Rabu, 30 APRIL 2025 • 20:24 WIB

Apresiasi Film Lebaran 2025: Dominasi Film Indonesia dengan Genre Variatif yang Tetap Harus Berbenah

Author

  Ilustrasi film lebaran tahun 2024 yang banyak jadi box office. (Freepik)

INDOZONE.ID - Momen lebaran tak hanya tradisi budaya dan keagaaman semata. Bahkan tak lepas dari berkumpul dengan keluarga, liburan, menghabiskan uang untuk mencari hiburan, dan lainnya.  Nah, kebiasaan ini dijadikan momentum oleh produsen untuk mencari laba, termasuk industri film Indonesia. 

Selama beberapa tahun terakhir, bioskop-bioskop dipenuhi oleh film Indonesia dan siap bersaing dengan film impor yang ada. Ada beberapa film Indonesia yang berani bersaing dengan film asing dalam perolehan jumlah penonton hingga menjadi box office.

Tal terkecuali di tahun ini. Liburan lebaran 2025 diwarnai dengan beberapa film garapan Indonesia yang tampil dengan warna yang berbeda, bahkan lebih variatif dengan film lebaran di tahun-tahun sebelumnya. 

Hasilnya, banyak dari film itu meraih jumlah penonton dan pendapatan fantastis hingga mencetak beberapa rekor sendiri. Formula tersebut kembali terjadi di tahun ini dengan 5 film yang tayang di momen tersebut.

Baca Juga: Tissa Biani Jadi Duta Festival Film Indonesia 2020 Paling Muda

Momentum Lebaran: Formula Manjur Mendulang Cuan

Ilustrasi penikmat film. (Freepik)

Kalau bisa dibuka data beberapa film terlaris Indonesia sepanjang masa, ada beberapa nama yang bertenger di peringkat teratas itu berasal dari film yang tayang di musim liburan lebaran. Sebut saja film 'Laskar Pelangi' yang ditayangkan 5 hari sebelum Hari Raya Idul Fitri pada 2008 silam dan berhasil meraih 4.719.453 penonton. 

Termasuk tiga film Indonesia besutan MD Pictures yang sejak 2022 meraih film dengan pendapatan terbanyak saat libur lebaran. Mulai dari 'KKN di Desa Penari' yang dirilis 2022 dengan 10.061.033 penonton, "Sewu Dino" yang dirilis pada 2023 dengan 4.886.406, serta 'Badarawuhi di Desa Penari' pada 2024 dengan 4.015.120 penonton yang bersaing dengan 'Siksa Kubur' karya Joko Anwar dengan 4.000.826 penonton.

Budayawan sekaligus kritikus film, Hikmat Darmawan mengungkapkan fenomena film libur lebaran sebenarnya sudah menjadi strategi di industri film sejak dahulu kala.

Fenomena budaya berkumpul keluarga di saat liburan dan belanja untuk hiburan menjadi salah satu indikasi mengapa libur lebaran menjadi momentum yang tepat.

"Catatannya adalah, yang namanya blockbuster lebaran, film laris lebaran itu udah ada dari zaman 80/90-an, jadi udah secara tradisional, momentum lebaran itu adalah momentum yang dianggap premium untuk film Indonesia lahir," kata Hikmat Darmawan saat dihubungi Indozone.

Baca Juga: Mengenang Aktor Kawakan Film Indonesia, Robby Sugara

Bedanya, menurut Hikmat, tahun ini variasi genrenya lebih beragam dibanding sebelumnya. 

"Pelajaran dari tahun lalu tidak beragam, sekarang beragam, terdistribusi dengan baik, penonton jadinya punya pilihan, itu dalam jangka panjang akan lebih sehat untuk industri film kita. Kenapa film lebaran? ya karena kan ada terkait dengan fenomena budaya ya, seperti mudik, berkumpul dengan keluarga, libur panjang, orang spending money," 

"Jadi, fenomena yang paling signifikan dari film lebaran tahun ini bukan klarisanya tapi bahwa ada genre beragam dan genre animasi ternyata pesat marketnya," tambahnya.

Ia membandingkan dengan fenomena film lebaran tahun 2025 dan film lebaran lain di tahun sebelumnya.

"Tahun lalu itu hanya ada dua film kan "Siksa Kubur" dan "Badarawuhi di Desa Penari", sebetulnya tadinya ada satu yang tayang di lebaran, tapi kegusur satu minggu sesudahnya yang "Dua Hati Biru", jadi tinggal dua yang betul-betul jadi film lebaran, dan dua itu sama genrenya horor, jadi orang banyak yang cukup mengeluhkan," ujarnya.

"Saya yang tidak memusuhi atau bahkan menyukai genre horor juga sebetulnya kalau melihat momentum lebaran yang biasanya jadi momentum film laris di Indonesia, sayang juga hanya dua film, dan keduanya horor, jadi seakan pasarnya itu tidak majemuk, dan dua-duanya produksinya lumayan mewah lah gitu. Ketika sekarang di lebaran ada lima film yang tayang dengan genre berbeda-beda termasuk salah satunya animasi itu kan sesuatu hasil dari koreksi tahun sebelumnya," tambahnya.

"Untuk film yang biasa ada di film lebaran itu kan yang diprediksi laris box office besar yaitu kan ada horor ya, dari MD Pictures. MD ini kan udah dari tahun ke tahun cukup punya bargaining kuat agar bisa jadi film lebaran dan pokoknya film di momen-momen bagus gitu untuk market. Jadi misalnya "Badarawuhi" itu full total promosinya, itu sangat percaya diri, sangat investasi di "Pabrik Gula", tapi tipis, ternyata kan gak sebesar "Badarawuhi" walaupun laris juga. Jadi yang fenomenal masih dipegang sama "Jumbo" ini."

Baca Juga: Fenomena Horor Lokal: Representasi Budaya di Ladang Cuan dengan Stigma Minim Inovasi

Persaingan Film Box Office di tahun 2025

Ilustrasi film boxx ofice lebaran. (Freepik)

Kalau ngomongin soal film Lebaran 2025, rasanya nggak lengkap kalau kita ngelewatin angka-angka yang nunjukkin seberapa besar antusiasme penonton.

Dilihat Indozone dari akun Cinepoint, jumlah penonton film lebaran 2025 hingga minggu keempat menunjukkan angka yang fantastis, di mana beberapa film lokal sukses menembus jutaan penonton. Jumlah data yang terlihat saat artikel ini dirilis, lima film lebaran yang bersaing tahun ini mendapatkan jumlah penonton seperti berikut

  • Jumbo: 7.613.967
  • Pabrik Gula: 4.664.802
  • Komang: 2.888.467
  • Qodrat 2: 2.213.936
  • Norma: 683.471

Anggia Kharisma, produser dari Visinema di balik animasi 'Jumbo' dengan jumlah penonton tertinggi merasa keberhasilan filmnya garapan Indonesia juga bisa merebut hati penonton Tanah Air.

"Melihat film Indonesia, seperti JUMBO, bisa diterima luas saat Lebaran adalah kebanggaan tersendiri. Ini menunjukkan bahwa cerita dari rumah kita sendiri tetap punya tempat istimewa di hati penonton. Kami merasa ini bukan sekadar keberhasilan satu film, tapi langkah kecil menuju mimpi besar: membuktikan bahwa animasi lokal bisa tumbuh dan bersaing, bukan hanya di dalam negeri, tapi juga di dunia," ungkap Anggia Kharisma kepada Indozone.

Ungkapan dari produser Jumbo juga diamini oleh Hikmat Darmawan yang mengikuti beberapa film lebaran tahun ini. Salah satu faktor yang membuat film ini menjadi film yang diminati para penonton Indonesia adalah yang ditawarkan sedikit berbeda dengan beberapa film lebaran yang pernah ada.

Baca Juga: Netflix Salurkan Rp7,1 M untuk Pekerja Film Indonesia yang Terdampak Pandemi

"Kalau film "Jumbo" udah jelas keunggulannya mungkin karena dia mengisi caruk yang kosong, yaitu film keluarga. Gak hanya di Indonesia ya, kan film keluarga itu kan di Amerika pasaran kosong, padahal kan kalau kebayang dari segi ekonomi harusnya bagus dong, harusnya diisi dong, karena yang nonton gak cuma 1/2 orang, yang nonton kan keluarga," jelas Hikmat.

Persaingan ini menjadi babak baru untuk industri film Indonesia, dimana ada lima film Indonesia yang sangat dinikmati penonton film Tanah Air mengalahkan beberapa film impor. Hal ini sudah terlihat di di beberapa tahun sebelumnya, khususnya saat 'KKN di Desa Penari' yang berhasil melampaui penonton film Marvel Cinematic Universe 'Doctor Strange in the Multiverse of Madness'. 

Di tahun ini, rumah produksi yang dipimpin Manoj Punjabi tersebut memperkenalkan 'Pabrik Gula' yang menjadi film lebaran terlaris nomor dua setelah film animasi 'Jumbo'.

"Menurut saya luar biasa ya, kan saya selalu mau film Indonesia yang jadi tuan rumah, terbukti bulan di Ramadan tahun ini. Semua film Indonesia, semuanya rata-rata sukses, luar biasa dari Jumbo 8 juta lebih, 7 juta, whatever bisa berapa masih lagi main, 4 juta lebih Pabrik Gula, Komang 3 juta, hampir 2,5 juta film-film. Jadi kan luar biasa ya, penghasilan semua film ini," ungkap Manoj Punjabi saat ditemui Indozone di kantornya di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.

"Bagi saya ini luar biasa, film asing, nggak dapet kesempatan minggu berikutnya main film Minecraft, nggak ada 1 juta juga. Jadi ini tanda-tanda yang selalu yang saya inginkan gimana kita bisa lebih berkembang lagi film Indonesia dan luar biasanya juga Pabrik Gula dapat 4,5 juta film lain bisa dapat lebih besar lagi. Jadi ini kan dan genre-nya bukan hanya horror, ada animasi, ada drama, jadi saya kira itu sesuatu yang sangat positif," ungkap Manoj Punjabi.

Seperti di film-film sebelumnya, MD Pictures kembali mempertahankan film horor yang berasala dari thread viral Simpleman, termasuk di 'Pabrik Gula'. Genre horor memang masih menjadi jenis film yang memikat para penonton, terbukti dengan dua film horor; 'Pabrik Gula' dan 'Qodrat 2' yang juga memiliki jumlah penonton yang tinggi.

"Genre horor adalah genre yang sangat kuat di Indonesia bahkan menjadi sebuah ekspor yang bagus, karena kan banyak diminati bahkan sampai Turki dan Asia Tenggara, kecuali Thailand, di Thailand udah banyak industrinya sendiri, nggak terlalu peduli produk dari tetangganya," ungkap Hikmat Darmawan.  

"Saya lihat keunggulannya "Pabrik Gula" itu lebih kepada marketingnya, menurut saya sangat cerdas, walaupun ada sebagian yang bilang kalau ini film terbaiknya Awi, lebih bagus.Tapi sebagai film horor, saya merasa lebih kuat itu film "Qodrat 2", karena dari yang "Qodrat 1" aja saya udah senang, dan "Qodrat 2" tidak mengecewakan sama sekali dan filmnya memuaskan," tambahnya.

Baca Juga: Momen Ibnu Jamil dan 'Bu Tejo Tilik' Nobar Film 'Tepatilah Janji', Edukasi Politik Jelang Pilkada 2024

Fenomena Film Jumbo yang 'beda'

Ryan Andriandhy, sutradara film 'Jumbo'. (INDOZONE/Dewi Kania)

Hikmat juga melihat film 'Jumbo' ini menjadi fenomenal karena dibandingkan dengan film lebaran lainnya, ia memiliki format, cara produksi, dan promosi yang berbeda diantara lima film lebaran lainnya.

"Yang fenomenal dan banyak dirayakan itu sebenarnya film Jumbo ya. Dia memecahkan banyak rekor untuk kategori animasi, dan yang juga harus diperhatikan, ini kan tipenya animasi 3D ya, tentu saja ke model-model pixar, itu menjadi sebuah kabar baik bagi industri, bahwa jalur animasi ini ternyata diterima oleh pasar dan sebagai IP dengan demikian bisa berkembang lebih jauh kan.

"Nah jadi, dia breaking record dalam banyak hal, jadi di satu sisi banyak yang harus didalami mengenai model produksi nya, karena ini kan cukup memakan biaya mahal dan sebagainya. Kalau industri kita, kemudian hanya diarahkan pada model 3D ala Pixar kaya gini apakah ada kesiapan dari infrastruktur animasi Indonesia untuk ke sana gitu ya, tapi dari segi breaking record untuk pasar itu udah bagus dan patut untuk dirayakan, apalagi sekarang udah 6 juta lebih penonton. Ini menariknya juga adalah satu dari lima film yang keluar pada saat lebaran," ucapo Hikmat.

Sementara itu, Anggia Kharisma dari Visinema selaku produser dari film 'Jumbo' mengungkap bila keberhasilan proyek tersebut berasal dari berbagai faktor. Yaitu relevansi, cerita dari hati, momentum,serta dukungan yang tepat.

Baca Juga: Kasat Tahti Polres Pacitan Diduga Rudapaksa Tahanan Wanita 3 Kali di Momen Libur Lebaran, Polda Jatim Beri Tindakan Tegas

"Menurut saya, keberhasilan sebuah film ke box office selalu berawal dari cerita yang relevan. Ditambah dengan produksi yang dikerjakan dengan sepenuh hati, momentum yang tepat, dan dukungan banyak pihak terutama dari komunitas penonton itu sendiri. Untuk JUMBO, kami hanya berusaha menghadirkan cerita yang dekat dengan keluarga Indonesia. Bisa diterima dan dicintai, itu adalah anugerah yang sangat kami syukuri," kata Anggia Kharisma saat dihubungi Indozone.

Prestasi 'Jumbo' juga disambut sukacita oleh sutradara film 'Jumbo', Ryan Adryandhy lantaran filnya yang digarap selama lima tahun dengan proses yang sangat panjang dan menggunakan 20 animator bisa diterima di masyarakat Indonesia.

"Saya sangat bersyukur atas sambutan luar biasa dari penonton terhadap Jumbo di libur Lebaran tahun ini. Ini benar-benar lebih dari yang kami bayangkan. Saya merasa terhormat bisa menjadi bagian dari momen spesial banyak keluarga Indonesia yang memilih Jumbo sebagai tontonan bersama, bahkan berulang kali," kata Ryan.

Awalnya, Ryan hanya ingin menghadirkan cerita yang bisa dinikmati segala usia dari berbagai generasi.

"Dari awal, kami ingin menghadirkan cerita yang dekat dengan keseharian, dan relevan untuk segala usia. Mungkin itu yang membuat penonton berbagai generasi dan berbagai lapisan merasa relate dan akhirnya ingin merekomendasikannya ke orang-orang terdekat mereka."

Rekor MD Pictures juarai box office Lebaran berturut-turut

Para sineas dan produser film Pabrik Gula. (Handout)

Penayangan 'Pabrik Gula' dari MD Pictures menambah daftar panjang film tyang diproduksi dan berhasil tembus box office. Semenjak 'KKN di Desa Penari', 'Sewu Dino', 'Badarawuhi di Desa Penari', hingga 'Pabrik Gula' telah mendapat apresiasi dari penonton film Indonesia.

Menurut Manoj, hal yang diinginkan saat memulai produksi film hingga nanti hasil akhirnya adalah bagaimana membuat penonton dan filmakernya terhibur dan puas. Lalu, targetnya box office juga tercapai. 

"Saya mau buat film untuk penonton terhibur, saya sebagai filmmaker-nya puas, creator-nya puas, membuat film ini, ada values minimal, ada sesuatu yang orang bisa bawa pesan keluar dari bioskop ya, terharu belajar dari film itu, terhibur yang pasti, itu yang terutama. Kalau pun ada message-message apapun, tapi tidak menggurui, terhibur, dari saya ya udah," kata Manoj Punjabi.

"Misinya harus box office, harus besar. Kalau ada film lain lebih besar, ayo bagus, tapi kita harus menyampe target yang ada, jadi udah ada standar kalau MD (target penonton) 4-5 juta minimal ya di lebaran, itu kan jaminan mutu untuk penonton," tambahnya.

Manoj pun menyadari beberapa film lebarannya menuai berbagai respons penonton. Baik positif dan negatif, seperti disebut menbgulang format yang sama, penulisan yang kurang menggali, dan masih banyak aspek lain. Bahkan ada yang ekstrem. 

Baca Juga: Tren Selebritis Raup Cuan dari Produk Muslimah Menjelang Lebaran

"Kalau saya lihat negatifnya, saya anggapnya gini ya, kalau buzzer mau ada negatif-negatif itu saya nggak anggap lah ya, kalau negatif ya. Seleranya nggak dapet ya oke, kita nggak bisa puasin semua orang. Tapi yang saya lihat, saya pas perhatikan reaksi di bioskop penonton, kebawa emosinya dari segi horrenya, dia kebawa apa yang dia menonton, dia dapat ketegangan dari segi komedinya bisa terhibur ketawa, dari segi dramanya menyentuh, bisa dapat sesuatu, buat saya itu homework, itu yang penting ya, dari respon netizen banyak yang bilang suka, buat saya itu cukup," kata Manoj.

"Ada beberapa yang bilang misalnya nggak, atau ada campaign yang nggak bagus, sampai jelekin penulis, itu nggak bener lah, penulis disuruh mati aja, itu nggak bener menurut saya. Ini kreatif, lu nggak suka, ya oke, kalau filmnya jelek gitu kan, bilang gila filmnya jelek, gue nggak mau nonton, jangan nonton, ya nggak apa-apa, kadang kan film jelek kita nggak, dan saya tahu film saya jelek atau nggak, dan nggak usah saya, kalau udah dapat 4 juta nggak mungkin film jelek. Minimal luar biasa kan itu perspektif masing-masing," jelasnya.

Semakin Berbenah Diri, Semakin Dicintai

Membuat film harus pakai cinta, Hal itulah yang diungkap Ryan Ardhiyadi kepada Indozone yang menjadi salah satu kekuatannya untuk film animasi Jumbo. Ia menyadari bahwa film Indonesia saat ini masih banyak yang perlu dibenahi, termasuk film animasi yang selalu dibandingkan dengan studio besar negara lain.

"Pada akhirnya, saya percaya kekuatan terbesar ada pada cinta, film ini diterima karena lahir dari kerja keras banyak orang, dan tumbuh berkat cinta dari para pembuatnya, yang akhirnya menular menjadi cinta dari penonton," kata Ryan.

Hal inilah seolah menjawab pertanyaan publik yang ingin ada pembaruan di perfilman Indonesia. Kata-kata Ryan juga bisa menjadi surat cinta pada industri film Indonesia untuk saling belajar dan saling mendukung, yang tentunya perlu dapat dorongan, baik materil maupun imateriil.

Pasalnya, meskipun film dengan jutaan penonton seperti 'Jumbo', 'Agak Laen', hingga 'KKN di Desa Penari' yang menjadi tiga besar film Indonesia terlaris sepanjang masa, jumlah penonton tersebut masih kecil biula dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang kini tercatat kurang lebih 280 juta orang.

"Jadi dengan 18.000 pulau, 280 juta penduduk, potensi kita satu film tuh harusnya 25 juta penonton. 10% dari penduduk tuh realistis banget. 10% nggak besar. Kalau 25 juta orang nonton film terlaris, itu nggak besar. Kita masih sangat under, potensi saya masih bisa 25 juta," kata Manoj Punjabi kepada Indozone.

"Pemerintah kalau mau dukung, dukung infrastruktur, itu yang penting. Kalau ada infrastruktur di tier 3 city, kota-kota yang lebih di pinggiran, itu membutuhkan bioskop, dan bioskop itu penontonnya film Indonesia semua," tambahnya.

Reza Rahadian. (INDOZONE/Nadya Mayangsari)

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Reza Rahadian, aktor sekaligus sosok yang berperan penting di Festival Film Indonesia. Meski menyambut positif fenomena film lebaran dan semakin dinikmati masyarakat, Reza berharap adanya dukungan seperi yang diungkapkan Manoj Punjabi. 

"Itu kan tidak lepas dari XXI yang tentu sudah berusaha dengan baik gitu ya saat ini memperluas jaringan bioskop dan mungkin kita punya jejaring bioskop-bioskop lainnya," kata Reza Rahadian saat ditemui Indozone.

Baca Juga: Sudah Beredar 6 Bulan, Polsek Tanah Abang Dalami Indikasi Uang Palsu Rp3,3 M Tersebar saat Lebaran

"⁠Sejauh ini sih partisipasi pemerintah yang semakin erat untuk bisa mendukung ini saya rasa sudah cukup indikator positif yang baik. Saya termasuk orang yang optimis bahwa industri kita tuh sedang sehat-sehat. Sehat dalam artian minat penontonnya masih di sana, karena kalo melihat negara ASEAN lainnya atau negara Asia banyak banget loh dalam kondisi yang sedang tidak baik-baik aja juga gitu sinemanya," katanya.

Harapan pecinta film Indonesia

Dengan berbagai apresiasi kepada film-film lebaran Indonesia di tahun ini, terbesit harapan untuk perfilman Indonesia lebih baik ke depannya. Indozone sempat menanyakan harapan dan pesan kepada influencer dan KOL film. Beberapa dari para penikmat film ini memberikan apresiasi, pesan, hingga kritik yang nantinya bisa berbenah.

"Kelima film itu memiliki variasi genre yang beragam. Ada film animasi, ada film horor/komedi, ada film horor action, ada film drama romansa dan drama perselingkuhan. Sesungguhnya ini memberikan warna tersendiri. Dari kelima film, kritik terbesar mungkin dialamatkan kepada Norma yang mengangkat isu perselingkuhan secara dangkal.," kata Yoseph Setiawan dari Rotten Eggs Film.

"Berita baiknya adalah film animasi yang sangat jarang hadir di perfilman kita mendapatkan respons yang sangat positif. Saya berharap ke depannya, variasi genre seperti ini tetap dipertahankan. Dan semoga ke depannya, penceritaan film-film Indonesia semakin dewasa dengan mengedepankan proses yang baik," tambahnya.

Baca Juga: Divonis Setahun Bui, Siskaeee Janji Tak Akan Bikin Film Asusila Lagi: I promise, I swear

Ada juga yang memberikan saran untuk membatasi film libur lebaran harga semua potensinya bisa tergali dan tidak jadi tumbal.

"Selamat untuk semua film lebaran yang meraih rekor penonton terbanyak dari momen lebaran di tahun-tahun sebelumnya. Kedepannya semoga film lebaran cukup konsisten memberikan variatif genre dan maksimal cukup 3-4 film saja tiap tahunnya agar tiap film mendapatkan potensi maksimal penontonnya masing-masing dan predikat 'tumbal lebaran' bisa menghilang," kata Zul Guci dari GilaFilm.id.

Tak hanya apresiasi dan pesan, produsen film Indonesia perlu melakukan pembenahan di untuk sisi marketingnya.

"Yang menurut kami masih perlu diperbaiki adalah cara dari masing-masing tim marketing dari tiap film lebaran dalam memasarkan filmnya, terutama yang kami sempat amati pergerakannya di platform social media," kata Okky dari Watchmen ID saat dihubungi Indozone.

"Sebaiknya tim marketing film lebaran fokus memasarkan dan mempromokan kelebihan filmnya sendiri daripada harus "menyenggol" film lebaran lainnya. Apalagi film lebaran ini semuanya adalah film lokal juga, sebaiknya saling mendukung satu sama lain saja."

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Wawancara, Analisis Redaksi

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU