491 Ribu Tiket Penerbangan ke Jepang Dibatalkan setelah China Imbau Warganya Hindari Bepergian
INDOZONE.ID - Gelombang besar pembatalan tiket penerbangan ke Jepang dari China, terjadi sejak Sabtu (15/11/2025).
Hal itu terjadi tidak lama setelah pemerintah China mengeluarkan imbauan resmi, agar warganya menghindari bepergian ke Jepang di tengah memanasnya hubungan diplomatik kedua negara.
Total sekitar 491.000 tiket dibatalkan oleh maskapai China, setara 32 persen dari seluruh pemesanan menuju Jepang yang biasanya menjadi destinasi favorit wisatawan.
Menurut analis penerbangan independen Li Hanming, pembatalan melonjak drastis hingga 82,14 persen pada Minggu (16/11/2025), sebelum sedikit menurun menjadi 75,6 persen pada Senin.
Baca juga: Gunung Sakurajima Kembali Erupsi, Warga Jepang Diimbau Waspada Hujan Abu
Dari penelitiannya terhadap maskapai-maskapai berbasis di China daratan, Li menyebutkan, pemesanan baru pada hari Minggu kalah jauh dibanding pembatalan.
“Pembatalan tiket pada hari Minggu mencapai 27 kali lipat dari jumlah pemesanan baru. Ini menunjukkan bahwa kekhawatiran keamanan benar-benar mendominasi keputusan perjalanan,” jelas Li.
Ia menambahkan, skala pembatalan sebesar ini terakhir terlihat pada awal 2020, saat kasus COVID-19 melonjak usai periode perjalanan Tahun Baru Imlek.
Baca juga: China Kecam Filipina Gelar Latihan Militer dengan AS dan Jepang di Laut China Selatan
Ledakan pembatalan ini bahkan dianggap para analis sebagai salah satu dampak paling signifikan dari ketegangan politik terbaru kedua negara, yang kini mulai terasa langsung pada sektor transportasi udara dan pariwisata.
Setelah imbauan Beijing dikeluarkan, berbagai maskapai China dengan cepat mengumumkan kebijakan pengembalian dana penuh, untuk penerbangan menuju Jepang.
Rute Shanghai-Tokyo dan Shanghai-Osaka menjadi yang paling terdampak, dan Li memperkirakan kerugian akibat refund sekitar 70 persen adalah tiket pulang-pergi mencapai miliaran yuan.
Analis penerbangan dari OAG, John Grant, menilai, maskapai China kemungkinan akan terkena dampak lebih besar dibandingkan maskapai Jepang.
Sebab, pasar penerbangan kedua negara tersebut lebih banyak didominasi oleh maskapai berbasis China.
“Karena lima maskapai terbesar di rute China-Jepang semuanya berbasis di China, dampak finansial terbesar hampir pasti dirasakan maskapai China,” ujarnya.
Grant menambahkan, perubahan kapasitas penerbangan yang signifikan, baru akan terlihat dalam beberapa minggu ke depan.
Namun, ia menilai ada tanda-tanda upaya kedua negara untuk menurunkan tensi, meski tetap menjadi gangguan besar dalam jangka pendek.
Situasi memanas setelah Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, pada 7 November menyatakan, kemungkinan pengerahan militer Jepang jika terjadi konflik di Selat Taiwan.
Pernyataan tersebut memicu kritik keras dari PLA Daily (media resmi militer China) yang memperingatkan, Jepang berisiko membawa seluruh negara menjadi medan perang, jika ikut campur secara militer.
Imbauan China agar warganya menunda perjalanan keluar negeri, khususnya ke Jepang, merupakan lanjutan dari respons diplomatik Beijing.
Dari sudut pandang pariwisata, langkah ini langsung memberi pukulan telak pada arus wisata China ke Jepang.
Dengan adanya imbauan tersebut, dampak imbauan China pada pariwisata Jepang mulai dirasakan dalam hitungan hari.
Data dari perusahaan teknologi perjalanan China Trading Desk menunjukkan, keberangkatan ke Jepang dalam beberapa minggu ke depan turun lebih dari 30 persen dibanding pekan sebelumnya.
Padahal, China merupakan penyumbang wisatawan terbesar bagi Jepang pada sembilan bulan pertama tahun ini, dengan total kunjungan mencapai 7,49 juta orang menurut Kyodo News.
Data Japan National Tourism Organisation juga mencatat, lebih dari 6,7 juta wisatawan China mengunjungi Jepang pada Januari-Agustus 2025, naik signifikan dari tahun sebelumnya.
Popularitas Jepang selama ini didorong oleh jaraknya yang dekat, kekayaan budaya, serta harga wisata yang lebih terjangkau berkat melemahnya yen.
Namun, imbauan terbaru dari Beijing membuat tren positif itu kini kembali terhambat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: The Japan Times