Sabtu, 26 APRIL 2025 • 18:09 WIB

3 Fakta Ribuan Orang Sambut Peti Paus Fransiskus yang Dikeluarkan untuk Pemakaman

Author

Peti mati Paus Fransiskus dibawa ke Lapangan Santo Petrus untuk pemakamannya, di Vatikan, pada 26 April 2025.

INDOZONE.ID - Lautan manusia memadati Lapangan Santo Petrus, Vatikan pada Sabtu (26/4) untuk menghadiri pemakaman Paus Fransiskus, pemimpin Gereja Katolik pertama asal Amerika Latin yang dikenal dekat dengan kaum miskin.

Sejak malam sebelumnya, ribuan peziarah sudah memadati area sekitar Basilika Santo Petrus, berharap mendapatkan tempat terbaik. Polisi memperkirakan sekitar 150.000 orang telah memadati lapangan dan jalanan sekitarnya bahkan sebelum misa pemakaman dimulai pukul 10 pagi waktu setempat.

Suasana penuh haru berubah menjadi tepuk tangan meriah iringi peti jenazah Paus Fransiskus saat peti beliau dibawa keluar dari Basilika menuju lapangan. Ribuan orang bertepuk tangan saat peti Paus Fransiskus keluar, menciptakan momen mengharukan yang tidak akan terlupakan.

Baca Juga: Jenazah Paus Fransiskus Disemayamkan di Basilika Santo Petrus untuk Penghormatan Terakhir

Lebih dari 50 kepala negara turut hadir untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Paus asal Argentina yang wafat pada usia 88 tahun, termasuk Presiden Argentina Javier Milei, Pangeran William dari Inggris, dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, yang dikabarkan sempat bertemu Presiden AS Donald Trump di sela-sela acara.

Selama 12 tahun masa kepemimpinannya, Paus Fransiskus berupaya membawa Gereja Katolik menjadi lebih inklusif, membuat kepergiannya memicu duka di seluruh dunia.

"Beliau bukan sekadar seorang paus, tapi cerminan sejati dari arti menjadi manusia," ungkap Andrea Ugalde, 39 tahun, yang terbang dari Los Angeles untuk menghadiri misa pemakaman.

Baca Juga: 9 Nama Tokoh yang Disebut Jadi Kandidat Kuat Pengganti Paus Fransiskus

Pengamanan Ketat di Tengah Lautan Umat

Umat memadati Lapangan Santo Petrus untuk pemakaman Paus Fransiskus, di Vatikan, pada 26 April 2025.

Otoritas Italia dan Vatikan menerapkan pengamanan tingkat tinggi untuk acara ini. Jet tempur siaga di udara, sementara para penembak jitu ditempatkan di atap-atap gedung sekitar Kota Vatikan.

Meski begitu, suasana di lapangan terasa hening dan khusyuk. Umat yang hadir menyaksikan jalannya upacara melalui layar-layar raksasa yang dipasang di berbagai sudut.

Suasana pemakaman Paus Fransiskus di Vatikan begitu penuh emosional. Banyak umat yang meneteskan air mata ketika melihat peti jenazah dibawa melewati mereka.

"Kami bermalam di mobil bersama anak-anak demi bisa hadir di sini," kata Gabriela Lazo, 41 tahun, asal Peru. "Kami sangat berduka karena kami merasa memiliki Paus dari Amerika Selatan di hati kami."

Pemakaman ini menjadi awal dari sembilan hari masa berkabung resmi di Vatikan. Setelah masa berkabung berakhir, para kardinal akan menggelar konklaf untuk memilih Paus baru bagi 1,4 miliar umat Katolik di seluruh dunia.

Ajang Diplomatik Dunia

Kepemimpinan Paus Fransiskus tidak selalu mulus. Beberapa reformasinya menuai kritik dari kalangan konservatif, sementara pandangannya soal isu-isu sosial seperti perlindungan migran dan perubahan iklim membuat sejumlah pemimpin dunia gerah.

Namun, di mata banyak orang, kepedulian dan karismanya justru membuatnya sangat dihormati.

Presiden Donald Trump, yang sebelumnya sempat berselisih dengan Paus karena kebijakan deportasi massal, tiba di Vatikan bersama Ibu Negara Melania pada Jumat malam untuk memberikan penghormatan. Trump menyebut Paus Fransiskus sebagai "pribadi baik" yang "mencintai dunia".

Trump, yang melakukan perjalanan luar negeri pertamanya di masa jabatan keduanya, bergabung dengan sederet pemimpin dunia lain, termasuk mantan Presiden AS Joe Biden, Sekjen PBB Antonio Guterres, Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni, Presiden Prancis Emmanuel Macron, dan perwakilan dari Lebanon.

Sementara itu, Israel hanya mengirimkan duta besarnya untuk Takhta Suci, menyusul ketegangan terkait kritik Paus terhadap operasi militer di Gaza. China, yang tidak memiliki hubungan diplomatik resmi dengan Vatikan, tidak mengirimkan perwakilan.

Pemakaman Sederhana, Sesuai Kehidupan Paus

Paus Fransiskus wafat akibat stroke dan gagal jantung, hanya beberapa minggu setelah dirawat karena pneumonia.

Semasa hidup, beliau dikenal senang berada di tengah umat, kerap berfoto bersama dan mencium bayi dalam setiap kunjungannya. Ia memilih fokus ke wilayah-wilayah pinggiran dibandingkan pusat-pusat utama Katolik.

Satu hari sebelum meninggal, beliau sempat memberikan berkat Paskah kepada dunia, sebuah tindakan yang mencerminkan semangat pelayanan yang konsisten sejak awal masa kepausannya.

Mengikuti jejak Santo Fransiskus dari Assisi, beliau menginginkan "Gereja yang miskin untuk kaum miskin", sehingga menolak menggunakan jubah megah dan memilih tinggal di wisma tamu Vatikan daripada istana kepausan.

Momen peti Paus Fransiskus dikeluarkan untuk pemakaman di Vatikan menjadi simbol sederhana namun mendalam akan hidupnya yang penuh dedikasi.

Tak heran jika penghormatan ribuan orang pada pemakaman Paus Fransiskus terasa begitu tulus.

Ribuan umat dari berbagai belahan dunia berkumpul, meneteskan air mata, dan memberikan tepuk tangan panjang dalam perpisahan terakhir dengan sosok pemimpin yang begitu mereka cintai.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Channelnewsasia.com

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU