Senin, 16 JUNI 2025 • 18:08 WIB

Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan Ungkap Medsos Ciptakan Hyper Realitas

Author

Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan atau PCO Hasan Nasbi menyebut publik kini terjebak dalam “hyper realitas”, yakni ruang simulasi yang menumpulkan persepsi nyata. (Indozone/Nadya Mayangsari)

INDOZONE.ID - Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO), Hasan Nasbi menegaskan kekacauan wacana di media sosial bukan cuma problem Indonesia.

Ia menyebut publik kini terjebak dalam “hyper realitas”, yakni ruang simulasi yang menumpulkan persepsi nyata. 

Dia pun meminta kepada pihak berwenang serta masyarakat kritis untuk meredakan informasi yang meresahkan tersebut.

Hal itu disampaikannya saat menjadi pembicara dalam Talkshow dengan tajuk " Bagaimana Menghadapi Medan Perang Baru, Cognitive Warfare: Media, Narasi, Membangun yang diselenggarakan Indozone, Garuda TV, Antara serta On Us Asia di gedung Antara Heritage, Jakarta, Senin (16/6/2025).

Menurut Hasan, algoritma mempercepat polarisasi, sehingga membuat lini masa medsos makin terasa nyata ketimbang kondisi sebenarnya di lapangan.

“Bukan hanya di Indonesia, tapi di seluruh dunia. Jika buka akses media sosial secara bebas mereka mengalami kendala yang sama. Jadi tidak, ini bukan problem spesifik Indonesia tapi problem di seluruh dunia,” tuturnya.

Baca juga: Kolaborasi Indozone, ANTARA, Garuda TV, dan On Us Asia, Tingkatkan Kualitas Informasi

Kepala PCO tersebut menggambarkan kontradiksi antara dunia daring dan nyata sebagai “alam hyper realitas”.

“Kalau kita buka media sosial, apalagi media sosial tertentu, rasa-rasanya kok kondisi negara ini gak baik. Tapi kalau kita buka pintu, kita keluar, kita ketemu dengan orang, kok baik-baik aja,” ujarnya.

Pengguna kian sulit membedakan fakta dengan simulasi karena terpapar layar sepanjang hari.

Akibatnya, persepsi publik kerap dibangun oleh narasi ekstrem, bukan data objektif.

“Kebencian itu kadang-kadang lebih bebas untuk disampaikan. Dengan cara melempar kebencian, dengan cara marah-marah, menjelek-jelekkan orang itu agar turun kadar stresnya. Jadi kayak healing juga dengan cara kayak gitu,” ucapnya.

Hasan melanjutkan, fenomena “healing lewat amarah” itulah yang mendorong konten provokatif viral tanpa perlu otoritas atau verifikasi.

Untuk memutus siklus buruk tersebut, Hasan menilai perlu ada lembaga, media, dan kreator tepercaya, yang konsisten mengurai fakta, menyajikan konteks, dan mendorong literasi digital.

Generasi muda, menurutnya, yang paling aktif online, dipandang krusial menjadi garda depan klarifikasi informasi.

Hasan pun memberikan pesan di tengah derasnya informasi

"Kritis sebelum membagikan, periksa sumber, dan sesekali angkat kepala dari ponsel, karena yang memuasai pikiran kita bukan lagi alam realitas, tapi alam hyper realitas ini,” pungkasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU