Selasa, 09 SEPTEMBER 2025 • 14:10 WIB

Membangun Pendidikan Madrasah Lewat Kurikulum Berbasis Cinta dan Lima Pilar Utama

Author

Lima gokus kurikulum Berbasis Cinta, dari keimanan sampai pengamalan (Kemenag.go.id)

INDOZONE.ID - Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia terus berupaya memperkuat mutu pendidikan agama. 

Salah satu inisiatif terbaru adalah penerapan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang berorientasi pada lima pilar religiusitas, yakni keimanan, pengetahuan, penghayatan, peribadatan, dan pengamalan.

Direktur KSKK Madrasah, Nyayu Khodijah, menilai bahwa aspek penghayatan sering kali terabaikan dalam pembelajaran agama. 

“Selama ini yang kita lihat guru agama kita dari kelima hal ini yang masih sedikit sekali tersentuh adalah aspek penghayatan,” ujar Nyayu Khodijah dalam forum Dialog dari Hati: Kurikulum Berbasis Cinta, di Ciputat pada Minggu malam, (7/9/2025).

Baca juga: 45 Ribu Rumah di Jakarta Kini Bisa Nikmati Air Bersih Berkat IPA Pesanggrahan

Menurut Nyayu, dimensi penghayatan tidak bisa diabaikan karena tanpa hal tersebut pembelajaran hanya bersifat teoritis. Ia menambahkan bahwa keberhasilan KBC adalah pada upaya menyentuh seluruh aspek, bukan hanya pengetahuan. 

“Nah, KBC ini fokusnya ke semua dimensi,” ungkapnya.

Ia menyoroti kurikulum nasional yang masih dominan pada ranah kognitif. Jika ditinjau dari Taksonomi Bloom, aspek afektif hampir tidak tersentuh. 

“Kegagalan dunia pendidikan itu karena memang tidak menyentuh aspek afektif. Padahal itu aspek yang sangat penting,” kata Nyayu menegaskan.

Baca juga: BEM UI Demo Geruduk DPR RI Hari Ini, 2.862 Personel Polri hingga Damkar Siaga Pengamanan

Pandangan serupa datang dari Presiden Direktur Mizan Group, Haidar Bagir. Menurutnya, cinta bukanlah konsep kognitif, melainkan pengalaman batin. 

“Cinta adalah pengalaman, yang hanya bisa dialami dengan rasa,” ungkap Haidar. Ia menekankan bahwa untuk menghadirkan cinta dalam pendidikan diperlukan keteladanan nyata dari semua pihak.

Haidar juga menyarankan agar penerapan KBC dilakukan dengan pendekatan project-based learning. Model ini menggabungkan berbagai pengalaman belajar dan mendorong siswa menginternalisasi nilai cinta dalam kegiatan sehari-hari. 

“Itulah cara yang paling tepat dalam mengajarkan persoalan cinta,” ucapnya.

Baca juga: Sederet Fakta Mutilasi di Pacet Mojokerto, Korban Dibunuh Pacar Sendiri hingga Tubuh Dipotong Jadi 65 Bagian

Ia menegaskan bahwa cinta bukan sekadar mata pelajaran baru, melainkan harus menjadi roh yang mewarnai seluruh proses pendidikan. Dengan begitu, nilai-nilai religiusitas dapat benar-benar dihidupkan dalam keseharian peserta didik.

Kehadiran KBC diharapkan mampu menghadirkan revolusi dalam pendidikan agama, tidak hanya mencetak siswa yang berpengetahuan, tetapi juga pribadi yang beriman, berakhlak, dan mengamalkan ajaran dengan cinta.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Kemenag Go.id

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU