Jumat, 25 JULI 2025 • 16:32 WIB

Thailand Peringatkan Konflik Perbatasan dengan Kamboja Bisa Meletus Jadi Perang

Author

Orang-orang mengungsi di Surin, Thailand, Jumat 25 Juli 2025. (REUTERS/Athit Perawongmetha)

INDOZONE.ID - Ketegangan yang terus meningkat di perbatasan Thailand-Kamboja kini dikhawatirkan bisa berubah menjadi perang terbuka. 

Pejabat Perdana Menteri Thailand, Phumtham Wechayachai, pada Jumat (25/7/2025), mengingatkan eskalasi militer Thailand-Kamboja yang terus berlanjut bisa berkembang menjadi konflik berskala besar.

Orang-orang mengungsi di Surin, Thailand, Jumat 25 Juli 2025. (REUTERS/Athit Perawongmetha)

Bentrok yang terjadi sejak Kamis, telah menewaskan belasan orang dan memaksa lebih dari 138.000 warga Thailand meninggalkan rumah mereka.

Baca juga: Apa yang Terjadi di Perbatasan Thailand-Kamboja hingga 14 Korban Tewas?

Bentrokan ini mencerminkan potensi serius konflik perbatasan Thailand-Kamboja jadi perang jika tidak segera dikendalikan.

Pertempuran melibatkan jet tempur, artileri berat, tank, dan pasukan darat. Situasi genting ini mendorong Dewan Keamanan PBB untuk menjadwalkan pertemuan darurat membahas krisis tersebut.

Dari sisi Kamboja, Provinsi Oddar Meanchey melaporkan satu warga sipil berusia 70 tahun tewas dan lima lainnya luka-luka karena tembakan artileri. 

Baca juga: Bentrok di Perbatasan, Thailand dan Kamboja Saling Serang dengan Jet Tempur dan Roket

Sementara Kementerian Kesehatan Thailand mencatat 15 korban jiwa yang terdiri dari 14 warga sipil dan satu tentaraserta 46 korban luka termasuk 15 prajurit.

"Kami telah berusaha menahan diri karena kita ini negara tetangga, namun militer Thailand kini sudah diberi perintah untuk bertindak jika situasi mendesak," tegas Phumtham kepada media di Bangkok. 

"Kalau tidak segera diredam, situasi ini bisa benar-benar menjadi perang dengan Kamboja."

Di kota Samraong, Kamboja, sekitar 20 km dari perbatasan, suasana mencekam saat keluarga-keluarga mengungsi sambil membawa anak-anak dan barang seadanya. Tembakan senjata terdengar sejak pagi.

Saya tinggal dekat sekali dengan perbatasan. Kami ketakutan karena suara tembakan terdengar sejak subuh,” ujar Pro Bak (41), yang membawa keluarganya mencari perlindungan ke sebuah vihara.

Di sisi lain, pasukan militer dari kedua negara tampak bersiaga. Prajurit Kamboja terlihat mempersiapkan peluncur roket dan bergerak cepat ke arah garis depan.

Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, yang saat ini menjabat sebagai Ketua ASEAN, telah menghubungi pemimpin kedua negara. Ia mendorong terciptanya gencatan senjata dan pembukaan jalur dialog damai.

"Saya menyambut baik adanya sinyal positif dari Bangkok dan Phnom Penh untuk mempertimbangkan solusi damai," tulisnya di Facebook.

Namun harapan itu pupus saat bentrokan kembali pecah di tiga lokasi pada Jumat pagi. Menurut militer Thailand, Kamboja meluncurkan serangan dengan senjata berat, artileri, dan sistem roket BM-21. Pasukan Thailand membalas dengan tembakan yang disebut “proporsional”.

Baca juga: Jet Tempur F-16 Thailand Serang Kamboja, Konflik Perbatasan Memuncak

Eskalasi militer Thailand-Kamboja ini merupakan kelanjutan dari konflik lama mengenai perbatasan sepanjang 800 km yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Antara 2008-2011, konflik serupa menewaskan sedikitnya 28 orang sehingga puluhan ribu orang mengungsi.

Putusan Mahkamah Internasional pada 2013 sempat meredakan ketegangan. Akan tetapi, konflik kembali memanas sejak Mei lalu, ketika seorang tentara Kamboja tewas dalam bentrokan baru.

Menurut militer Thailand, bentrokan Kamis lalu terpusat di enam lokasi, termasuk di sekitar dua candi kuno. Jet F-16 dikerahkan untuk menyerang target militer Kamboja, sedangkan roket dan peluru artileri Kamboja menghantam wilayah Thailand, termasuk sebuah rumah sakit dan SPBU.

Ketegangan meningkat setelah Thailand mengusir duta besar Kamboja dan menarik diplomatnya dari Phnom Penh. Sebagai respons, Kamboja menurunkan level hubungan diplomatik dan menarik sebagian besar staf kedutaannya.

Perdana Menteri Kamboja, Hun Manet, meminta Dewan Keamanan PBB menggelar pertemuan darurat. Amerika Serikat dan Prancis menyerukan penghentian konflik segera. Uni Eropa dan Tiongkok juga menyampaikan kekhawatiran dan mendorong agar dialog dibuka.

Zachary Abuza, profesor dari National War College di Washington DC, mengatakan kekuatan militer Thailand jauh lebih unggul dibandingkan Kamboja. Akan tetapi, Kamboja dinilai lebih nekat dalam mengambil risiko.

"Militer Thailand jauh lebih besar dan memiliki kemampuan serangan presisi tinggi," ujar Abuza.

"Tapi Kamboja tampaknya lebih agresif dan siap mengambil risiko besar," sambungnya.

Abuza juga menambahkan, bahwa konflik ini tidak memberi keuntungan jangka pendek bagi kedua negara.

Saya tidak melihat ada manfaat strategis jika konflik ini terus berlanjut dan berkembang," pungkasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: VN Express

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU