INDOZONE.ID - Kandang yang sebelumnya kosong di Koperasi Susu Laras Ati, Kuningan, Jawa Barat, kini kembali ramai dipenuhi sapi.
Lebih dari 200 ekor sapi Holstein-Friesian bunting asal Australia tiba dan siap menjadi bagian dari program pemerintah untuk meningkatkan produksi susu nasional.
Kehadiran sapi-sapi ini diharapkan bisa menjadi langkah awal untuk memperkuat ketahanan pangan, khususnya susu segar.
Baca juga: Kampanyekan Minum Susu Murni, Puluhan Liter Susu Dibagikan secara Gratis di Boyolali
Program Makan Bergizi Gratis
Impor sapi ini erat kaitannya dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang ditujukan untuk 83 juta anak sekolah serta ibu hamil di seluruh Indonesia.
Untuk mendukung program tersebut, pemerintah menargetkan impor satu juta ekor sapi perah dalam lima tahun ke depan. Anggarannya mencapai sekitar Rp48 triliun.
Dengan program ini, populasi sapi perah di Indonesia yang saat ini sekitar 220 ribu ekor ditargetkan bisa melonjak hingga lebih dari empat kali lipat.
Harapannya, kebutuhan susu nasional bisa dipenuhi tanpa harus bergantung sepenuhnya pada impor.
Baca juga: Wabup Ulfiyah Tinjau Dapur MBG di Situbondo, Pastikan Sesuai SOP dan Dorong Pangan Lokal
Peran Swasta dalam Impor Sapi Perah
Keterbatasan ruang fiskal membuat pemerintah tidak bisa membiayai program ini secara penuh. Karena itu, perusahaan swasta didorong untuk mengambil peran dalam mendatangkan sapi perah dari luar negeri.
Skema ini dinilai tidak biasa, sehingga memunculkan keraguan dari kalangan pelaku usaha, terutama mereka yang belum berpengalaman di industri peternakan sapi perah.
Data pemerintah mencatat, sejak program diluncurkan pada Desember lalu hingga akhir Juli, jumlah sapi yang berhasil diimpor baru 11.375 ekor, seluruhnya dari Australia.
Baca juga: Gorontalo Kirim 355 Sapi ke Kalimantan, Gusnar: Kesempatan Emas bagi Peternak
Angka ini jauh dari target 200 ribu ekor sapi perah pada tahun 2025.
Lambatnya realisasi impor menimbulkan keraguan akan keberlangsungan program MBG yang menjadi salah satu janji Presiden Prabowo Subianto saat kampanye.
Ketergantungan Impor Sapi
Selama ini, Indonesia masih sangat bergantung pada impor susu bubuk dari Australia, Selandia Baru, dan Amerika Serikat.
Padahal, salah satu prioritas kebijakan Presiden Prabowo adalah meningkatkan kemandirian pangan, termasuk di sektor susu dan daging sapi.
Baca juga: Gubernur Jateng Ingatkan Bupati/Wali Kota, Perketat Pengawasan Program Makan Bergizi Gratis
Program impor sapi perah ini dipimpin oleh Kementerian Pertanian. Perusahaan swasta yang terlibat, meski sebagian tidak memiliki pengalaman dalam industri susu, diminta mendatangkan sapi hidup untuk kemudian dititipkan ke koperasi susu seperti Laras Ati.
“Bukan pemerintah yang akan mengalokasikan dana untuk mengimpor sapi hidup,” ujar Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, pada Juni lalu.
“Permintaan daging dan susu dalam negeri sangat besar, karena itu kami membuka peluang bagi investor untuk terlibat,” tegasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Reuters