INDOZONE.ID - Pemerintah Jepang membubarkan DPR secara resmi pada Jumat, 23 Januari 2026.
Apa alasan di balik keputusan tersebut, dan bagaimana kelanjutan parlemen Jepang?
Melansir laporan Nippon, keputusan pembubaran DPR Jepang diumumkan langsung oleh Perdana Menteri Sanae Takaichi.
Keputusan sekaligus mengakhiri masa jabatan 465 anggota DPR yang seharusnya masih berjalan hingga beberapa tahun ke depan.
Langkah cepat ini langsung mengubah peta politik Jepang.
Kampanye dimulai dalam hitungan hari, sementara parlemen praktis berhenti bekerja hingga DPR baru terbentuk.
Baca juga: Penusukan Massal dan Serangan Zat Kimia Lukai 15 Orang di Pabrik Jepang
Kenapa Jepang Bubarkan DPR?
Laporan Nippon menyebutkan, pembubaran DPR dilakukan untuk meminta mandat langsung dari publik.
Pemerintahan Takaichi dinilai belum memiliki legitimasi politik yang cukup kuat setelah perubahan kepemimpinan di internal koalisi.
Dalam pernyataannya, Takaichi menegaskan bahwa arah kebijakan pemerintah perlu diuji lewat suara rakyat.
“Keputusan politik besar harus mendapat penilaian langsung dari masyarakat,” ujarnya.
Baca juga: PM Jepang Tegaskan Dialog dengan China Tetap Terbuka di Tengah Ketegangan Diplomatik
Pembubaran DPR ini juga disebut sebagai langkah untuk memperkuat posisi pemerintah di parlemen, terutama dalam menghadapi agenda ekonomi dan fiskal ke depan.
Pemilu Dini dengan Waktu Kampanye Singkat
Setelah Jepang bubarkan DPR, Komisi Pemilihan menetapkan 8 Februari 2026 sebagai hari pencoblosan.
Masa kampanye hanya berlangsung sekitar dua pekan.
Situasi ini membuat partai politik bergerak cepat.
Isu ekonomi, pajak, dan biaya hidup diprediksi menjadi senjata utama dalam kampanye singkat.
Bagi pemilih muda, pemilu kali ini dinilai krusial karena akan menentukan stabilitas politik Jepang dalam jangka menengah.
Dampak Langsung ke Pemerintahan
Selama DPR dibubarkan, parlemen tidak bisa membahas atau mengesahkan undang-undang baru.
Termasuk soal anggaran negara yang seharusnya mulai dibahas awal tahun.
Kondisi ini memunculkan kekhawatiran soal penggunaan anggaran sementara jika DPR baru belum terbentuk tepat waktu.
Meski begitu, pemerintahan tetap berjalan secara administratif.
Oposisi Kritik Waktu Pembubaran
Keputusan Jepang bubarkan DPR tidak lepas dari kritik.
Oposisi menilai langkah ini dilakukan di saat yang tidak ideal, karena bertepatan dengan awal sidang parlemen reguler.
Menurut mereka, pembubaran DPR berpotensi menghambat pembahasan kebijakan penting yang berdampak langsung ke masyarakat.
Meski begitu, pemerintah bersikukuh bahwa pemilu dini justru menjadi cara paling demokratis untuk menentukan arah Jepang ke depan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Nippon