INDOZONE.ID - Pesan Natal Paus Leo XIV di 2025 menjadi sorotan dunia internasional.
Dalam pidato Urbi et Orbi pertama Paus Leo XIV sejak terpilih sebagai pemimpin Gereja Katolik, ia secara tegas menyerukan dialog damai antara Rusia dan Ukraina, sekaligus menyoroti penderitaan kemanusiaan yang masih berlangsung di Jalur Gaza.
Berbicara di hadapan sekitar 26 ribu umat yang memadati Lapangan Santo Petrus, Paus asal Amerika Serikat itu mengecam keras absurditas perang.
Baca juga: Israel Serang Gereja di Gaza, Paus Leo XIV Serukan Gencatan Senjata
Ia menilai konflik bersenjata hanya meninggalkan kehancuran, luka mendalam, dan penderitaan berkepanjangan bagi masyarakat sipil.
“Marilah kita berdoa secara khusus bagi rakyat Ukraina yang terus menderita,” ujar Paus Leo XIV.
Dalam seruan perdamaian Rusia-Ukraina dari Vatikan, ia berharap semua pihak yang terlibat, dengan dukungan penuh komunitas internasional, memiliki keberanian untuk membuka dialog yang tulus, langsung, dan saling menghormati.
Baca juga: Paus Leo Minta Israel Izinkan Bantuan Kemanusiaan Masuk Gaza
Seruan tersebut muncul di tengah upaya diplomatik yang masih buntu.
Rusia dan Ukraina diketahui telah melakukan pembicaraan terpisah dengan mediator Amerika Serikat dalam beberapa pekan terakhir terkait kemungkinan mengakhiri perang yang dimulai sejak invasi Rusia pada Februari 2022.
Konflik ini telah menelan puluhan ribu korban jiwa, menghancurkan wilayah timur Ukraina, serta memaksa jutaan orang meninggalkan rumah mereka.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy pekan ini memaparkan sejumlah poin penting dalam rencana perdamaian usai pembicaraan dengan AS.
Namun, Presiden Rusia Vladimir Putin hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda kompromi dan tetap bertahan pada tuntutan keras Moskow.
Selain konflik di Eropa Timur, pidato Urbi et Orbi pertama Paus Leo XIV juga menyoroti kondisi kemanusiaan yang memprihatinkan di Gaza.
Paus menggambarkan kehidupan ratusan ribu warga yang masih bertahan di tenda-tenda darurat di tengah cuaca dingin, meski gencatan senjata rapuh telah berlangsung selama beberapa pekan.
“Bagaimana mungkin kita tidak memikirkan tenda-tenda di Gaza yang selama berminggu-minggu diterpa hujan, angin, dan dingin,” ucap Paus. Ia menegaskan bahwa banyak warga Gaza telah kehilangan segalanya akibat perang.
Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan sekitar 1,3 juta orang di wilayah tersebut masih membutuhkan bantuan tempat tinggal, dengan risiko hipotermia yang terus meningkat seiring turunnya suhu.
Elias al-Jalda, seorang warga Kristen Palestina dari Gaza, mengatakan perang telah berdampak pada semua orang tanpa terkecuali.
“Kami berharap tahun ini menjadi awal fase baru, di mana perang benar-benar berakhir dan kehidupan kembali ke Gaza,” ujarnya setelah mengikuti misa Natal di satu-satunya gereja Katolik Roma di wilayah itu.
Sementara itu, suasana Natal penuh sukacita kembali terasa di Bethlehem, Tepi Barat.
Setelah lebih dari dua tahun dibayangi konflik, ratusan umat Kristiani memadati Gereja Kelahiran Yesus dan mengikuti pawai di sepanjang Star Street hingga Lapangan Manger.
Lampu warna-warni menghiasi kota, pohon Natal berdiri megah di dekat gereja, dan suasana perayaan kembali hidup.
“Hari ini penuh kebahagiaan karena sebelumnya kami tidak bisa merayakan Natal akibat perang,” kata Milagros Anstas (17).
Di Suriah, lampu-lampu Natal menerangi Kota Tua Damaskus, meski komunitas Kristen masih menyimpan kekhawatiran keamanan pasca-serangan mematikan pada Juni lalu.
“Suriah layak mendapatkan kegembiraan dan harapan akan masa depan yang baru,” ujar Loris Aasaf (20), seorang mahasiswa.
Di Amerika Serikat, Presiden Donald Trump menyampaikan ucapan Natal dengan nada yang berbeda dari para pemimpin agama, disertai sindiran keras terhadap kelompok kiri radikal.
Sementara itu, cuaca ekstrem mengganggu perayaan Natal di California, memaksa pemerintah menetapkan status darurat dan memerintahkan evakuasi di Los Angeles akibat ancaman banjir.
Di Australia, Perdana Menteri Anthony Albanese menyampaikan pesan Natal bernada duka setelah serangan mematikan saat perayaan Hanukkah di Bondi Beach pada 14 Desember lalu.
“Kami merasakan kesedihan yang mendalam atas teror yang menimpa komunitas Yahudi Australia,” katanya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Reuters.com