Senin, 11 AGUSTUS 2025 • 13:03 WIB

Serangan Udara Israel ke Rumah Sakit Al-Shifa Tewaskan 5 Jurnalis Al Jazeera, Termasuk Anas al-Sharif

Author

Israel Tewaskan Anas al-Sharif dan Empat Jurnalis Al Jazeera Lainnya di Gaza. (sumber: Al Jazeera Media Network)

INDOZONE.ID - Serangan udara militer Israel yang diluncurkan pada Minggu malam (10/08/2025) waktu setempat dilaporkan menewaskan lima jurnalis Al Jazeera di dalam tenda pers mereka. Serangan tersebut memicu kecaman luas terhadap serangan militer yang menyasar fasilitas kesehatan dan awak media di tengah konflik berkepanjangan.

Sejumlah lima orang staf jurnalis Al Jazeera tewas dalam insiden ini, lapor media Al Jazeera. Mereka adalah Mohammed Qreiqeh, koresponden media Al Jazeera; kameramen Ibrahim Zaher, Mohammed Noufal, dan Moamen Aliwa; serta koresponden vokal terkemuka Anas al-Sharif. Serangan udara yang ditargetkan ini menyasar Rumah Sakit Al-Shifa yang terletak di Rimal Utara, Jalur Gaza, di mana tenda jurnalis didirikan tepat di luar area rumah sakit tersebut.

Militer Israel (IDF) secara resmi mengakui bertanggung jawab atas serangan ini. Mereka mengklaim bahwa serangan didasarkan pada tuduhan keterlibatan Anas al-Sharif pada organisasi Hamas. Mereka mengklaim yang kemudian dibantah karena bukti yang tidak akurat, bahwa al-Sharif “pernah menjabat sebagai kepala sel teroris dalam organisasi Hamas dan bertanggung jawab atas peluncuran serangan roket terhadap warga sipil Israel dan pasukan IDF.” Israel menyatakan memiliki bukti kuat yang berasal dari intelijen dan dokumen.

Klaim ini dibantah tegas oleh media Al Jazeera dalam pernyataan di laman resminya. Menyebut al-Sharif sebagai “salah satu jurnalis Gaza paling berani,” mereka menyatakan bahwa serangan ini adalah “serangan terang-terangan yang direncanakan terhadap kebebasan pers.” Mereka juga menyatakan secara resmi bahwa pasukan dan pemerintahan Israel adalah satu-satunya pihak yang bertanggung jawab penuh atas serangan terencana ini. Al Jazeera juga mengungkap bahwa serangan ini merupakan “upaya putus asa untuk membungkam suara-suara yang mengungkap rencana pengambilalihan dan pendudukan Gaza yang akan datang.”

Beberapa bulan sebelum serangan, ancaman dan tuduhan telah dijatuhkan pihak Israel kepada jurnalis Anas al-Sharif. Juru bicara IDF Israel, Avichai Adraee, menuduh al-Sharif sebagai anggota sayap militer Hamas dengan membagikan sebuah video tentang al-Sharif di platform X. Tuduhan ini ditepis oleh Irene Khan, Pelapor Khusus PBB untuk kebebasan berekspresi, yang menyebutnya sebagai “klaim tanpa bukti” dan “serangan terang-terangan terhadap jurnalis.”

Baca juga: Aksi Solidaritas untuk Gaza, Puluhan Ribu Warga Sydney Lakukan 'Long March' Lintasi Jembatan Harbour

Reruntuhan di Gaza karena serangan Israel (REUTERS/Suhaib Salem)

Pada bulan Juli lalu, jurnalis al-Sharif melaporkan kepada Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ) bahwa ia hidup dengan “perasaan bahwa saya bisa saja dibom dan gugur kapan saja.” Mendengar berita kematian al-Sharif beserta empat jurnalis lainnya, CPJ menyatakan bahwa pihaknya “terkejut” dan menyebut “pola Israel yang kerap melabeli jurnalis sebagai militan tanpa memberikan bukti yang kredibel menimbulkan pertanyaan serius tentang niat dan penghormatannya terhadap kebebasan pers.”

Direktur Regional CPJ, Sara Qudah, mengatakan, “Jurnalis adalah warga sipil dan tidak boleh menjadi target. Mereka yang bertanggung jawab atas pembunuhan ini harus diadili.”

Kecaman juga datang dari Yayasan Kebebasan Pers (The Freedom of the Press Foundation) yang menyerukan tindakan internasional untuk menghentikan serangan lebih lanjut terhadap media. Seth Stern, direktur advokasi di organisasi tersebut, mengatakan, “Setiap orang yang marah melihat gambar-gambar mengerikan tentang kelaparan dan kekejaman di Gaza harus menyadari bahwa mereka tidak akan bisa melihat kekejaman yang didanai pemerintah mereka (Amerika Serikat), tanpa para jurnalis yang mempertaruhkan nyawa.”

“Itulah alasan sebenarnya mengapa Israel menargetkan dan membunuh mereka,” tambahnya.

Serangan terhadap Anas al-Sharif bukanlah serangan militer Israel pertama terhadap staf jurnalis media Al Jazeera. Hossam Shabat, seorang jurnalis Al Jazeera berusia 23 tahun, dan koresponden Mohammed Mansour terbunuh oleh serangan udara pada bulan Maret 2025. Ismail al-Ghoul dan kameramennya, Rami al-Rifi, terbunuh pada bulan Juli lalu. Istri, putra, putri, dan cucu kepala koresponden Wael al-Dahdouh juga tewas pada Oktober 2023, dan ia sendiri terluka dalam serangan beberapa minggu kemudian yang menewaskan juru kamera Al Jazeera, Samer Abu Daqqa.

Baca juga: Kabinet Israel Setujui Pengambilalihan Gaza, Warga Sipil Terancam Diungsikan Paksa di Tengah Kelaparan

Sejak awal perang berlangsung pada 7 Oktober 2023, Israel menolak mengizinkan jurnalis asing masuk ke Gaza untuk meliput krisis kemanusiaan yang dialami warga sipil akibat perang. Walaupun begitu, menurut klaim media Al Jazeera, banyak jurnalis mereka yang tetap bertahan di wilayah yang terblokade.

Menurut laporan kantor media pemerintah Gaza, 237 jurnalis sudah terbunuh sejak awal perang. Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ) juga menyebut sedikitnya 186 jurnalis telah tewas dalam konflik di Gaza. Menanggapi hal ini, Israel membantah ‘sengaja’ menargetkan jurnalis.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Al Jazeera, Theguardian.com

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU