Wakil Presiden RI, Ma'ruf Amin. (photo/Instagram/@kyai_marufamin)
Wakil Presiden RI, Ma'ruf Amin tidak ingin kasus Covid-19 di Indonesia seperti fenomena gunung es atau iceberg phenomenon, yang artinya laporan resmi jumlah kasus tidak mencerminkan kondisi yang sebenarnya di masyarakat.
"Jangan sampai kayak gunung es, atasnya sedikit tapi di bawah banyak karena belum dites atau juga belum ditelusuri," kata Wapres Ma’ruf di Istana Wapres Jakarta, Senin.
Untuk itu, ia mendorong agar dilakukan pelacakan (tracing) dan pengetesan (testing) lebih luas kepada masyarakat, sehingga antisipasi dan perawatan kepada yang terinfeksi Covid-19 bisa segera dilakukan.
Ia juga meminta masyarakat yang melakukan kontak erat dengan orang terpapar COVID-19 untuk melakukan testing dan menjalankan isolasi guna mencegah penularan.
"Ini banyak juga yang belum mau di-testing, belum mau juga yang divaksin. Masih banyak juga yang kalau pun sudah tahu positif COVID-19, tapi belum mau isolasi. Ini hal-hal yang terjadi di masyarakat," tutur-nya.
Oleh karena itu, Wapres mengatakan pemberlakuan pengetatan kegiatan masyarakat yang ditetapkan Pemerintah bertujuan untuk menekan angka penularan Covid-19.
"Pemerintah melakukan pengetatan-pengetatan, termasuk juga pengetesan yang masif dan tracing supaya jangan sampai yang terkena COVID-19, yang positif, itu dia berkeliaran kemana-mana dan tidak terisolasi," ujarnya menegaskan.
Ma'ruf Amin juga meminta para ulama dan para tokoh agama Islam untuk bersama-sama dengan Pemerintah dalam menangani pandemi COVID-19, salah satunya dengan mendukung pelaksanaan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat di Jawa-Bali.
"Saya ingin mengajak sahabat-sahabat semua, para kiai, para ulama, para habib untuk bersama-sama dengan Pemerintah menanggulangi bahaya COVID-19 yang demikian besar dan dahsyat," ujarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: