Ratusan Orang Tewas Akibat Banjir Bandang di Pakistan, Petugas Kesulitan Berikan Bantuan
INDOZONE.ID - Tim penyelamat masih berjuang mengevakuasi korban jiwa dari timbunan lumpur dan reruntuhan setelah banjir bandang melanda wilayah utara Pakistan akibat hujan monsun.
Berdasarkan data otoritas setempat, jumlah korban tewas akibat banjir Pakistan ini telah mencapai sedikitnya 344 orang hanya dalam 48 jam terakhir.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana Pakistan menyebutkan, mayoritas korban berasal dari Provinsi Khyber Pakhtunkhwa, daerah pegunungan yang paling parah terdampak.
Baca juga: Korban Banjir Bandang dan Longsor di Pakistan Tembus 351 Jiwa, Evakuasi Masih Berlangsung
Sebanyak 324 orang meninggal dunia akibat rumah yang ambruk dan terjangan banjir mendadak. Selain itu, lebih dari 130 orang mengalami luka-luka.
Seorang warga menggambarkan momen tersebut seperti “akhir dunia” ketika tanah bergetar hebat dihantam derasnya air. Berita banjir Pakistan 2025 ini menjadi sorotan internasional karena skala kerusakan yang ditimbulkan begitu besar.
Sekitar 2.000 petugas penyelamat dikerahkan di sembilan distrik terdampak. Namun, upaya mereka terhambat hujan yang masih turun, longsor, serta jalan yang terputus. Kondisi ini membuat distribusi bantuan sulit dilakukan, terutama untuk mengangkut alat berat dan ambulans.
Baca juga: Pakistan Bentuk Pasukan Rudal Baru, Perkuat Pertahanan di Tengah Ketegangan dengan India
“Kami terpaksa berjalan kaki menuju beberapa lokasi bencana karena akses jalan sama sekali terputus,” ujar juru bicara badan penyelamat Khyber Pakhtunkhwa, Bilal Ahmed Faizi.
Banyak warga enggan mengungsi karena masih menunggu kabar keluarga yang tertimbun reruntuhan.
Pemerintah provinsi telah menetapkan beberapa distrik pegunungan, termasuk Buner, Bajaur, Swat, Shangla, Mansehra, dan Battagram sebagai wilayah bencana. Pihak berwenang juga mengeluarkan peringatan hujan lebat untuk kawasan barat laut Pakistan.
Selain itu, 11 orang dilaporkan meninggal di Kashmir yang dikelola Pakistan, sembilan orang di Gilgit-Baltistan, serta lima korban jiwa lainnya akibat jatuhnya helikopter pemerintah saat menjalankan misi bantuan.
Banjir bandang tak hanya merenggut korban jiwa, tetapi juga meninggalkan luka mendalam bagi warga. Banyak yang kehilangan harta benda, termasuk peralatan rumah tangga dan persiapan pernikahan anak.
“Semua pakaian dan makanan hanyut terbawa arus. Bahkan, barang-barang untuk pernikahan putri saya ikut hilang,” kata seorang warga bernama Abdul Hayat.
Di Distrik Swat, jalanan dipenuhi lumpur, tiang listrik roboh, dan kendaraan terperangkap dalam tumpukan tanah. Seorang guru, Saifullah Khan, mengaku masih sulit menerima kenyataan setelah membantu mengevakuasi jenazah murid-muridnya sendiri.
“Seluruh wilayah ini sedang mengalami trauma yang sangat dalam. Rasanya seperti ujian berat yang menimpa kami semua,” ujarnya.
Musim hujan monsun memang membawa sekitar 70 persen curah hujan tahunan yang vital bagi sektor pertanian dan ketahanan pangan Pakistan. Namun, curah hujan yang ekstrem juga kerap menimbulkan bencana.
Penyebab banjir bandang di Pakistan kali ini diyakini berkaitan dengan hujan monsun yang datang lebih awal, intensitasnya lebih tinggi, serta diperparah oleh kerentanan infrastruktur di daerah pegunungan.
Tahun 2022 lalu, banjir monsun menenggelamkan sepertiga wilayah negara tersebut dan menewaskan hampir 1.700 orang. Para ahli memperingatkan bahwa perubahan iklim membuat Pakistan semakin rentan terhadap bencana serupa di masa mendatang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Reuters