INDOZONE.ID - Genre horor sepertinya sudah sangat melekat dengan dunia perfilman Indonesia. Ibaratnya, bila superhero adalah genre favorit dari Amerika Serikat, dan romance adalah genre yang sering ditemui di Korea Selatan, maka horor adalah wajah genre di Indonesia.
Mungkin kamu bisa mengecek secara langsung ke bioskop atau aplikasi pemesanan tiket bioskop. Dari semua layar yang dipajang, kamu akan menemukan poster 'Pengantin Iblis', 'Petaka Gunung Gede', dan 'Pengantin Setan' di antara beberapa film Indonesia yang ada.
Genre horor dalam perfilman Indonesia memiliki sejarah panjang dan telah berkembang pesat dari masa ke masa. Horor Indonesia mencakup berbagai subgenre, mulai dari cerita tentang makhluk halus, mistisisme, hingga gore atau psikologis yang mendalam.
Perkembangan genre horor di Indonesia
Perkembangan genre ini juga sangat pesat, bahkan dimulai dari era Hindia Belanda dan pasca kemerdekaan dengan puluhan film. Mengutip situs Cinemapoetica, titik balik genre horor muncul di era 1970-an dengan film 'Beranak dalam Kubur' (1971) dan 'Kuntilanak' (1974), yang kemudian berkembang pesat di era 80-an hingga 90-an.
Baca Juga: Cetak Sejarah, KKN di Desa Penari Jadi Film Terlaris 2 di Indonesia Kalahkan No Way Home
Legenda urban Indonesia seperti Kuntilanak, Pocong, Tuyul, hingga Goderuwo bahkan legenda Nyi Roror Kidul menjadi latar supranatural yang diangkat. Di era itu, orang mulai mengenal Suzanna, yang kemudian melegenda hingga mendapat julukan ratu horor Indonesia.
Bahkan ketika film Indonesia mati suri akhir 90-an, salah satu film yang menjadi pembuka jalan para penonton kembali ke bioskop lagi adalah hadirnya film 'Jaelangkung' karya Rizal Mantovani dan Jose Poernomo pada 2001 silam. Hingga saat ini, horor menjadi salah satu genre ini dekat dengan penonton Indonesia.
Menurut salah satu budayawan dan kritikus film, Hikmat Darmawan, horor sudah memiliki jalannya sendiri di film Indonesia yang sudah dieksplorasi yang akhirnya menjadi reputasi Indonesia di mata dunia.
"Ada banyak sekali khasanah horor yang sangat kuat di Indonesia dan itu bagian dari kebangkitan genre horor itu sendiri di periode 2000-an sampai ke sekarang di seluruh dunia," kata Himat saat dihubungi Indozone via telepon.
Baca Juga: Youtuber dan Tiktoker Dilaporkan Polisi Gegara Konten Rumah Horor di Semarang
Bahkan dari daftar film terlaris sepanjang Indonesia beberapa film horor lokal masuk kedalam sepuluh besarnya. Menurut data dari akun Box Office Film, ada empat film yang masuk jajaran 10 besar film Indonesia terlaris, seperti "Sewu Dino", "Vina Sebelum 7 Hari", "Pengabdi Setan 2 Communion", serta film terlaris Indonesia nomor satu "KKN di Desa Penari" yang meraih 10.061.033 penonton. Bahkan film "Pengabdi Setan 2: Communion karya Joko Anwar menjadi film horor dengan jumlah penonton terbanyak di hari pertama tayang dengan 701.891 penonton.
Angka-angka di atas menunjukkan pasar film horo di Indonesia sangat sehat dan tentunya menarik beberapa investor untuk mengangkat film dengan genre serupa.
Horor Supranatural Sebagai Soft Power Budaya Indonesia
Indonesia dengan beragam suku, budaya, dan kepercayaan setempat tentunya menyimpan banyak sumber daya ide cerita, khususnya dari kisah-kisah mistis yang sudah turun temurun di masyarakat. Banyak sekali cerita legenda urban dan supranatural yang dijadikan latar belakang untuk film horor.
Masih teringat beberapa tahun lalu, saat perkenalan film 'Pengabdi Setan 2': Communion, sutradara Joko Anwar bercerita di depan para awal media, termasuk Indozone, yang menyebutkan ada puluhan hantu di Indonesia yang bisa menjadi bahan cerita. Cerita-cerita hantu yang beredar ini bisa menjadi ciri khas Indonesia.
"Horor adalah kekuatan soft power kita. Horor adalah sesuatu yang kita miliki di Indonesia. Karakter horor kita itu puluhan jumlahnya. Terakhir saya membuat invetarisasi untuk sebuah project, itu jumlahnya lebih dari 50 karakter horor. Jadi kita punya lebih dari 50 setan, teman-teman," kata Joko.
Sutradara yang sudah empat kali mengangkat latar hantu pocong dalam beberapa kali filmnya itu menganggap cerita horor Indonesia bisa menjadi pop culture layaknya Korea Selatan memiliki Kpop dan drama korea.
Baca Juga: Penonton 'Pengabdi Setan 2' Tembus 4,4 Juta, Lampaui Film Pertamanya hanya dalam 10 Hari
"Negara lain punya pop culture yang banyak. Mereka punya membuat asessment dari apa yang mereka punya. Ada yang menggunakan boyband sebagai kekuatan pop culture mereka lalu diekspor. Ada juga yang serial drama. Ini (horor) adalah kekuatan kita, kalau dikembangkan dengan baik bisa menjadi sesuatu yang bisa kita ekspor. Kalau dikembangkan dengan baik ini bisa jadi kekuatan soft-power kita," tambahnya.
Pendapat Joko Anwar tersebut senada dengan pernyataan Hikmat Darmawan saat diwawancarai Indonesia. Mitologi lokol tentang kisah horor di masyarakat menjadi sumber untuk dikreasikan.
"Jadi, tentu saja ada banyak sekali reproduksi mitologi lokal, folk stories, dan urban legend yang sangat akrab dengan masyarakat ke dalam film atau tafsir ulang gitu. Jadi ada direproduksi, dialihwanakan, dan ditafsir ulang tuh ada gitu."
Ladang cuan yang Disalahgunakan
Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, dengan banyaknya jumlah penonton yang menyukai genre ini dan banyaknya bahan untuk dikulik, maka tak sedikit sinemaker dan produser untuk beramai-ramai membuat film ini. Hal itulah yang akhirnya membuat begitu banyak film horor diproduksi dengan berbagai macam cerita dan pengemasan.
Sayangnya, banyak beberapa investor yang terjebak dengan selera pasar sehingga melupakan kreativitas dan ogah mencari inovasi baru. Sehingga banyak yang beranggapan kalau hal itu hanya sekedar ekspolitasi kisah mistis yang berlebihan, apalagi sudah menyentuh hal-hal yang dianggap sensitif bagi sebagian masyarakat.
Namun apakah benar mencari untuk itu disebut eksploitasi?
"Kalau sekadar mengumpulkan elemen bisnis itu kan ya enggak apa-apa," kata Hikmat. "Maksudnya kan apakah itu sama dengan eksploitasi? Eksploitasi itu pemerasan. Sebetulnya biasanya kalau di dalam kebudayaan itu ada, yang sekarang sering dimasalahkan itu lebih pada apropriasi ya. Jadi eksploitasi dalam bentuk apropriasi."
Hikmat pun juga menganggap bagus atau buruknya sebuah film itu pada akhirnya akan dinilai dari berbagai perspektif.
"Namanya PH kan cari untung. Iya dong. Saya sebagai kritikus justru hati-hati kok kalau ngomong bagus atau enggak. Saya nggak terlalu berangkat dari bagus atau enggak. Karena bagus itu apa? Kadang-kadang yang namanya bagus itu cuma pemaksaan selera kelompok sosial atau ekonomi tertentu. Sama kayak kelas menengah, kan? Iya kan? Bilang wah yang bagus itu kayak gini, itu kan belum tentu. Gitu kan? Karena kelas sosial yang beda-beda bisa jadi menghasilkan "bagusnya" mereka sendiri."
"Secara estetik maupun secara moral, itu yang barangkali masih pergulatan. Harusnya sih bisa lebih baik ya, gitu. Tapi kan juga, kita bisa anggap itu sebagai kontestasi."
Sementara itu, sutradara Anggy Umbara mencoba membela film horor karyanya yang sempat dianggap publik sebagai film yang hanya mengejar keuntungan tanpa memilkirkan nilai moral atau hal-hal buruk lain yang ditududhkan publik.
Masih ingat di benak ingatan penikmat film akan karya Anggy Umbara berjudul 'Vina Sebelum 7 Hari' yang diangkat dari kisah nyata namun berakhir dengan kritikan pedas. Salah satu film horor terlaris tahun 2024 ini diangkat dari kasus kriminal beberapa tahun sebelumnya di Cirebon.
Meski filmnya laku keras dan mendapatkan atensi publik karena dianggap kasus kriminal yang belum tuntas, film mendapat kritikan keras daripada sinemaker, influencer, dan kritikus film lain karena dianggap eksploitasi korban kekerasan dengan cara yang dianggap tak pantas.
"Setiap orang kan berhak memberikan pendapatnya, jadi ya fine-fine aja, silakan lakukan hak masing-masing, lagi pula kan setiap jiwa di bangsa Indonesia tidak bisa menghalangi hak orang lain," kata sutradara Anggy Umbara saat diwawancara Indozone dalam kesempatan tersebut.
Tentunya reaksi publik banyak yang pro kontra karena menganggap respons-nya sangat arogan. Hal ini dilakukan publik sebagai konsumen film agar karya-karya lain perlu memikirkan bagaimana film horor dikemas.
Inovasi Harga Mati
Sementara itu, beberapa film horor lain mendapatkan kritik lantaran filnnya tak memiliki inovasi. Salah satu contohnya dengan film dengan nuansa judul yang hampir sama, tema yang sama, bahkan poster yang sama, bahkan warna dan bentuk font dalam poster film.
Hal ini yang membuat banyak penonton yang merasa bahwa film horor akhirnya merasa bahwa tidak ada variasi atau inovasi dalam film. Tak jarang juga di ruang lingkupan seniman film juga menganggap para investor hanya berpikir untung tanpa mau berinovasi.
Hal-hal seperti ini yang berusaha dihindari oleh para sinemaker lain, termasuk rumah produksi Paragon Pictures. Adalah Robert Ronny, seorang produser film asal Indonesia yang telah sukses dengan rumah produksi miliknya yakni Legacy Pictures yang didirikan pada tahun 2015, dan Paragon Pictures pada tahun 2019 ini mencoba mencari inovasi dalam film horor yang akan digarap.
Salah satu film layar lebar yang sukses menyita perhatian para penonton garapan Robert Ronny berjudul "Kuasa Gelap", walaupun pada dasarnya, seorang produser berusia 47 tahun ini bukan penggemar genre horor. Namun ia mencoba mempelajari alasan di balik masyarakat Indonesia menyukai film horor dan cara berkreasi mencari film yang berbeda dari film horor yang sudah ada di Indonesia.
"Indonesia ini masyarakat yang sangat-sangat tahayul, percaya banget tentang unik, dari kecil selalu diceritakan tentang setan, jadi itu ada kedekatan secara kultural, mau dimanapun di setiap pengkolan di Indonesia itu selalu ada setannya, setiap daerah selalu punya cerita mistisnya sendiri, kalau teman-teman ngumpul, nganggur, pasti cerita setan,” ujar Robert Ronny saat diwawancarai Indozone.
"Jadi, memang Indonesia ini sangat-sangat suka dengan film horor karena memang sudah sesuai dengan kultur masyarakat kita. Sebenarnya, sampai kapanpun, orang pasti akan tetap suka dengan film horor,” jelasnya.
Ia pun tak menampik bahwa karena banyaknya penggemar film horor, maka banyak yang akan membuat film horor. Namun, justru harusnya beberapa sinemaker memikirkan inovasi apa yang harus ditaruh agar tidak sama atau itu-itu saja.
"Menurut saya iya sih, karena genre horor ini laku banget, dan para produser pasti akan memikirkan, mau bikin apa lagi ya, apalagi yang harus kita bikin secara berbeda dari film horor pada umumnya, kalau sudah minim film horor, ya bisa dibikin dengan yang lebih bagus, bikin sesuatu yang berbeda, itu sih. Tapi balik lagi, kita gak bisa ngelarang orang ya mau bikin film apa,” tutur Robert.
"Masalahnya, menurut saya sekarang terlalu banyak film horror dibikin, dan celakanya, cerita yang mirip-mirip, premisnya mirip-mirip, posternya pun mirip-mirip, judulnya mirip-mirip, pemainnya juga itu-itu saja, saya yakin penonton akan bosan sih, kalau kita tidak menawarkan sesuatu yang baru,” katanya.
Senada dengan Robert Ronny yang mencoba mencari inovasi untuk cerita horor yang kuat, sutradara Danial Rifki yang dikenal dengan genre drama dan thriller misteri mencoba lebih selektif menerima tawaran untuk menggarap film horor yang datang kepadanya.
Baca Juga: Horor! Seorang Pria Tertabrak Kereta Api dan Terseret hingga Ratusan Meter
"Saya beberapa kali mendapat tawaran horor. Seingat saya, dimulai sekitar 2018. Kenapa ya? Saya coba ingat-ingat. Mungkin karena sukses Pengabdi Setan? Sehingga saat itu horor Indonesia naik kelas? Tapi sayangnya, horor yang datang ke saya, (menurut saya) ceritanya kurang kuat. Selain juga, mungkin dari sayanya sendiri merasa tidak memiliki 'sense of horror' yang kuat. Sehingga merasa tidak bisa 'memperbaiki cerita' apabila dia datang setengah matang," kata Danial Rifky saat dihubungi Indozone dalam kesempatan yang berbeda.
Sutradara yang merasa lebih piawai menggarap genre thriller, mystery, atau detective story, menyukai jenis horor yang memiliki ide cerita yang unik dan tema yang kuat.
"Kalaupun saya harus menyutradarai 'Horor', mungkin akan menjadi horor-whodunit-action dengan feel 80s atau noir. Saya suka horor macam yang dibikin Sam Raimi (Drag me to hell), ada unsur action dan heroism nya. 'Stranger Things' membuat saya nonton berulang ulang, karena buat saya ini horor-adventure, dengan kedekatan masa rasa masa kecil saya. Saya juga suka horor James Wan, tapi saya tidak merasa punya sense 'menakut-nakuti' secara atmosferik, karena saya orangnya tidak mudah takut," kata sutrdara yang meyutradarai thriller kriminal "Rencana Besar" di salah satu platform streaming tersebut.
Tak hanya Inovasi, sinemaker Indonesia di genre ini diharapkan agar tak hanya kreatif dan mempunyai inovasi baru, tapi juga memiliki penulisan yang baik. Aspek teknis bisa diakali tapi penceritaan dan naskah juga sama-sama bagus, sehingga horor yang disuguhkan juga memiliki kesan dan bisa dibanggakan di negeri sendiri dan diperkenalkan ke masyarakat luas.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Wawancara, Liputan, Analisis Redaksi