Selasa, 11 NOVEMBER 2025 • 18:02 WIB

Israel Tetap Berulah meski Gencatan Senjata: Batasi Bantuan Kemanusiaan ke Jalur Gaza

Author

Anak-anak di reruntuhan bangunan kawasan Gaza, Palestina. (REUTERS/Mahmoud Issa)

INDOZONE.ID - Israel tetap berulah meski gencatan senjata dengan kelompok Hamas telah disepakati sejak 10 Oktober 2025. PBB menjelaskan, bahwa bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza, Palestina, dibatasi.

Juru bicara PBB, Farhan Haq, menjelaskan birokrasi Israel menghambat masuknya bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza setelah sebulan gencatan senjata.

Anak-anak meratapi reruntuhan di Kota Gaza karena serangan udara Israel. (REUTERS/Mahmoud Issa)

Haq membeberkan pula larangan dari Israel terhadap mitra kemanusiaan utama. Tak cuma itu, ia menyebut Israel cuma membuka sedikit penyebrangan dan rute bantuan, ditambah ketidaknyamanan di tengah gencatan senjata karena ulah mereka.

Merespons kondisi tersebut, Haq menyatakan pihaknya masih harus mengkoordinasikan setiap pergerakan dengan otoritas Israel di beberapa wilayah.

"Israel hanya memfasilitasi hanya dua dari delapan upaya bantuan secara keseluruhan dan "empat di antaranya terhambat di lapangan — termasuk satu yang tertunda selama 10 jam sebelum tim akhirnya mendapat lampu hijau untuk bergerak,” jelas Haq, dikutip dari ANTARA, Selasa (11/11/2025).

Baca juga: Jurnalis Ini Dipecat Gegara Menanyakan Sikap Komisi Eropa terhadap Israel

Bahkan, Haq membeberkan dengan frontal, bahwa hambatan utama dalam pemberian bantuan kemanusiaan adalah Israel.

"Ya, hambatannya ada di pihak Israel. Kami sudah meminta dan berusaha berkoordinasi dengan mereka untuk membuka lebih banyak penyeberangan, tetapi mereka masih belum melakukannya," ujarnya.

Gencatan Senjata di Jalur Gaza

Sebelumnya, perjanjian gencatan senjata diusulkan oleh Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, yang meliputi penarikan pasukan Israel, pertukaran tahanan, akses bantuan kemanusiaan, dan perlucutan senjata Hamas yang berlaku sejak 10 Oktober 2025.

Pada 13 Oktober, Trump, Presiden Mesir Abdel Fattah Sisi, Emir Qatar Tamim bin Hamad Al Thani, dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menandatangani deklarasi mengenai gencatan senjata di Gaza.

Tentunya, gencatan senjata ini jadi angin segar setelah dua tahun perang Hamas dan Israel di Gaza. Dalam perang ini, Israel telah menewaskan lebih dari 68.000 warga Palestina, melukai 170.000 orang, dan menghancurkan infrastruktur di Gaza.

Baca juga: YouTube Hapus 700-an Video Bukti Pelanggaran HAM Israel

Dengan gencatan senjata ini, Hamas diwajibkan membebaskan 20 sandera Israel yang masih hidup. Diketahui, ke-20 sandera itu telah ditahan di Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2023.

Di sisi lain, Israel juga wajib membebaskan 1.718 tahanan Palestina dari Gaza dan 250 tahanan Palestina yang ditahan di penjara-penjara Israel.

Namun, Israel telah melakukan berbagai pelanggaran sejak perjanjian gencatan senjata diberlakukan. Oleh sebab itu, kelanjutan gencatan senjata yang diinisiasi AS ini, menjadi pertanyaan sekarang.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Antara

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU