Kebakaran Terburuk di Hong Kong dalam Hampir 80 Tahun, Korban Meninggal Meningkat Jadi 128 Orang
INDOZONE.ID - Hong Kong kembali berduka akibat kebakaran besar yang melanda kompleks perumahan Wang Fuk Court di distrik Tai Po.
Kebakaran ini disebut sebagai kebakaran terburuk di Hong Kong dalam hampir 80 tahun dan telah menelan banyak korban, menandai tragedi mematikan terbesar sejak Perang Dunia II.
Pihak berwenang Hong Kong pada Jumat, 28 November 2025, mengumumkan jumlah korban tewas akibat kebakaran meningkat menjadi 128 orang. Sekitar 200 orang masih belum ditemukan.
Baca juga: Kebakaran Apartemen di Hong Kong Renggut 44 Nyawa, Ratusan Masih Hilang
Korban meninggal kebakaran Hong Kong meningkat jadi 128 orang, sementara upaya penyelamatan resmi dihentikan setelah tim pemadam menghadapi panas ekstrem, asap tebal, serta runtuhan perancah bambu dan material bangunan.
Setidaknya 79 orang terluka, termasuk 12 petugas pemadam, dengan satu orang dalam kondisi kritis. Kebakaran terjadi saat kompleks perumahan yang terdiri dari delapan menara dan dihuni lebih dari 4.600 orang tengah direnovasi.
Baca juga: Video Horor Kebakaran Apartemen 31 Lantai Wang Fuk Hong Kong, 13 Orang Tewas
Bangunan dibungkus perancah bambu dan jaring hijau saat api mulai menyebar pada Rabu sore.
Polisi menangkap tiga pejabat perusahaan konstruksi atas dugaan pembunuhan karena menggunakan bahan mudah terbakar, termasuk papan busa yang menyumbat jendela. Alarm kebakaran juga tidak berfungsi dengan baik, memperparah situasi.
Warga yang selamat menggambarkan tragedi ini sebagai bencana mengerikan. Beberapa keluarga masih mencari anggota yang hilang, termasuk anak-anak mereka.
Banyak korban ditemukan di dua menara kompleks, sementara beberapa bangunan lain memiliki penyintas, menurut laporan petugas pemadam.
Para warga menyoroti bahwa ini adalah kebakaran terbesar di Hong Kong pasca Perang Dunia, yang meninggalkan luka mendalam bagi komunitas setempat.
Tragedi ini menjadi kebakaran terburuk di Hong Kong dalam hampir 80 tahun, menyamai kebakaran gudang pada 1948 yang menewaskan 176 orang. Dua korban merupakan pekerja rumah tangga asal Indonesia.
Tragedi ini juga mengingatkan pada kebakaran Grenfell Tower di London pada 2017, yang disebabkan oleh material luar bangunan yang mudah terbakar serta kelalaian pihak berwenang dan industri konstruksi.
Pihak berwenang menangkap dua direktur dan seorang konsultan teknik dari perusahaan Prestige Construction yang bertanggung jawab atas renovasi bangunan selama lebih dari satu tahun.
Pemerintah Hong Kong berencana mengganti perancah bambu dengan perancah logam secara bertahap sebagai langkah keamanan. Pemimpin Hong Kong, John Lee, mengumumkan dana sebesar HK$300 juta (US$39 juta) untuk membantu warga terdampak.
Para pengungsi mendirikan tempat tidur darurat di pusat perbelanjaan terdekat, sementara relawan membagikan makanan dan perlengkapan.
Kota yang padat penduduk ini memiliki banyak kompleks perumahan tinggi, dan tragedi ini berpotensi menimbulkan kekecewaan publik terhadap pemerintah meski mereka berupaya memperketat pengawasan politik dan keamanan nasional.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Reuters