INDOZONE.ID - Program food estate yang diimplementasikan di beberapa daerah Kalimantan Tengah (Kalteng) menjadi sorotan utama dalam dialog antara Ganjar Pranowo dan warga Kalteng di M Bahalap Hotel, Palangka Raya.
Warga menyampaikan keluhan terhadap program tersebut, menyebutnya gagal total dan menimbulkan dampak buruk, termasuk kebanjiran di beberapa wilayah.
Pendeta Bobowanto Victor, tokoh adat Dayak Kalteng, dengan tegas mengungkapkan ketidakpuasan warga terhadap program food estate di Gunung Mas.
Tanaman singkong yang diharapkan tumbuh hanya menghasilkan jagung, bahkan dengan buah yang sangat kecil. Bobowanto menyebut program ini terkesan asal-asalan dan meminta agar Ganjar meninjau ulang program tersebut.
Baca Juga: China Meminta Ukraina Menghapus Perusahaannya dari Daftar Sponsor Perang
"Sudah setahun lebih, hasilnya sekecil jari tangan. Setelah dikritik, malah diganti tanaman jagung dengan polibag. Aneh sekali," ungkapnya dengan rasa kekecewaan.
Lambang Jaya, warga Desa Paningkal Jaya, Kabupaten Kapuas, juga memberikan kesaksian serupa. Di desanya, food estate yang seharusnya ditanami sawit justru ditanami padi, mengakibatkan kegagalan panen.
Lambang memohon agar program ini dievaluasi jika Ganjar menjadi presiden. Ganjar Pranowo, mendengarkan keluhan dan masukan dari warga dengan seksama, mengakui kegagalan program food estate yang saat ini berjalan.
Ia menyatakan bahwa program tersebut kurang perencanaan matang dan seringkali tidak melibatkan ahli dan petani.
Baca Juga: Babinsa Korban Perahu Terbalik saat Mancing di Perairan JMP Ambon Ditemukan Meninggal Dunia
"Saya sepakat dengan program food estate sebagai upaya ketahanan pangan kita. Tapi ini harus dievaluasi. Kuncinya satu, libatkan ahli dalam pemilihan lahan dan libatkan petani untuk mengerjakan," ucap Ganjar.
Menyoroti kegagalan food estate Gunung Mas, Ganjar menegaskan bahwa kesalahan terbesar adalah tidak melibatkan petani dan masyarakat setempat dalam perencanaan.
Pemilihan lahan yang tidak tepat dan kesalahan pemilihan komoditas pertanian menjadi faktor utama kegagalan program.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Press Release