Ilustrasi kekeringan landa Indonesia
INDOZONE.ID - Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati menyampaikan, Indonesia saat ini tengah menghadapi ancaman kekeringan yang lebih panjang dan kuat dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Dwikorita menjelaskan, kekeringan dipicu oleh fenomena El Nino moderat yang terjadi sejak bulan Juni 2023.
Berdasarkan data dari BMKG, kekeringan yang terjadi saat ini menyebabkan penurunan debit air di beberapa sungai dan waduk di Indonesia. Bahkan 85 daerah di 19 provinsi tidak turun hujan lebih dari dua bulan.
"Hal ini berdampak pada berkurangnya pasokan air untuk pertanian, industri, dan kebutuhan sehari-hari masyarakat. Ini merupakan peringatan bagi Indonesia untuk segera mengambil
langkah mitigasi krisis air," ujarnya dalam dialog Forum Merdeka Barat 9 (FMB9) yang mengangkat tema ‘Kolaborasi Global Antisipasi Krisis Air Dampak Perubahan Iklim’, Senin (16/10/2023).
Lebih lanjut Dwkorita mengatakan, pemerintah telah melakukan mitigasi sejak dini untuk mengantisipasi dampak kekeringan.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan menyiapkan waduk, embung, dan pengeboran sumur air dalam.
Baca Juga: 19 Wilayah di Indonesia Tengah Dilanda El Nino, Akibatnya Kering Kerontang di Berbagai Daerah
Meski upaya mitigasi telah dilakukan, namun ancaman kekeringan tetap perlu diwaspadai. Oleh sebab itu, perlu dilakukan sinergi dari berbagai pihak untuk mengatasi krisis air baik pemerintah, swasta, masyarakat, hingga organisasi internasional.
"Persoalan ini sangat kompleks, bukan karena hanya satu sebab dan hanya satu negara, tapi terlibat keterkaitan berbagai elemen. Jadi kita harus gotong-royong," sambungnya.
Terlebih kata Dwikorita, ancaman kekeringan bukan hanya masalah yang melanda Indonesia, namun juga tantangan global.
Bahkan, data dari Food and Agriculture Organization (FAO), memprediksi krisis pangan akan terjadi pada 2050, jika tidak ada tindakan konkret yang dilakukan sedini mungkin.
Indonesia sendiri memiliki peranan penting dalam mengatasi krisis air. Indonesia juga mempunyai potensi untuk menjadi pemimpin dalam pengembangan teknologi pengelolaan air yang ramah lingkungan.
"Hal ini karena Indonesia memiliki kekayaan sumber daya air yang besar, serta pengalaman dalam mengelola sumber daya air di tengah kondisi iklim yang ekstrem," terangnya.
Oleh sebab itu, dalam World Water Forum (WWF) ke-10 di Bali tahun depan, Dwikorita berharap Indonesia dapat berperan sebagai jembatan antara negara-negara maju dan berkembang dalam upaya mitigasi krisis air.
Indonesia juga dapat berbagi kearifan lokal yang telah terbukti efektif dalam mengelola sumber daya air.
Pembawa Pesan WWF
Wakil Ketua Sekretariat Panitia Nasional WWF Ke-10 yang juga Juru Bicara Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Endra S. Atmawidjaja di forum yang
sama mengatakan, Indonesia siap untuk mengambil peran penting dalam mengatasi krisis air global dalam acara WWF ke-10.
"Presiden Joko Widodo juga telah ditunjuk oleh World Water Council sebagai Water Messenger. Beliau akan menjadi penyampai pesan global untuk meningkatkan kesadaran
akan pentingnya air," kata Endra.
Di samping itu, Endra mengatakan bahwa Indonesia telah berkomitmen untuk memenuhi target Sustainable Development Goals (SDGs) poin enam, yaitu akses terhadap air minum
dan sanitasi yang layak.
Baca Juga: Terdampak Fenomena El Nino, 50 Hektare Lahan Pertanian di Sulsel Gagal Panen
Dia menyebutkan bahwa pada 2023, Indonesia telah mencapai 90 persen akses terhadap air minum, dan 80 persen akses terhadap sanitasi layak.
Endra pun berharap bahwa Indonesia dapat sukses dalam membawa pesan global terhadap isu air. Ia juga berharap bahwa WWF dapat menjadi platform untuk mempromosikan isu air kepada masyarakat luas.
Sementara itu, Director of Asia Pacific & 10th World Water Forum, Yoon-Jin Kim, menyebut Indonesia dipilih sebagai tuan rumah WWF ke-10 karena memiliki pengalaman dalam
mengatasi krisis air.
"Indonesia memiliki area yang luas, dan di Bali khususnya, air menjadi pusat budaya dan pengembangan di berbagai aspek," papar Kim.
Kim berharap forum ini dapat menjadi platform untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang krisis air dan mendorong kerja sama internasional untuk mengatasi masalah ini.
Dia juga menyoroti pentingnya ketahanan pangan dalam mengatasi krisis air. Menurutnya, krisis air dapat berdampak pada produksi pangan, sehingga dapat menyebabkan kelaparan
dan kerawanan pangan.
"Kami berharap forum ini bisa mencarikan solusi atau jawaban, termasuk ancaman krisis ketahanan pangan," ujar Kim.
WWF ke-10 akan diselenggarakan di Bali pada tanggal 18-24 Mei 2024. Acara ini akan menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk menunjukkan komitmennya dalam mengatasi krisis air global.
Indonesia juga akan mendorong kerja sama internasional untuk mengatasi masalah ini.
Writer: Putri Surya Ningsih
Konten ini adalah kiriman dari Z Creators Indozone. Yuk bikin cerita dan konten serumu serta dapatkan berbagai reward menarik! Let's join Z Creators dengan klik di sini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Z Creators