Sabtu, 19 JULI 2025 • 19:17 WIB

Imbas Aksi 177, Sejumlah Komunitas Ojol Lain Jadi Ikut Bersuara

Author

Ilustrasi driver ojol mengantar paket. (Freepik/Made_Dirga)

INDOZONE.ID - Setelah aksi 177 yang digelar oleh massa ojek online (ojol) yang tergabung dalam Aliansi Taktis Aksi 177 URC, kini mulai muncul sejumlah komunitas ojol lainnya yang bersuara. Mereka sepakat dengan apa yang disuarakan oleh para ojol dalam aksi 177 lalu.

Salah satunya dikatakan oleh Hadi Darsono, Ketua URC Bekasi Bersatu. Dia mengatakan selama ini para mitra driver ojol masih menikmati potongan 20 persen untuk berbagai fasilitas yang ada.

"Kami sadar bahwa sistem yang kami nikmati sekarang tidak berdiri sendiri. Potongan komisi itu kembali ke kami dalam bentuk perlindungan dan dukungan. Kalau komisi dipaksa diturunkan drastis siapa yang menjamin semua itu tetap ada?," kata Hadi kepada wartawan, Sabtu (19/7/2025).

Baca juga: Mantan Presiden Korea Selatan Yoon Suk Yeol Didakwa atas Penyalahgunaan Kekuasaan

Pernyataan serupa diujar oleh Ketua Driver Ojol Klender, Indra Jaya. Dia mengatakan pekerjaan ojol tidak hanya sebatas mengantar penumpang tapi juga menjadi tulang punggung UMKM.

"Layanan kami tidak berdiri sendiri. Mitra, warung, restoran hingga toko klontong ikut hidup bersama kami. Kalau sistem kami diganggu maka efeknya bisa seperti domino bukan cuma kami yang kena, tapi semua yang menggantungkan hidup pada ekosistem digital ini," kata Indra.

Ketua Komunitas Driver Online Grab, Ruli Gunawan mengatakan fitur keamanan selama ini mendukung para aktivitas pekerjaan dari sopir ojol.

"Kami tidak ingin kembali ke zaman sebelum aplikasi. Sekarang kami pinya pannic butto, pelacakan real time bahkan akses edukasi dan bantuan hukum. Semua itu ada karena sistem ini dibiayai oleh komisi," kata Ruli.

Baca juga: Kasus Jasad Diplomat Kemlu Wajah Dilakban, Polisi Periksa 5 Orang Saksi

"Kalau dipangkas setengahnya bagaimana Grab atau aplikasi lain bisa bertahan dan terus melindungi kami?," sambungnya.

Dukungan lain juga datang dari mitra perempuan bernama Siti. Dia mengatakan struktur komisi saat ini sehat.

"Sebagai ibu rumah tangga dan pekerja, saya butuh sistem yang stabil. Komisi 20 persen itu bukan beban karena kami tahu manfaatnya. Kami ingin pemerintah dengar suara kami," pungkasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Antara

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU