Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Sabtu, 07 FEBRUARI 2026 • 15:57 WIB

Siswa SD Bunuh Diri di NTT, Sekolahnya Diduga Pungut Sumbangan Rp1 Juta per Anak

Siswa SD Bunuh Diri di NTT, Sekolahnya Diduga Pungut Sumbangan Rp1 Juta per AnakIlustrasi anak kecil murung. (Freepik)

INDOZONE.ID - Siswa SD kelas IV di Nusa Tenggara Timur (NTT) bunuh diri pada Kamis 29 Januari 2026. Kini, sekolah tempatnya menimba ilmu diduga memungut sumbangan Rp1 juta per anak.

Anggota Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Diyah Puspitarini, mengungkap dugaan tersebut. Ia menyebut uang itu disepakati oleh sekolah dan komite.

Siswa SD Bunuh Diri di NTT, Sekolahnya Diduga Pungut Sumbangan Rp1 Juta per AnakKomisioner KPAI, Diyah Puspitarini. (ANTARA/Azmi Samsul M)

"Memang ada sumbangan yang senilai Rp1 juta dan itu adalah sumbangan yang disepakati oleh sekolah dan komite. Uang ini uang komite," kata Diyah saat dihubungi di Jakarta, dikutip dari ANTARA, Sabtu (7/2/2026).

Selain itu, pihak sekolah pun diduga mengumumkan nama anak-anak yang belum membayar sumbangan tersebut.

Diyah menyatakan KPAI meminta Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk mengecek informasi ini.

Ia menjelaskan juga, bahwa pihaknya akan mengkonfirmasi kepada para orang tua siswa perihal informasi ini.

"Meskipun informasi dari sekolah tidak ada pembicaraan (sumbangan) di depan anak, kami meminta Kemendikdasmen untuk mengecek kebenaran itu. Kami juga minta konfirmasi kepada orang tua karena pihak orang tua menyampaikan bahwa ada pengumuman siapa anak yang belum membayar," jelasnya.

Baca juga: Siswa SD Bunuh Diri di NTT, KPAI Ungkap Fakta Mengejutkan

Kronologi Siswa SD di NTT Bunuh Diri

Sementara itu, kisah pilu siswa SD di NTT yang membuat publik sedih ini, terjadi pada akhir Januari lalu. 

Kamu harus tahu, korban merupakan satu dari lima bersaudara, anak seorang ibu berinisial MGT (47). 

Namun, dia tinggal dengan sang nenek di Karadhara, Desa Nenowea, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada.

MGT merupakan orang tua tunggal karena sang suami pergi merantau dan tidak pernah kembali. Untuk hidup, MGT bekerja sebagai petani hingga melakoni berbagai pekerjaan serabutan lain.

Kejadian nahas ini bermula pada Rabu 28 Januari 2026, malam WITA, saat korban menginap di rumah sang ibu, di desa tetangga.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Antara

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Siswa SD Bunuh Diri di NTT, Sekolahnya Diduga Pungut Sumbangan Rp1 Juta per Anak

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!