Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim. (ANTARA FOTO/Galih Pradipta)
INDOZONE.ID - Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim akan memfasilitasi pertemuan pemimpin Thailand dan Kamboja, untuk membahas negosiasi gencatan senjata di Putrajaya, Malaysia.
Dia mengaku telah diminta pemerintah Thailand dan Kamboja, untuk mencoba dan merundingkan penyelesaian damai.
"Saya sedang membahas parameternya, syaratnya, tapi yang penting adalah gencatan senjata segera," ujar Anwar.
Menurutnya, diskusi antara kedua pemimpin itu muncul setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mendesak mereka untuk menemukan solusi atas krisis yang terjadi.
Baca juga: Donald Trump Serukan Gencatan Senjata, Baku Tembak Masih Terjadi di Perbatasan Thailand-Kamboja
Anwar mengatakan bahwa tim dari Malaysia dan mungkin beberapa dari negara tetangga, akan memantau diskusi tersebut untuk memastikannya terlaksana dengan baik.
"Dan saya harap ini bisa berhasil. Kita harus bekerja untuk memastikan parameternya selaras. Menteri Luar Negeri dan Kementerian Luar Negeri bekerja sepanjang malam untuk memastikan semuanya jelas, karena tidak mudah, Anda tahu, ketika terjadi baku tembak dan pertempuran," jelasnya.
"Jadi, meskipun tidak separah di banyak negara lain, kita harus menghentikannya karena saya selalu bangga dengan fakta bahwa ASEAN masih merupakan kawasan paling damai di dunia dan ekonomi dengan pertumbuhan tercepat di dunia," ujarnya.
Baca juga: Perang Kamboja-Thailand Berlanjut, Korban Tewas Jadi 35 Orang
Sebelumnya, dilaporkan bahwa pemerintah Thailand telah mengonfirmasi akan menghadiri konsultasi perdamaian regional di Malaysia pada hari Senin untuk membahas meningkatnya konflik perbatasan dengan Kamboja.
Juru bicara Pemerintah Thailand Jirayu Huangsap mengatakan tujuan pembicaraan tersebut adalah untuk mendengarkan proposal yang dapat menghasilkan keputusan yang tepat dan pada akhirnya memulihkan perdamaian.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: ANTARA