INDOZONE.ID - Cinta yang datangnya terlalu deras tidak berarti bisa sepenuhnya diartikan cinta yang serius. Bisa jadi kamu kena manipulasi atau yang biasa disebut dengan love bombing.
Dalam definisi singkatnya, love bombing adalah cinta yang terlihat terlalu sempurna dan intens, tapi di baliknya ada korban yang ditipu hatinya, bahkan mental, finansial, dan masa depan.
Menurut Detektif Jubun, detektif swasta Indonesia yang kerap menangani kasus penipuan asmara, intensitas berlebihan di awal hubungan justru patut dicurigai.
“Love bombing bisa tampak seperti cinta yang intens, tetapi dalam banyak kasus justru merupakan teknik manipulasi,” ungkap Jubun saat diwancara Indozone.
Baca juga: Viral Sindikat Begal Berkedok Asmara di Bekasi, 5 Pelaku Berhasil Ditangkap!
Cinta yang Meledak Terlalu Cepat
Love bombing bukan soal seberapa besar rasa suka, melainkan seberapa cepat hubungan dipaksa terasa dekat. Pelaku biasanya membanjiri korban dengan perhatian, pujian, dan janji masa depan sejak fase awal perkenalan.
“Polanya hampir selalu sama: perhatian berlebihan di awal untuk mempercepat kelekatan emosional, lalu diikuti kontrol, permintaan, atau agenda tersembunyi,” jelas Jubun.
“Cinta sehat tumbuh perlahan. Love bombing itu meledak seperti kembang api—terang sebentar, lalu habis.”
Bermula dari Hubungan Daring
Berdasarkan kasus yang ditangani, Jubun menyebut mayoritas love bombing berawal dari hubungan online—media sosial, aplikasi kencan, hingga platform pesan instan.
Baca juga: Viral Pria Tewas Usai Ditikam Bagian Leher di Jakut, Asmara Diduga Jadi Pemicu
“Pelaku sangat agresif. Baru kenal beberapa hari sudah memberi pujian ekstrem, bicara soal masa depan, bahkan menyebut ‘jodoh’,” katanya.
Targetnya pun cukup spesifik. Mayoritas klien yang melapor adalah perempuan usia 30–55 tahun, meski tidak menutup kemungkinan laki-laki juga menjadi korban.
Banyak korban yang menganggap ini aib dan akhirnya lebih memilih minta bantuan ke detektif swasta.
Ciri Pelaku Love Bombing
Dari berbagai kasus, Detektif Jubun merangkum pola umum yang sering digunakan pelaku, antara lain:
- Mengaku sebagai profesional mapan atau duda/janda untuk membangun kepercayaan,
- Menciptakan krisis palsu, seperti masalah bisnis, kesehatan, atau pajak,
- Mengarahkan korban untuk transfer uang, ikut investasi fiktif, atau meminjamkan rekening.
- Skemanya rapi dan emosional. Korban dibuat merasa menjadi “satu-satunya orang yang bisa menolong”.
“Singkatnya, hati dibuat hangat, dompet dibuat dingin,” ujar Jubun lugas.
Waspada Cinta yang Terlalu Sempurna
Love bombing sering lolos karena dibungkus romantisme. Tidak sedikit korban merasa bersalah karena curiga pada pasangan yang terlihat begitu perhatian.
Baca juga: Siswa SD Bunuh Diri di NTT, KPAI Ungkap Fakta Mengejutkan
Padahal, kecepatan dan intensitas yang tidak wajar justru menjadi alarm utama.
Pesan Jubun sederhana tapi penting: jangan terburu-buru mempercayai orang yang baru dikenal, terutama jika sudah melibatkan uang, identitas pribadi, atau keputusan besar dalam waktu singkat.
Karena dalam hubungan yang sehat, cinta tidak memaksa—ia memberi ruang untuk tumbuh.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Wawancara