INDOZONE.ID - Naturalisasi dalam sepak bola telah menjadi fenomena yang semakin umum diterapkan oleh negara-negara di seluruh dunia. Program naturalisasi ini untuk meningkatkan kekuatan tim nasional.
Indonesia salah satu negara yang gencar melakukan naturalisasi dalam beberapa tahun terakhir. Dengan naturalisasi, diharapkan performa Timnas Indonesia semakin membaik, di tengah talenta lokal yang belum memenuhi standar kompetitif yang diinginkan.
Namun, langkah ini juga sering kali menuai pro dan kontra, baik dari kalangan penggemar maupun pakar sepak bola.
Baca Juga: Prestasi Erick Thohir sebagai Ketua Umum PSSI dan Menteri BUMN Dipuji Waketum PAN
Anggota Komisi X DPR RI, Anita Jacoba kritik naturalisasi.
Belum lama ini, Anggota Komisi X DPR RI, Anita Jacoba Gah jadi sasaran kemarahan suporter Timnas Indonesia setelah mengkritik program naturalisasi PSSI.
Kritik itu dilontarkan Anita dalam saat kerja Komisi X DPR RI bersama Kemenpora dan PSSI untuk membahas permohonan kewarganegaraan Indonesia bagi beberapa pemain keturunan, yaitu Kevin Diks, Estella Loupatty, dan Noa Leatomu.
Kader Partai Demokrat itu mempertanyakan kebijakan PSSI yang selalu mengambil pemain dari luar negeri.
"Pertanyaan saya kenapa kita mesti ambil dari luar, tidak sekali ini beberapa kali. Mau sampai kapan ambil atlet dari luar?," kata Anita.
Lebih lanjut katanya, Indonesia memiliki segudang talenta potensial di bidang sepak bola. Sehingga kebijakan naturalisasi dinilai jadi penghalang bagi talenta lokal untuk berkembang.
"Kita tidak miskin atlet. Banyak atlet berbakat di sini. Mengapa harus selalu mengambil dari luar negeri?" ujarnya.
"Bukan sekali atau dua kali naturalisasi ini dilakukan. Sudah cukup sering, dan pertanyaannya, apa langkah konkret PSSI dan Kemenpora dalam melatih atlet-atlet kita?," tambahnya.
Kritikan Anita itu langsung menuai kemarahan pecinta sepak bola Tanah Air. Banyak yang menganggap Anita tidak paham dengan pentingnya naturalisasi dalam sepak bola.
Selain itu, Anita juga dinilai mendiskriminasi para pemain diaspora Indonesia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Antara, Amatan