Mengulas Seberapa Penting Selat Malaka: Jalur Strategis Dunia yang Jadi Kunci Geopolitik dan Ekonomi Global
INDOZONE.ID - Selat Malaka sejak lama dikenal sebagai jalur perdagangan penting yang menghubungkan Samudra Hindia dengan Laut China Selatan dan Samudra Pasifik, serta terletak di tiga negara pesisir yakni, Indonesia, Malaysia dan Singapura.
Namun tak banyak yang tahu seberapa penting atau krusial selat yang dijuluki sebagai "urat nadi" perekonomian dan geopolitik dunia ini.
Dalam artikel ini, kita akan membahas seberapa penting Selat Malaka melalui perspektif Geopolitik dan ekonomi maritim.
Baca juga: Membahas Kemunculan USS Miguel Keith di Selat Malaka: Cuma Transit atau Ada Misi Khusus?
Sejarah Selat Malaka
Dalam catatan sejarah, Selat Malaka pernah dikuasai oleh Kekaisaran Sriwijaya pada abad ke-7 hingga ke-11. Kemudian, pada abad ke-15, peran tersebut dilanjutkan oleh Kesultanan Malaka yang berkembang sebagai pusat perdagangan regional.
Negara Barat turut menyadari pentingnya Selat Malaka. Maka pada 1511, Portugis berhasil merebut Malaka. Lalu pada 1641, Belanda menguasai wilayah yang kini dikenal sebagai Jakarta. Sepanjang abad ke-17 hingga ke-18, Vereenigde Oostindische Compagnie mengendalikan perdagangan di kawasan ini.
Inggris tak ingin cuma jadi penonton. Demi menjamin keamanan jalur dagang menuju China, mereka mendirikan koloni di Singapura pada 1819.
Persaingan antara Inggris dan Belanda akhirnya berakhir pada 1824 melalui perjanjian yang menetapkan bahwa Inggris akan menjaga Selat Malaka tetap aman dan terbuka bagi negara-negara sahabat.
Seberapa Penting Selat Malaka?
Selat Malaka membentang sepanjang kurang lebih 900 kilometer di antara Semenanjung Malaysia dan Pulau Sumatera, selat ini adalah salah satu chokepoint (titik sempit strategis) paling krusial di peta maritim global.
Setiap tahunnya, sekitar 120.000 kapal melintasi Selat Malaka dengan mengangkut antara 1/5 dan 1/4 perdagangan laut dunia.
Sebanyak 1/2 dari minyak yang diangkut oleh kapal tanker melintasi selat ini; pada 2003, jumlah itu diperkirakan mencapai 11 juta barel minyak per hari, suatu jumlah yang dipastikan akan meningkat mengingat besarnya permintaan dari Tiongkok.
Sekitar 80% impor minyak mentah Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan yang berasal dari Timur Tengah diangkut melewati jalur ini. Bagi negara-negara tersebut, Selat Malaka bukan sekadar jalur dagang, melainkan pilar ketahanan energi nasional mereka.
Jika Selat Malaka terganggu, maka akan mengganggu kestabilan energi dunia. Harga minyak bisa naik, pasokan energi sejumlah negara terganggu hingga memengaruhi perekonomian dunia.
Siapa Pemilik Selat Malaka?
Ada anggapan yang menyebut Selat Malaka punya Malaysia karena namanya. Ada juga yang menyebut milik Indonesia karena garis pantainya yang panjang.
Namun anggapan itu salah karena Selat Malaka tak dimiliki oleh sebuah negara. Faktanya, Selat Malaka dikelola bersama oleh Indonesia, Malaysia dan Singapura.
Berdasarkan Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut (UNCLOS), Selat Malaka berstatus sebagai selat yang digunakan untuk navigasi internasional. Artinya, kapal dari negara mana pun, baik kapal dagang maupun militer memiliki hak lintas transit (right of transit passage). Mereka bebas melintas selama tidak mengancam negara pesisir.
Seberapa Siap Negara Kawasan Menjaga Selat Malaka?
Untuk mengatasi kecelakaan pelayaran, Malaysia dan Singapura mengoperasikan sistem pemantauan lalu lintas kapal guna mengatur arus di Selat Malaka.
Dalam hal keamanan, kerja sama patroli laut antara Indonesia, Malaysia, dan Singapura terus diperkuat, termasuk berbagi informasi terkait aktivitas mencurigakan.
Ancaman Terbesar Selat Malaka
Sebagai jalur vital dan penting, Selat Malaka menghadapi berbagai ancaman serius.
1. Kepadatan Jalur Pelayaran
Sebagai “chokepoint”, Selat Malaka dilintasi sekitar 120.000 kapal setiap tahun. Kepadatan ini meningkatkan risiko kecelakaan navigasi. Tabrakan kapal tidak hanya mengganggu arus perdagangan, tetapi juga berpotensi menimbulkan kerusakan lingkungan, seperti tumpahan minyak.
2. Perompakan
Meski sempat menurun sejak 2006, kasus perompakan kembali meningkat. Data dari ReCAAP ISC mencatat 38 insiden pada paruh pertama 2023, naik 41% dibanding tahun sebelumnya. Aksi ini jelas mengganggu keamanan pelayaran dan perdagangan.
3. Dampak Perubahan Iklim
Perubahan iklim memperburuk kondisi kawasan, mulai dari kenaikan permukaan laut, meningkatnya bencana alam, hingga perubahan pola migrasi ikan. Dampaknya tidak hanya pada lingkungan, tetapi juga pada ekonomi masyarakat pesisir dan rantai pasok regional akibat terganggunya transportasi laut.
Baca juga: BMKG Sebut Siklon Tropis Senyar Fenomena Tak Lazim di Selat Malaka
4. Ketegangan Geopolitik
Persaingan antara Amerika Serikat dan China turut memengaruhi arus perdagangan. Kebijakan seperti tarif perdagangan dan pembatasan ekspor teknologi dapat menurunkan volume perdagangan global, termasuk yang melewati Selat Malaka.
Selain itu, konflik di Laut China Selatan juga menjadi ancaman serius. Kawasan ini dikenal sebagai titik rawan konflik karena sengketa wilayah. Jika konflik meningkat, dampaknya bisa mengganggu stabilitas kawasan hingga rantai pasok global.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: ScienceDirect