Sabtu, 26 JULI 2025 • 10:44 WIB

Kamboja Ajak Thailand Berdamai, Serukan Gencatan Senjata Setelah Bentrokan Mematikan

Author

Sebuah toko kelontong di area SPBU mengalami kerusakan setelah Kamboja menembakkan peluru artileri ke Provinsi Sisaket, Thailand, pada Jumat, 25 Juli 2025. (VNExpress)

INDOZONE.ID - Setelah dua hari bentrokan mematikan Thailand-Kamboja yang menewaskan belasan orang, Kamboja menyerukan gencatan senjata tanpa syarat dan mengajak Thailand untuk mencari solusi damai. 

Permintaan ini disampaikan langsung oleh Duta Besar Kamboja untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Chhea Keo, dalam pertemuan tertutup Dewan Keamanan PBB pada Jumat (25/7/2025) waktu setempat.

Konflik yang sudah lama membara di perbatasan Thailand-Kamboja kembali pecah dengan eskalasi besar pada Kamis lalu. 

Baca juga: Thailand Peringatkan Konflik Perbatasan dengan Kamboja Bisa Meletus Jadi Perang

Pertikaian yang melibatkan serangan udara, tembakan artileri berat, dan pergerakan pasukan darat ini mendorong Kamboja untuk segera menyerukan gencatan senjata dengan Thailand guna mencegah jatuhnya korban lebih banyak.

“Pemerintah Kamboja meminta gencatan senjata atas konflik di perbatasan Thailand-Kamboja secara langsung, tanpa syarat. Kami juga menyerukan penyelesaian damai melalui jalur diplomatik,” ujar Chhea Keo setelah menghadiri pertemuan di markas besar PBB.

Di wilayah perbatasan, terutama di Provinsi Oddar Meanchey, dentuman senjata masih terdengar pada Jumat pagi. Seorang pria lansia berusia 70 tahun dilaporkan tewas dan lima lainnya mengalami luka akibat tembakan artileri.

Sementara itu, Thailand menyatakan telah mengevakuasi lebih dari 138.000 warga dari wilayah rawan di perbatasan.

Kementerian Kesehatan Thailand menyebutkan bahwa sejauh ini terdapat 15 korban jiwa, yang terdiri dari 14 warga sipil dan 1 tentara serta 46 orang terluka, termasuk 15 anggota militer.

Militer Thailand mengonfirmasi bahwa bentrokan kembali terjadi di tiga titik pada Jumat dini hari. Pasukan Kamboja disebut menembakkan roket BM-21 dan artileri medan, sementara pasukan Thailand merespons dengan serangan balasan yang dianggap tepat sasaran.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Thailand, Nikorndej Balankura, menyatakan bahwa eskalasi mulai mereda pada Jumat sore.

Ia juga menyebutkan bahwa Thailand siap untuk menyelesaikan konflik melalui diplomasi, baik langsung maupun dengan bantuan pihak ketiga seperti Malaysia.

“Kami terbuka jika Kamboja ajak Thailand damai secara bilateral atau lewat mediasi pihak ketiga seperti Malaysia. Tapi sampai saat ini belum ada respons dari pihak Kamboja,” ujar Nikorndej.

Perdana Menteri Sementara Thailand, Phumtham Wechayachai, memperingatkan bahwa jika situasi tidak segera terkendali, bukan tidak mungkin akan berkembang menjadi perang terbuka.

“Untuk sekarang, masih dalam level bentrokan terbatas,” ucapnya kepada media di Bangkok.

Baca juga: Thailand Peringatkan Konflik Perbatasan dengan Kamboja Bisa Meletus Jadi Perang

Sementara itu, warga di sisi Kamboja yang tinggal dekat perbatasan mulai mengungsi. Banyak dari mereka mencari perlindungan ke kuil-kuil Buddha.

Seorang warga bernama Pro Bak (41) mengungkapkan ketakutannya, “Saya tinggal sangat dekat dengan perbatasan. Kami sangat takut.

Pertikaian antara Thailand dan Kamboja bukanlah hal baru. Sengketa atas wilayah sepanjang 800 km di perbatasan sudah terjadi sejak lama. Konflik besar sempat terjadi pada 2008 hingga 2011 dan menewaskan sedikitnya 28 orang, serta menyebabkan puluhan ribu warga mengungsi.

Putusan Mahkamah Internasional pada 2013 sempat meredam konflik, namun ketegangan kembali memuncak pada Mei tahun ini setelah seorang tentara Kamboja tewas dalam insiden terbaru.

Kedua negara kini saling menyalahkan soal siapa yang memulai serangan terlebih dahulu. Thailand bahkan menuding Kamboja menyerang fasilitas sipil seperti rumah sakit dan SPBU. 

Di sisi lain, Kamboja mempertanyakan logika bahwa negara mereka yang lebih kecil memulai konflik dengan kekuatan militer yang lebih terbatas.

“Dewan Keamanan telah menyerukan agar kedua pihak menahan diri dan mengutamakan jalur diplomatik. Kami mendukung penuh seruan tersebut,” tegas Chhea Keo.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: VN Express

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU