Jumat, 13 MARET 2026 • 04:30 WIB

Cathay Pacific Naikkan Biaya Bahan Bakar Penerbangan Hampir Dua Kali Lipat Akibat Perang Iran

Author

Pesawat milik Cathay Pacific terlihat terparkir di Bandara Internasional Hong Kong, Hong Kong, pada 10 Agustus 2024. (Reuters/Tyrone Siu)

INDOZONE.ID - Maskapai penerbangan asal Hong Kong, Cathay Pacific, mengumumkan rencana kenaikan biaya tambahan bahan bakar (fuel surcharge), untuk sebagian besar rute penerbangannya mulai 18 Maret 2026. 

Kebijakan ini diambil menyusul lonjakan harga bahan bakar jet yang dipicu konflik di Timur Tengah, khususnya perang yang melibatkan Iran sejak akhir Februari.

Dalam pernyataan resminya, maskapai tersebut menyebutkan, harga bahan bakar pesawat telah meningkat tajam, bahkan hampir dua kali lipat sejak konflik dimulai pada 28 Februari. Penyesuaian biaya tambahan ini disebut mengikuti mekanisme penetapan tarif yang selama ini digunakan oleh Cathay Pacific.

Untuk penerbangan jarak pendek, biaya tambahan bahan bakar akan naik menjadi 290 dolar Hong Kong (sekitar US$37), meningkat dari sebelumnya 142 dolar Hong Kong.

Baca juga: 15 Orang Tewas dalam Kecelakaan Pesawat di Bolivia

Kenaikan Lebih Besar untuk Rute Menengah dan Jarak Jauh

Kenaikan biaya juga berlaku pada rute penerbangan yang lebih jauh. Untuk penerbangan jarak menengah, fuel surcharge akan meningkat dari 264 dolar Hong Kong menjadi 541 dolar Hong Kong.

Sementara itu, pada rute jarak jauh, kenaikan bahkan lebih signifikan. Biaya tambahan bahan bakar akan melonjak dari 569 dolar Hong Kong menjadi 1.164 dolar Hong Kong.

Cathay Pacific menjelaskan, biaya tambahan bahan bakar selalu dievaluasi secara berkala, dan disesuaikan dengan harga bahan bakar jet olahan di pasar global. Maskapai ini juga menegaskan, penyesuaian tersebut dilakukan setiap bulan berdasarkan pergerakan harga energi.

Baca juga: Pesawat Pelita Air yang Jatuh di Kaltara Ditemukan, Pilotnya Dinyatakan Tewas

Lonjakan Harga Energi Dampak Konflik Timur Tengah

Kenaikan harga bahan bakar dipicu meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, akibat perang yang melibatkan Iran. Situasi tersebut turut mengguncang pasar energi global.

Ketegangan semakin meningkat setelah pasukan Garda Revolusi Iran mengancam akan menghambat lalu lintas kapal di Selat Hormuz, salah satu jalur distribusi energi paling penting di dunia.

Akibat kondisi ini, harga minyak dan gas melonjak tajam. Rata-rata, harga bahan bakar jet dunia bahkan naik lebih cepat dibandingkan minyak mentah.

Berdasarkan indeks acuan Platts, harga bahan bakar jet global mencapai US$173,91 per barel pada awal pekan ini.

Maskapai Lain Juga Ambil Langkah Serupa

Kenaikan harga energi tidak hanya memengaruhi Cathay Pacific. Sejumlah maskapai lain juga mulai mengambil langkah untuk mengatasi lonjakan biaya operasional.

Hong Kong Airlines mengumumkan, peningkatan biaya tambahan bahan bakar hingga 35,2 persen. Sementara maskapai Australia Qantas Airways menaikkan tarif tiket internasional untuk sementara waktu.

Maskapai dari Selandia Baru, Air New Zealand, juga menyatakan, akan menaikkan harga tiket secara luas karena kekhawatiran terhadap kenaikan biaya bahan bakar.

Di kawasan Asia Tenggara, Thai Airways berencana menaikkan tarif penerbangan sekitar 10 hingga 15 persen. Sementara Vietnam Airlines bahkan meminta bantuan pemerintahnya, untuk menghapus pajak lingkungan terhadap bahan bakar jet guna mengurangi beban biaya.

Maskapai Eropa Lebih Siap Menghadapi Lonjakan Harga

Berbeda dengan sebagian maskapai Asia, beberapa maskapai Eropa dinilai lebih siap menghadapi lonjakan harga bahan bakar dalam jangka pendek. Hal ini karena mereka telah membeli bahan bakar dengan harga tetap jauh-jauh hari.

Maskapai Jerman Lufthansa menyatakan telah mengamankan sekitar 80 persen kebutuhan bahan bakar tahunannya dengan kontrak harga tetap.

Sementara grup maskapai Air France-KLM, telah mengunci harga tetap untuk sekitar 70 persen kebutuhan bahan bakarnya pada dua kuartal pertama tahun ini, dan 60 persen untuk kuartal berikutnya.

Maskapai berbiaya rendah asal Irlandia, Ryanair, juga relatif terlindungi dari lonjakan harga berkat strategi pembelian bahan bakar serupa.

Namun, tidak semua maskapai di Eropa dapat sepenuhnya menghindari dampaknya. Maskapai terbesar di kawasan Skandinavia, SAS Scandinavian Airlines, telah mengumumkan kenaikan tarif sementara akibat lonjakan harga bahan bakar.

Dampak Lebih Luas pada Industri Penerbangan

Lonjakan harga energi akibat konflik geopolitik, kembali menunjukkan betapa rentannya industri penerbangan terhadap fluktuasi harga bahan bakar.

Bagi maskapai, bahan bakar merupakan salah satu komponen biaya terbesar dalam operasional penerbangan.

Jika harga energi terus meningkat, para analis memperkirakan lebih banyak maskapai di seluruh dunia akan menyesuaikan tarif tiket, maupun biaya tambahan bagi penumpang dalam beberapa bulan ke depan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Reuters.com

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU