Banjir wilayah Sumatra, mulai dari Aceh, Sumut, hingga Sumbar (ANTARA
INDOZONE.ID - Sumatera Utara (Sumut) dilanda bencana hidrometeorologi selama beberapa hari terakhir, menimbulkan korban jiwa dan kerusakan di 13 kabupate atau kota Sumut
Hujan lebat dan tanah longsor akibat Siklon Tropis Senyar memaksa ratusan warga mengungsi dan menimbulkan kondisi darurat di sejumlah daerah.
Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang dikutip dari situs kemhan.go.id, bencana hidrometeorologi adalah bencana alam yang disebabkan oleh faktor-faktor meteorologi (cuaca) dan hidrologi (air). Bencana ini terjadi akibat interaksi antara atmosfer, air, dan daratan, dan seringkali dipengaruhi oleh perubahan iklim.
Beberapa poin penting mengenai bencana hidrometeorologi yang perlu diketahui oleh masyarakat menurut Dwikorita Karnawati, Kepala BMKG antara lain, seperti penyebab bencana mulai dari: aktivitas cuaca ekstrem, seperti curah hujan tinggi, angin kencang, dan suhu ekstrem.
Lalu penyebab lainnya adalah perubahan iklim, yang menyebabkan peningkatan frekuensi dan intensitas cuaca ekstrem; serta aktivitas manusia, seperti deforestasi dan pembangunan yang tidak terencana.
Sedangkan jenis-jenis bencana hidrometeorologi antara lain seperti banjir; tanah longsor; kekeringan, badai; gelombang panas; dan kebakaran hutan.
Dampak bencana yang dihadapi karena hidrometerologi adalah kerusakan infrastruktur; kerugian ekonomi; kehilangan nyawa; gangguan kesehatan; dan kerusakan lingkungan.
Ilustrasi banjir di wilayah Sumatera Utara dan Aceh (ANTA
Hingga Kamis, Kepala BPBD Sumut Tuahta Ramajaya Saragih menyatakan, ada ratusan korban yang diantaranya meninggal dunia.
Baca juga: Banjir Aceh dan Sumatera, Presiden Prabowo Perintahkan Kementerian Percepat Tangani Bencana
"Hingga hari ini total ditemukan ada 123 korban, di antaranya 47 meninggal dunia." kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumut Tuahta Ramajaya Saragih dilansir ANTARA
Selain itu, 9 orang masih dinyatakan hilang, dan 67 lainnya mengalami luka berat maupun ringan. Korban terbanyak tercatat di Tapanuli Selatan, yakni 73 orang, dengan 15 meninggal dan 58 luka-luka.
Daerah lain yang terdampak pada bencana ini termasuk Humbang Hasundutan, Sibolga, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Pakpak Bharat, dan Padangsidempuan.
BPBD melaporkan jumlah pengungsi mencapai ribuan jiwa, seperti 3.000 orang di Tapanuli Selatan dan 776 kepala keluarga di Mandailing Natal. Kepala BBMKG Wilayah I Medan Hendro Nugroho menjelaskan, Cuaca ekstrem ini sebagai dampak Siklon Tropis Senyar yang telah berkembang sejak 21 November di perairan timur Aceh.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Kemhan RI, BMKG