Salah satu insiden terjadi di Bandara Internasional Kuwait, di mana sebuah drone menghantam tangki bahan bakar hingga menyebabkan kebakaran. Meski tidak menimbulkan korban jiwa, kejadian ini meningkatkan kekhawatiran terhadap eskalasi konflik di kawasan.

AS Ajukan Proposal Gencatan Senjata

Di tengah meningkatnya ketegangan, laporan menyebutkan bahwa Amerika Serikat telah mengajukan proposal berupa rencana 15 poin kepada Iran. Rencana tersebut bertujuan untuk mengakhiri konflik yang berlangsung di Timur Tengah.

Selain itu, AS juga disebut mengusulkan gencatan senjata selama satu bulan guna membuka ruang diskusi lebih lanjut.

Beberapa poin dalam proposal tersebut mencakup penghentian program nuklir Iran, penghentian dukungan terhadap kelompok sekutu seperti Hizbullah di Lebanon, serta pembukaan kembali jalur strategis Selat Hormuz.

Selat Hormuz Jadi Titik Kunci Krisis Energi

Penutupan Selat Hormuz menjadi salah satu dampak paling signifikan dari konflik ini. Jalur tersebut merupakan salah satu rute utama distribusi minyak dan gas dunia.

Sejak operasi militer AS yang dikenal sebagai “Operation Epic Fury” dimulai pada Februari lalu, Iran telah meningkatkan tekanan dengan menyerang infrastruktur energi di kawasan Teluk serta membatasi akses ke selat tersebut.

Akibatnya, dunia menghadapi krisis energi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Harga bahan bakar melonjak tajam, sementara sektor transportasi dan penerbangan global turut terganggu.

Namun, Iran menyatakan bahwa kapal non-militer masih dapat melintasi Selat Hormuz dengan syarat berkoordinasi dengan otoritas setempat.

Upaya Mediasi Internasional Mulai Bermunculan

Di tengah situasi yang semakin kompleks, Pakistan menawarkan diri sebagai mediator. Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, menyatakan kesiapan negaranya untuk menjadi tuan rumah perundingan antara Amerika Serikat dan Iran.

Langkah ini muncul setelah pernyataan Trump yang menunda rencana serangan terhadap fasilitas listrik Iran, menyusul pembicaraan yang disebutnya “produktif.”

AS Perkuat Kehadiran Militer di Timur Tengah

Meski wacana diplomasi mulai muncul, Amerika Serikat justru meningkatkan kehadiran militernya di kawasan. Pentagon dilaporkan akan mengirim ribuan pasukan tambahan dari Divisi Lintas Udara ke-82 ke Timur Tengah.

Dengan tambahan ini, jumlah pasukan AS di wilayah tersebut diperkirakan mencapai sekitar 50.000 personel. Langkah ini memicu kekhawatiran bahwa konflik justru akan berlangsung lebih lama dan semakin meluas.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Reuters.com

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU