Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung. (ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin)
INDOZONE.ID - Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur digital merupakan langkah strategis untuk membawa Jakarta masuk ke jajaran Top 50 Global Cities pada tahun 2030, sebagaimana tertuang dalam target jangka panjang RPJPD Jakarta 2025–2045.
Dalam sambutannya di Balai Agung, Balaikota DKI Jakarta, Selasa (5/8/2025), Gubernur Pram menyampaikan bahwa Jakarta memiliki tiga fondasi utama yang harus diperkuat secara simultan, yaitu transportasi dan mobilitas, infrastruktur fisik, serta infrastruktur digital.
“Kalau kita ingin masuk ke dalam jajaran Top 50 City Global, maka kunci pertamanya adalah infrastruktur mobilitas dan transportasi. Kedua, kita harus bisa mengoptimalkan aset dan infrastruktur fisik yang sudah ada. Dan yang ketiga, yang sangat menentukan, adalah infrastruktur digital,” ujar Pramono Anung.
Ia menyebut, saat ini Jakarta masih berada di posisi ke-74 dalam Kearney’s Global Cities Index, terutama tertinggal pada dimensi Information Exchange.
Baca juga: Usia Berapa Sebaiknya Mulai Cek Kolesterol? Ini Penjelasan Dokter Jantung
Salah satu penyebab utamanya adalah rendahnya kecepatan internet, terbatasnya kapasitas data center, serta minimnya layanan digital strategis seperti Monitoring Pajak PB1 Online dan Electronic Road Pricing (ERP).
Untuk itu, Gubernur Pram menekankan pentingnya membangun jaringan digital khusus milik pemerintah, yang disebut Government Digital Network.
Jaringan ini akan mencakup perluasan akses wireless di ruang publik, pembangunan Gigabit Fiber Backbone, serta penguatan AI-Ready Data Center yang aman, terintegrasi, dan berlatensi rendah.
“Kita memerlukan digital network sendiri yang terpisah dari jaringan ritel komersial, supaya layanan publik bisa berjalan lebih cepat, aman, dan stabil. Ini akan menjadi pondasi utama Jakarta sebagai Smart Giga City,” jelasnya.
Baca juga: 5 Kombinasi Warna yang Bikin Penampilanmu Terlihat Mahal
Selain aspek digital, Pramono juga mencontohkan keberhasilan pengelolaan aset fisik seperti Jakarta International Stadium (JIS) dan Taman Ismail Marzuki (TIM) yang kini menjadi magnet kegiatan publik.
Ia menegaskan bahwa infrastruktur yang ada harus dimaksimalkan penggunaannya, tidak hanya dibangun lalu dibiarkan.
“JIS sekarang jadi rebutan semua pihak karena berhasil kita hidupkan. Dulu TIM tidak pernah dibayangkan punya perpustakaan bagus, sekarang jadi tempat yang bisa menampung 20 ribu pengunjung dalam satu acara,” ucapnya.
Gubernur juga menyinggung pentingnya budaya sebagai identitas kota global. Ia mengapresiasi kekayaan budaya Betawi yang perlu terus dikurasi dan dipromosikan dalam setiap agenda pemerintahan maupun publik.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung