Ilustrasi Ondel-ondel. (Instagram/@ondelondeljakarta)
Ondel-ondel sebagai ciri khas Budaya Betawi rupanya kerap dimanfaatkan beberapa orang untuk mencari nafkah dengan cara ngamen.
Tak jarang kadang mereka yang mengirim ondel-ondel juga dilengkapi dengan alat pengeras suara yang didorong dengan gerobak kecil.
Melihat fenomena ini, pengamat Kebudayaan Betawi yang juga Wakil Ketua Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) Yahya Andi Saputra menilai tindakan menggunakan ondel-ondel untuk ngamen saat ini tujuannya hanya untuk mencari uang, berbeda dengan zaman dulu. Dimana sebelumnya orang berkeliling kota mengenakan ondel-ondel dalam rangka memperlihatkan ciri khas budaya Betawi.
"Zaman itu, itu ondel-ondel jalan kaki muter-muter ya memang karena ingin menonjolkan diri ini lho Betawi. Sekarang coba, mereka ngamen enggak tertib, ondel-ondel itu kan simbol," ungkap Yahya kepada Indozone, Kamis (21/11).
Bahkan yang membuatnya miris, sekarang para orang yang mengamen menggunakan ondel-ondel ini terbilang masih muda.
Ia mengharapkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melakukan penertiban kepada mereka oknum yang dengan sengaja menggunakan ondel-ondel untuk mengamen di jalanan dan menggangu ketertiban umum.
"Ya mereka ditertibkan, mereka dikumpulin ditangkap semua, dikasih pendidikan yang betul," ungkapnya.
Seperti diketahui, sebelumnya juga Badan Musyawarah Betawi (Bamus Betawi) mengusulkan agar Pemprov DKI Jakarta memberikan ruang di pusat kota untuk budaya Betawi.
Wakil Ketua Bamus Betawi Rahmat HS menilai pusat Budaya Betawi yang saat ini terlalu jauh yakni di Setu Babakan, Jakata Selatan. Harapannya agar semua orang yang berkunjung ke Jakarta bisa mengenal Betawi.
"Kalau bisa ini di tengah kota dan jadi konsumsi turis mancanegara khususnya. Kalau turis asing datang ke Jakarta kalau mau lihat kearifan lokalnya ada di sini," tuturnya, di Gedung DPRD DKI Jakarta, Rabu (20/11).
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: