INDOZONE.ID - Debut VTuber Sena ASN Digital dari DPD RI pada 26 Oktober lalu langsung menarik perhatian publik. Terlebih, video perdananya kini telah dihapus dari kanal YouTube Shorts.
Dilansir dari unggahan Instagram Story @dpdmuda pada Kamis (30/10/2025), kreator Sena menjelaskan bahwa penghapusan dilakukan untuk memperbaiki desain karakter yang dinilai kurang pantas karena gerakannya dianggap berlebihan.
Ia juga menyampaikan permintaan maaf dan menegaskan bahwa karakter Sena akan dievaluasi kembali dari sisi desain serta visual. Oleh sebab itu, seluruh konten di kanal resmi DPD RI untuk sementara dihapus.
Kreator turut menegaskan bahwa karakter Sena dibuat tanpa bantuan AI dan tanpa menggunakan anggaran kantor. Ia bahkan membagikan proses pembuatan karakter secara lengkap.
Baca juga: DPD RI Kenalkan “Sena”, Vtuber Resmi Pembawa Berita dari Senayan!
Awalnya, karakter Sena dirancang berambut pendek agar tampak rapi. Namun, pada tahap akhir, diputuskan untuk diberi rambut panjang. Detail pada mata karakter diberi simbol Garuda yang melambangkan Bhinneka Tunggal Ika serta semangat persatuan dalam keberagaman.
Kebetulan, peluncuran karakter ini berdekatan dengan HUT ke-21 DPD RI yang jatuh pada 1 Oktober, bertepatan dengan Hari Kesaktian Pancasila. Pita rambut Sena dihiasi kapas yang terinspirasi dari simbol padi dan kapas, melambangkan kemakmuran serta kesejahteraan daerah.
Warna hijau toska dipilih untuk mewakili kesuburan dan kekayaan alam Indonesia, sedangkan warna emas merepresentasikan kemakmuran daerah. Hiasan rambutnya terinspirasi dari kupu-kupu Sayap Burung Obi, spesies endemik asal Maluku Utara.
Ide Awal dan Proses Kreatif
Pada awalnya, kreator Sena berencana membuat buku komik untuk anak SD hingga SMP dengan tema ikan arwana. Namun setelah melakukan analisis menggunakan metode APKL, USG, dan diagram fishbone, ide tersebut dianggap kurang relevan untuk generasi Alpha.
Kreator kemudian mencari cara agar pesan yang disampaikan bisa lebih menarik secara visual, ringan, dan interaktif. Dari situlah muncul ide menghadirkan karakter VTuber sebagai media komunikasi baru.
Beberapa isu yang diangkat berasal dari unit kerja, sebagian dari bidang kehumasan, dan sisanya bersifat administratif di luar tugas utama kreator. Ia hanya memiliki waktu 40 hari untuk menuntaskan proyek tersebut.
Kreator sempat membuat akun X, TikTok, dan YouTube khusus untuk proyek ini. Namun di tengah pengerjaan, email proyek sempat terkena suspend oleh Google.
Menurut penguji, karya ini seharusnya diunggah di akun resmi Instagram DPD RI agar efektivitasnya bisa diukur langsung. Setelah berdiskusi dengan Kepala Bagian Humas dan mentor, akhirnya proyek ini dipublikasikan di kanal resmi yang lebih sepi, yakni YouTube dan TikTok.
Ide membuat VTuber juga datang dari seorang rekan magang yang menyadari tren tersebut tengah digandrungi oleh Gen Z. Kreator kemudian meminta pendapat dari teman serta senior agar konsepnya dapat diterima publik.
Proses pengerjaan dilakukan di tengah kesibukan harian, termasuk saat menjaga live streaming Sidang Paripurna akhir September lalu. Karena waktu terbatas, produksi dilakukan sedikit demi sedikit agar proyek dapat selesai tepat waktu.
Selain menyiapkan naskah komik, kreator juga membuat model karakter VTuber yang memerlukan proses rigging agar bisa bergerak. Model Live2D baru rampung pada dua hingga tiga minggu terakhir menjelang peluncuran.
Kreator mengakui banyak kekurangan karena waktu pengerjaan yang sangat singkat, kurang dari satu minggu. Untungnya, seorang teman bersedia membantu proses rigging selama tiga hingga lima hari, termasuk revisi.
Salah satu bab komik masih dalam tahap pengerjaan dan akan dilanjutkan jika mendapat persetujuan. Sementara proyek VTuber direncanakan berisi delapan episode, enam di antaranya episode utama dan satu episode tambahan yang telah terealisasi.
Konten tersebut berfokus pada penjelasan mengenai apa itu DPD RI, kewenangan, serta tugasnya. Sebelum diunggah, kreator bersama mentor telah meminta izin kepada Kepala Bagian Humas. Proyek ini menjadi semacam “tabungan konten” yang berhasil diselesaikan meski di tengah keterbatasan waktu.
Baca juga: Dilirik DPD RI, Sistem Sirkular Sampah Banyuwangi Akan Jadi Percontohan Nasional
Respons Publik dan Evaluasi
Kreator mengaku tidak menyangka bahwa publik akan menyoroti detail yang awalnya dianggap sepele, namun ternyata berdampak besar. Ia menilai tidak ada pihak yang perlu disalahkan, dan justru menjadikan hal ini sebagai bahan evaluasi.
Ia menyampaikan rasa terima kasih kepada Kepala Bagian Humas serta mentor yang telah memberikan kepercayaan dan ruang untuk berkreasi.
Menurutnya, karya ini merupakan bentuk cinta dan penghargaan terhadap lembaga serta orang-orang di dalamnya yang telah berjuang menjalankan tugas sebaik mungkin. Tanpa dukungan banyak pihak, proyek ini tidak akan terwujud.
Kreator menyadari masih ada kekurangan, baik dari segi teknis maupun strategi komunikasi. Dari lubuk hatinya, ia memohon maaf atas segala kekeliruan dan kesalahpahaman yang terjadi.
Ia meyakini bahwa perubahan tidaklah mudah, namun masa depan Indonesia berada di tangan generasi muda. Hal itu pula yang mendorongnya mengubah target audiens dari anak-anak Gen Alpha menjadi kalangan muda Gen Z.
Kreator menegaskan akan mendengarkan dan mempertimbangkan semua masukan dari berbagai pihak. Ia berharap karya ini bisa menjadi sarana edukasi yang menyenangkan dan diterima masyarakat luas.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Instagram/@dpdmuda