Selasa, 17 FEBRUARI 2026 • 10:33 WIB

Gaza Panas Lagi! Israel Serang Balas, 11 Warga Tewas Termasuk di Tenda Pengungsi

Author

Serangan Israel di Gaza (REUTERS/Ibraheem Abu Mustafa)

INDOZONE.ID - Gencatan senjata yang udah berjalan beberapa bulan di Gaza lagi-lagi terusik. 

Minggu (15/2/2026), Israel melancarkan serangan udara di sejumlah wilayah Gaza yang menewaskan sedikitnya 11 warga Palestina, menurut otoritas setempat. 

Pihak Israel menyebut aksi ini sebagai respons atas pelanggaran gencatan senjata yang dilakukan oleh kelompok militan Hamas. 

Vibes-nya mencekam, apalagi serangan kali ini menyasar tenda pengungsi.

Baca juga: Panglima Suriah Kuasai Pangkalan Shaddadi, Koordinasi dengan AS di Balik Layar

Sasaran Serangan: Tenda Pengungsi hingga Komandan Jihad Islam

Menurut keterangan para medis di Gaza, sebuah serangan menghantam perkemahan tenda yang menampung keluarga-keluarga yang mengungsi, menewaskan sedikitnya empat orang. 

Serangan lain di Khan Younis, selatan Gaza, menewaskan lima orang, dan satu orang lainnya ditembak mati di utara. 

Selain itu, serangan udara juga menargetkan seorang komandan kelompok Jihad Islam, sekutu Hamas, di lingkungan Tel Al-Hawa, Kota Gaza.

Juru bicara Hamas, Hazem Qassem, langsung bereaksi keras. 

Baca juga: Makin Panas! Kanada Ikut-ikutan Ingin 'Regime Change' di Iran, Tambah Sanksi

Ia menuduh Israel melakukan "pembantaian" baru terhadap warga sipil yang mengungsi dan menyebutnya sebagai pelanggaran serius terhadap gencatan senjata. 

Qassem mendesak pihak-pihak yang akan menghadiri pertemuan perdana Dewan Perdamaian yang diinisiasi Presiden AS Donald Trump pekan depan untuk menekan Israel agar menghentikan pelanggaran dan segera mengimplementasikan kesepakatan.

Israel: "Serangan Presisi" Balas Pelanggaran Hamas

Sementara itu, seorang pejabat militer Israel membela aksi tersebut. Ia menyebut serangan kali ini "presisi" dan sesuai hukum internasional. 

Menurutnya, aksi ini dilakukan sebagai balasan atas pelanggaran jelas Hamas terhadap kesepakatan gencatan senjata. 

Baca juga: Kecanduan Seks gegara Obat, Pria Inggris Ini Gelapkan Rp12 M dan Hancurkan Keluarga

Pejabat itu merinci bahwa militan Hamas terlihat keluar dari terowongan di dekat "Garis Kuning"—batas yang disepakati dalam gencatan senjata yang memisahkan area Israel dan Gaza—sambil membawa senjata, yang dinilai sebagai ancaman bagi pasukan Israel. 

"Ini menunjukkan bagaimana Hamas secara sistematis melanggar kesepakatan gencatan senjata dengan niat menyerang pasukan IDF," klaimnya.

Di sisi lain, laporan Reuters juga menyebutkan bahwa Israel secara sepihak telah memindahkan Garis Kuning lebih jauh ke dalam Gaza, meskipun penarikan pasukan Israel seharusnya jadi bagian dari kesepakatan. 

Hamas sejauh ini menolak tuntutan untuk meletakkan senjata, juga seperti yang diatur dalam rencana tersebut.

Baca juga: AS Diklaim Sudah Siapkan 'Pesawat Siluman' B-2 untuk Serang Fasilitas Nuklir Milik Iran

Dewan Perdamaian Trump dan Rencana Rekonstruksi

Serangan ini terjadi hanya beberapa hari sebelum pertemuan pertama Dewan Perdamaian bentukan Trump dijadwalkan berlangsung di Washington pada Kamis (19/2). 

Dalam pertemuan itu, Trump diharapkan mengumumkan rencana rekonstruksi Gaza senilai miliaran dolar dan detail mengenai pasukan stabilisasi yang diotorisasi PBB untuk wilayah kantong Palestina tersebut. 

Kekerasan terbaru ini tentu jadi red flag besar bagi upaya perdamaian yang masih setengah matang.

Konflik yang dimulai sejak serangan Hamas 7 Oktober 2023 ini telah menewaskan lebih dari 1.200 orang di pihak Israel. 

Sementara itu jumlah korban jiwa di Gaza menurut kementerian kesehatan setempat telah menembus angka 72.000 orang. 

Baca juga: Perkuat Diplomasi Antariksa di Afrika, China Serahkan Stasiun Bumi Satelit ke Namibia

Sejak gencatan senjata Oktober lalu, otoritas Gaza mencatat setidaknya 600 warga Palestina tewas oleh tembakan Israel.  

Adapun Israel melaporkan empat tentaranya tewas oleh militan di Gaza dalam periode yang sama.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Reuters

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU